NEKA HEMONG, KUNI AGU KALO, adalah sebuah ungkapan budaya Manggarai yang berarti ‘ Jangan melupakan tanah tempat kelahiran”. Ungkapan ini juga merupakan sebuah pesan yang ditujukan lintas generasi, agar selalu ingat akan budaya, adat istiadat, leluhur dan sanak saudara walaupun hidup secara terpisah. Pesan ini dimasa sekarang perlu kembali diaktualkan, mengingat banyaknya generasi manggarai khususnya( bisa berlaku bagi generasi indonesia juga) kerap melupakan identitasnya. Krisis identitas, begitulah gambaran popularnya. Krisis identitas ditandai dengan belakunya relativisme dalam berbagai hal, termasuk didalamnya budaya. Relativisme secara mudah dapat dipahami sebagai sikap maupun pola pikir yang menggampangkan, menyamanratakan dan acuh terhadap subtansi serta lebih memementingkan tampilan saja. Sikap “asal” yang menjadi salah satu ciri relativisme jadi trend dewasa ini. Banyak yang mencurigai media masa, modernisasi sebagai biangnya. Walaupun duahal itu juga berperan penting, namun yang menjadi penting untuk disadari adalah semuanya bersumber dari ” lemahnya transformasi dan internalisasi nilai-nilai utama dalam hidup berbudaya”. (andre yuris) sekian…nanti bersambung…..>
PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI UNTUK MASA PRAPASKAH 2012
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik“ (Ibr 10:24).TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN
Kekerasan yg tiap hari kita saksikan dilayar TV media lainya adalah percikan tanda-tanda jaman yang mengisyaratkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sedang sakit. Prilaku tidak beradab yang masif dan marak adalah tanda ketiadaan panutan publik. Tidak adanya panutan moral yang seharusnya lahir dari para pemimpin bangsa. Drama kekerasan simbolik dan realistik yang mereka pamerkan dimedia masa (khususnya televisi) menjadi picu kekersan fisik yang terjadi digrassroot. Kalau pemimpinnya hanya bilang prihatin, maka anak buahnya pasti kami juga prihatin, kalau pemuka-nya mengajarkan “kelompok tetertu adalah musuh dan sesat” maka tidak heran pengikutnya memburu dan membunuh” kelompok lainnya. Solusinya hanya senderhana ” bertindaklah sebaliknya”, maka semuanya pasti tidak terjadi.
Bila berkaca pada masa lalu, ada fase kekerasan yang dilalui bangsa indonesia. Sejak jaman kerajaan nusantara, penjajahan, prakemerdekaan hingga paska reformasi ada fenomena kekerasan. Yang membedakannya adalah alasan yang dilekatkan atas tindakan kekerasan tertentu. Alasan mempertahankan diri, kemerdekaan bahkan alat pelanggengan kekuasaan politik dan ekonomi seperti yang terjadi dari masa orde lama hingga orde baru. Pada masa sekarang khususnya pada pemerintahan SBY, modus tidakkan kekerasan baik yang dilakukan masyarakat maupun aparat menjadi sangat tidak terdefinisikan. Tidak terdefinisikan lataran lahir dari hal yang paling serius hingga paling sepele, yang ironisnya penyelesainya pun tidak jelas. Pada titik penyelesaian konflik akhir-akhir ini menjadi tidak jelas karena bias pemberitaan media dan proses hukum yang tidak jelas. Bila trend kekerasan terus berlangsung ini adalah dampak dari ketidakjeasan tersebut, lucunya dalam situasi ini pemerintah absen dari tugasnya jadi pendamai. Continue reading
SEKEDAR SALAM BUAT PAK BEYE
Sekedar Mengingatkan kita tentang kebohongan yang telah dilakukan dua perode pemerintahan SBY. Ada kebohongan lama (fase awal kepemimpinan SBY) dan Kebohongan Baru (fase kedua pemerintahan SBY). Butir-butir kebohongan inilah, disuarakan oaleh apara pemimpin lintas agama tahun lalu di Jakarta. Hal ini saya ingatkan kembali bukan menggali luka lamam tapi hanya mengingatkan agar pak SBY dan koleganya memperhatikan janji yang telah dibuat. Rakyat belum bosan dengan janji, tapi bosan dengan pemimpin yang kerap ingkar janji.
Sembilan kebohongan lama tersebut antara lain:
- Pertama pemerintah mengklaim bahwa pengurangan kemiskinan mencapai 31,02 juta jiwa. Padahal dari penerimaan beras rakyat miskin tahun 2010 mencapai 70 juta jiwa dan penerima layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas) mencapai 76,4 juta jiwa.
- Kedua, Presiden SBY pernah mencanangkan program 100 hari untuk swasembada pangan. Namun pada awal tahun 2011 kesulitan ekonomi justru terjadi secara masif.
- Ketiga, SBY mendoronga terobosan ketahanan pangan dan energi berupa pengembangan varietas Supertoy HL-2 dan program Blue Energi. Program ini mengalami gagal total.
- Keempat, Presiden SBY melakukan konferensi pers terkait tragedi pengeboman Hotel JW Mariot. Ia mengaku mendapatkan data intelijen bahwa fotonya menjadis asaran tembak teroris. Ternyata foto tersebut merupakan data lama yang pernah diperlihatkan dalam rapat dengan Komisi I DPR pada tahun 2004.
- Kelima, Presiden SBY berjanji menuntaskan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir sebagai a test of our history. Kasus ini tidak pernah tuntas hingga kini.
- Keenam, UU Sistem Pendidikan Nasional menuliskan anggaran pendidikan harus mencapai 20% dari alokasi APBN. Alokasi ini harus dari luar gaji guru dan dosen. Hingga kini anggaran gaji guru dan dosen masih termasuk dalam alokasi 20% APBN tersebut.
- Ketujuh, Presiden SBY menjanjikan penyelesaian kasus lumpur Lapindo dalam Debat Calon Presiden Tahun 2009. Penuntasan kasus lumpur Lapindo tidak mengalami titik temu hingga saat ini.
- Kedelapan, Presiden SBY meminta semua negara di dunia untuk melindungu dan menyelamatkan laut. Di sisi lain Presiden SBY melakukan pembiaran pembuangan limbah di Laut Senunu, NTB, sebanyak1.200 ton dari PT Newmont dan pembuangan 200.000 ton limbah PT Freeport ke sungai di Papua.
- Kesembilan, tim audit pemerintah terhadap PT Freeport mengusulkan renegosiasi. Upaya renegosiasi ini tidak ditindaklanjuti pemerintah hingga kini. Continue reading
MENCARI SOSOK TIONGHOA INDONESIA
Ditulis oleh Stevanus Subagijo dan dimuat di SUARA PEMBAHARUAN 2006.
TAHUN Baru Imlek 2557 berdasarkan kalender jatuh pada 29 Januari 2006 (Tahun Anjing Api). Sambutan luar biasa perayaan Tahun Baru Cina, Imlek atau Sin Cia – dengan salam Gong Xi Fat Cai marak di berbagai media dan mal. Berbagai asesoris seperti pakaian, kartu ucapan, amplop ang pao, lampion, kue keranjang, musik mandarin, sarana upacara ritual menjadi simbol eksistensi kalangan Tionghoa yang 30 tahun lebih mengalami represi budaya. Imlek menjadi puncak legitimasi dari pernik budaya seperti liong-barongsai, wayang potehi, media berbahasa mandarin, parpol Tionghoa sampai soal feng shui.
Apalagi Imlek oleh pemerintah sudah ditetapkan menjadi hari libur nasional. Namun ditengah kemeriahan Imlek, bagaimana dengan sosok Tionghoa Indonesia sendiri. Apakah sosok Tionghoa Indonesia juga mengalami kebaruan demi kebaruan dari waktu ke waktu ? Berikut kita coba cermati sosok Tionghoa yang berbeda dari analisa akademis.
Periode Mei Lan-Ahong
Sosok Tionghoa Indonesia pertama sangat kuat dicitrakan dengan tokoh Mei Lan dalam film boneka si Unyil, Ahong dalam sinetron Si Doel Anak Betawi atau dalam aktor lawak yang memerankan seorang Tionghoa. Tionghoa dalam periode ini tetap menjadi seorang yang asing dalam budaya lokal yang melingkupi. Sesuatu yang asing dengan demikian mempunyai banyak perbedaan bahkan pertentangan. Tak heran selalu ada saja yang ditertawakan seperti logat bicara, kesulitan mengucapkan huruf r (cedal/celat). Tentu saja stereotip tentangnya juga ditonjolkan seperti kaya tapi kikir dan berorientasi pada keuntungan atau uang. Tionghoa seperti seorang perantau yang mampir dalam komu- nitas budaya lokal yang berbeda.
Dalam periode Mei Lan-Ahong ini tidak ada pilihan lain bagi Tionghoa kecuali berbaur dengan masyarakat yang melingkupinya. Tionghoa yang eksklusif akan dicitrakan buruk (biasanya digambarkan dengan tidak mau ikut ronda atau siskamling), sedangkan mereka yang inklusif dan mau berbaur dihargai. Tak heran pada periode ini dikalangan Tionghoa dikenal pameo, dudu cino nek durung njawani (belum menjadi China kalau belum bisa bersikap seperti orang Jawa).
Di Bandung pernah muncul istilah cina tapi nyunda (China tapi seperti orang Sunda). Upaya untuk membaur terutama juga disokong oleh kebijakan rezim Orba. Tak heran banyak Tionghoa dituntut juga mengganti nama tiga suku katanya dengan nama Indonesia. Namun identitas ketionghoaannya masih dipertahankan minimal bisa ditandai. Tionghoa marga Oey misalnya yang dilafalkan uwi/wi memakai nama Indonesia Wijaya, Wiyono. Lim menjadi Salim, Halim. The menjadi Tejo atau Teguh. Bahkan marga yang jarang didengar, seperti Ang menjadi Anggono. Continue reading
