Oleh: ANDRE YURIS | Januari 31, 2010

Ramalan Katastrofa, Keresahan Massa, Dan Dominasi Pasar

By Fr. Fian Roger, CMF

“…untuk menjadi bijaksana kamu harus mengosongkan pikiran, (seperti mengosongkan cangkir untuk diisi teh),”kata seorang Bhiksu tua kepada Bhiksu muda dalam salah satu adegan Film 2012.

Sinyal Awal
Akhir-akhir ini banyak isu yang meramalkan sebuah katastrofa masa depan. Katastrofa merupakan sebuah malapetaka akbar yang sifatnya tiba-tiba dan besar. Dapat diartikan juga sebagai perubahan yang hebat pada permukaan bumi. Istilah ini berasal dari kosa kata Bahasa Yunani katastrophé atau katasthrephein(kata: turun, strephein: kembali). Kalau diterjemahkan secara bebas berarti terjungkir balik, luluh lantak(W. Morris, The American Heritage Dictionary of English Language, 1978, p. 211). Sedangkan ramalan(prophecy) sama artinya dengan penujuman. Prophesy berasal dari kata prophetetia(Latin), prophetes(Yunani) yang berarti penujuman akan apa yang belum terjadi(ibid, p. 1049). Ramalan berarti prediksi atas masa depan baik itu menyangkut peristiwa maupun siklus hidup. Jadi, ramalan katastrofa merupakan sebuah penujuman akan situasi kehancuran, keluluhlantakan, yang bergerak dalam bandulan ketidakpastian dan kekacauan pada masa depan.

Isu-isu itu kemudian menjelma dalam berbagai ‘fiksi ilmiah’, misalnya lewat produk film. Film-film itu misalnya, 2012, Deep impact, dan Armagedon, dan lain-lain. Salah satu yang laris manis adalah film 2012. Film pentolan Columbia Pictures ini terinspirasi perhitungan kalenderium suku maya dimana diceritakan tentang katastrofa 21/12/2012 yang akan mengakibatkan kehancuran akbar dan massal. Sistem Kalender Maya yang menggunakan perhitungan panjang akan berakhir pada 21/12/2012. Perhitungan itu dibuat berdasarkan siklus yang tampak pada keteraturan pemunculan obyek langit. Pada waktu itu akan terjadi winter solstice, dimana Matahari mencapai titik paling selatan pada garis edar semu tahunannya di belahan bumi utara(Kompas, 3 Januari 2010). Setelah pemutaran film ini beberapa waktu yang lalu ramalan kiamatpun kian merambat. Berbagai prediksi menguak. Berbagai klaim baik itu yang “ilmiah” maupun yang sifatnya spiritualisme mistik berkecambah. Padahal menurut para ahli yang kompeten, awal dan akhir satu sistem kalender itu lumrah dan untuk sementara belum ada bukti-bukti ilmiah yang memadai untuk membuktikan ramalan itu. Baca Lanjutannya…

Oleh: ANDRE YURIS | Januari 20, 2010

Pansus dan Keadaban Publik

Pansus dan Keadaban Publik
Rabu, 20 Januari 2010 | 04:27 WIB
Azyumardi Azra

ANTASARI SETELAH MENJALANI PERSIDANGAN

Hiruk-pikuk politik yang muncul dari kiprah dan polah Pansus Hak Angket DPR untuk skandal Bank Century telah menimbulkan sikap ambigu di kalangan publik.
Pada satu pihak, ada masyarakat yang senang dengan pengungkapan berbagai pengakuan para saksi. Namun, pada saat yang sama terdapat kalangan publik yang prihatin dan kritis terhadap tingkah polah anggota-anggota tertentu Pansus yang mereka pandang sudah melanggar kepatutan, atau ”kesantunan politik”, dalam istilah Tajuk Rencana Kompas (14/1/10).
Memang, banyak hal yang, menurut kalangan publik, tidak patut dilakukan oleh kalangan anggota Pansus DPR. Mulai dari pertanyaan bernada interogatif dan menghardik, tidak memberikan kesempatan kepada para saksi menyelesaikan kalimatnya, atau penyebutan saksi dengan gelar budaya yang tidak pada tempatnya, sampai kepada adu mulut dengan kata- kata kasar dan makian di antara anggota Pansus sendiri.
Semua tingkah polah yang tidak patut ini secara instan ditonton publik, yang memperlihatkan tidak hanya kekisruhan dalam proses bail out Bank Century, tetapi juga sekaligus kualitas pribadi dan moral anggota DPR bersangkutan. Padahal, seperti ditulis dalam Tajuk Rencana Kompas, ”kesantunan politik” sangat penting untuk kehormatan anggota DPR sendiri ataupun untuk pembelajaran bagi masyarakat.
Meski demikian, dalam batas tertentu sikap keras, lugas bernada interogatif beberapa anggota Pansus agaknya bisa dipahami. Sebab, jika dalam bertanya datar-datar saja, mereka bisa dianggap sebagian kalangan sebagai ”melempem” atau bahkan telah melakukan ”dagang sapi”. Akibatnya, mereka dapat kehilangan simpati dan popularitas pada konstituen dan masyarakat. Di sini, para anggota Pansus berada dalam posisi dilematis.
Keadaban publik demokratis Baca Lanjutannya…

Oleh: ANDRE YURIS | Januari 18, 2010

Demokrasi Tak Hormat Kata

<a href="Demokrasi Tak Hormat Kata“>Triyono Lukmantoro

Hormat terhadap kata merupakan hukum pertama yang menjadikan seseorang matang, baik secara intelektual, emosional, maupun moral.

Dag Hammarskjold (1905-1961), sebagaimana dikutip James A Jaksa dan Michael S Pritchard (Communication Ethics, 1994), menyatakan betapa kata-kata mampu mengikat masyarakat bersama-sama, hingga terjaga kualitasnya.

Pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) periode 1953-1961 tersebut sungguh signifikan jika dikaitkan dengan pelaksanaan demokrasi di negeri ini. Tanpa dapat disangkal, demokrasi kita berjalan cepat pada keleluasaan untuk berbicara. Perdebatan dan demonstrasi menjadi fenomena harian. Namun, persoalan yang acap diabaikan adalah kalangan aktor demokrasi tidak pernah menghiraukan arti penting kata-kata.

Kata-kata sekadar dimaknai sebagai instrumen bahasa. Kata-kata pun meluap menjadi sebentuk ekspresi kemarahan. Bahkan, kata-kata bukan saja tidak dihormati, melainkan telah dilecehkan. Akibatnya, umpatan dan caci-maki menggerus kejernihan argumentasi. Boleh saja fenomena itu dianggap sebagai sebuah fragmen dalam teater politik, tetapi capaian yang mampu direngkuh tidak lebih dari retorika intrik yang sama sekali tidak mendidik, bahkan menghancurkan makna substansial demokrasi sendiri.

Kenyataan itu terjadi pada saat beberapa anggota Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century mengemukakan aneka pertanyaan kepada pihak-pihak yang diposisikan sebagai saksi. Nada berbicara yang tinggi, intonasi yang terkesan penuh gertakan, dan pilihan kata yang cenderung menyudutkan sering berhamburan. Bukan pada persoalan para saksi yang diajukan itu adalah pejabat tinggi negara; sehingga kata-kata yang dikemukakan harus menunjukkan watak ketertundukan dan penuh nilai rasa penjilatan. Namun, saksi-saksi tetaplah pihak yang mengemukakan testimoni, bukan sekumpulan pesakitan yang sengaja dipasang sebagai obyek caci-maki. Hal yang lebih buruk lagi adalah di antara para anggota Pansus sendiri terlibat dalam saling sanggah sehingga mereka menampilkan diri sebagai kerumunan politisi yang pongah. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori