Oleh: ANDRE YURIS | Oktober 23, 2009

SEMIOTIKA DALAM STUDI KOMUINIKASI VISUAL

SEMIOTIKA DALAM STUDI KOMUINIKASI VISUAL
(disarikan dari tulisan:Sumbo Tinarbuko,Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR-ISI Yogyakarta, Ketua LSK Deskomvis: Penelitian, Perancangan, dan,Konsultan Desain Komunikas Visual)

Umberto Eco_jamesaubrey.typepad.com-andreyurisSemiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Keberadaannya mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian berkembang pula dalam bidang desain dan seni rupa.

Semiotika berasal dari kata Yunani semeion, yang berarti tanda. Ada kecenderungan bahwa manusia selalu mencari arti atau berusaha memahami segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dan dianggapnya sebagai tanda. Penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan-dalam hal ini desain komunikasi visual dimungkinkan, karena menurut Yasraf A. Piliang ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Artinya, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial.

Bertolak dari pandangan semiotika tersebut, jika seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya–termasuk karya-karya desain komunikasi visual – dapat juga dipandangsebagai tanda-tanda. Hal itu dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri.Ferdinand de Saussure merumuskan tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak bisa dipisahkan – seperti halnya selembar kertas – yaitu bidang penanda ( signifier) atau bentuk dan bidang petanda (signified): konsep atau makna. Baca Lanjutannya…

Oleh: ANDRE YURIS | Oktober 15, 2009

Viva Red Devils

Oleh: ANDRE YURIS | September 11, 2009

OSPEK YANG DEWASA

uilama
Risih rasanya menyaksikan orientasi pengenalan kampus (OSPEK) kepada mahasiswa baru di salah satu kampus swasta di Surabaya beberapa waktu lalu. Dibawah terik matahari, sekelompok mahasiswa lengkap denga topi petani, tas karung goni dan tanda nama seukuran kertas A3, berbaris terpisah dari mahasiswa baru lainya. Mereka ini dinyatakan melanggar peraturan kedisiplinan yang ditetapkan panitia. Lantas mereka menjadi bulan-bulanan bentakan dan keisengan panitia di saksikan mahasiswa lama yang ikut menyoraki.

Secuil pemandangan OSPEK diatas, perlu diakui masih dimudah ditemui kampus-kampus. Menghukum atau mengisengi calon mahasiswa seolah-olah menjadi pola wajib dan dipraktikan setiap tahun. Masa orientasi kampus pun kehilangan substansi dan motivasi, hanya menjadi sekadar rutinitas tahun ajaran belaka. Bahkan lebih jauh, masa orintesi seolah mejadi masa balas dendam, karena merasa pernah di perlakukan sama.

Pembentukan Citra Diri
Salah satu alasan yang ditemukan dari panitia untuk membenarkan pembentakan dan hukuman ini adalah agar para mahasiswa baru menjadi pribadi yang kuat dan mampu menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa. Alasan ini seyognya baik, namun metode yang dipilih kadang tidak tepat bila diterapkan pada calon mahasiswa, sehingga proses belajar mengenali lingkungan kampus dan pembentukan citra diri akhirnya tidak berlansung baik malah kontraproduktif.

Para mahasiswa baru yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly dan Brodzinski (1993) menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran orang dewasa. “Youth age is an ‘optional’ period of development in which an individual is legally an adult but has not yet undertaken adult work and roles, (1993:396).” demikian dituliskan.

Pada fase ini dapat dikatakan bahwa calon mahasiswa berada pada tahapan belajar serta peralihan citra diri. Perubahan citra diri siswa sekolah menengah menjadi mahasiswa. Dan hal yang paling penting adalah mereka belajar dan beralih menjadi pribadi-pribadi dewasa. Bila masa OSPEKditempatkan sebagai salah satu proses peralihan dan belajar, sudah seyognya pihak kampus memperlakukan mereka dengan cara pembelajaran orang dewasa. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori