“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik“ (Ibr 10:24).
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik“ (Ibr 10:24).
Kekerasan yg tiap hari kita saksikan dilayar TV media lainya adalah percikan tanda-tanda jaman yang mengisyaratkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sedang sakit. Prilaku tidak beradab yang masif dan marak adalah tanda ketiadaan panutan publik. Tidak adanya panutan moral yang seharusnya lahir dari para pemimpin bangsa. Drama kekerasan simbolik dan realistik yang mereka pamerkan dimedia masa (khususnya televisi) menjadi picu kekersan fisik yang terjadi digrassroot. Kalau pemimpinnya hanya bilang prihatin, maka anak buahnya pasti kami juga prihatin, kalau pemuka-nya mengajarkan “kelompok tetertu adalah musuh dan sesat” maka tidak heran pengikutnya memburu dan membunuh” kelompok lainnya. Solusinya hanya senderhana ” bertindaklah sebaliknya”, maka semuanya pasti tidak terjadi.
Bila berkaca pada masa lalu, ada fase kekerasan yang dilalui bangsa indonesia. Sejak jaman kerajaan nusantara, penjajahan, prakemerdekaan hingga paska reformasi ada fenomena kekerasan. Yang membedakannya adalah alasan yang dilekatkan atas tindakan kekerasan tertentu. Alasan mempertahankan diri, kemerdekaan bahkan alat pelanggengan kekuasaan politik dan ekonomi seperti yang terjadi dari masa orde lama hingga orde baru. Pada masa sekarang khususnya pada pemerintahan SBY, modus tidakkan kekerasan baik yang dilakukan masyarakat maupun aparat menjadi sangat tidak terdefinisikan. Tidak terdefinisikan lataran lahir dari hal yang paling serius hingga paling sepele, yang ironisnya penyelesainya pun tidak jelas. Pada titik penyelesaian konflik akhir-akhir ini menjadi tidak jelas karena bias pemberitaan media dan proses hukum yang tidak jelas. Bila trend kekerasan terus berlangsung ini adalah dampak dari ketidakjeasan tersebut, lucunya dalam situasi ini pemerintah absen dari tugasnya jadi pendamai. Continue reading
Sekedar Mengingatkan kita tentang kebohongan yang telah dilakukan dua perode pemerintahan SBY. Ada kebohongan lama (fase awal kepemimpinan SBY) dan Kebohongan Baru (fase kedua pemerintahan SBY). Butir-butir kebohongan inilah, disuarakan oaleh apara pemimpin lintas agama tahun lalu di Jakarta. Hal ini saya ingatkan kembali bukan menggali luka lamam tapi hanya mengingatkan agar pak SBY dan koleganya memperhatikan janji yang telah dibuat. Rakyat belum bosan dengan janji, tapi bosan dengan pemimpin yang kerap ingkar janji.
Sembilan kebohongan lama tersebut antara lain:
Ditulis oleh Stevanus Subagijo dan dimuat di SUARA PEMBAHARUAN 2006.
TAHUN Baru Imlek 2557 berdasarkan kalender jatuh pada 29 Januari 2006 (Tahun Anjing Api). Sambutan luar biasa perayaan Tahun Baru Cina, Imlek atau Sin Cia – dengan salam Gong Xi Fat Cai marak di berbagai media dan mal. Berbagai asesoris seperti pakaian, kartu ucapan, amplop ang pao, lampion, kue keranjang, musik mandarin, sarana upacara ritual menjadi simbol eksistensi kalangan Tionghoa yang 30 tahun lebih mengalami represi budaya. Imlek menjadi puncak legitimasi dari pernik budaya seperti liong-barongsai, wayang potehi, media berbahasa mandarin, parpol Tionghoa sampai soal feng shui.
Apalagi Imlek oleh pemerintah sudah ditetapkan menjadi hari libur nasional. Namun ditengah kemeriahan Imlek, bagaimana dengan sosok Tionghoa Indonesia sendiri. Apakah sosok Tionghoa Indonesia juga mengalami kebaruan demi kebaruan dari waktu ke waktu ? Berikut kita coba cermati sosok Tionghoa yang berbeda dari analisa akademis.
Periode Mei Lan-Ahong
Sosok Tionghoa Indonesia pertama sangat kuat dicitrakan dengan tokoh Mei Lan dalam film boneka si Unyil, Ahong dalam sinetron Si Doel Anak Betawi atau dalam aktor lawak yang memerankan seorang Tionghoa. Tionghoa dalam periode ini tetap menjadi seorang yang asing dalam budaya lokal yang melingkupi. Sesuatu yang asing dengan demikian mempunyai banyak perbedaan bahkan pertentangan. Tak heran selalu ada saja yang ditertawakan seperti logat bicara, kesulitan mengucapkan huruf r (cedal/celat). Tentu saja stereotip tentangnya juga ditonjolkan seperti kaya tapi kikir dan berorientasi pada keuntungan atau uang. Tionghoa seperti seorang perantau yang mampir dalam komu- nitas budaya lokal yang berbeda.
Dalam periode Mei Lan-Ahong ini tidak ada pilihan lain bagi Tionghoa kecuali berbaur dengan masyarakat yang melingkupinya. Tionghoa yang eksklusif akan dicitrakan buruk (biasanya digambarkan dengan tidak mau ikut ronda atau siskamling), sedangkan mereka yang inklusif dan mau berbaur dihargai. Tak heran pada periode ini dikalangan Tionghoa dikenal pameo, dudu cino nek durung njawani (belum menjadi China kalau belum bisa bersikap seperti orang Jawa).
Di Bandung pernah muncul istilah cina tapi nyunda (China tapi seperti orang Sunda). Upaya untuk membaur terutama juga disokong oleh kebijakan rezim Orba. Tak heran banyak Tionghoa dituntut juga mengganti nama tiga suku katanya dengan nama Indonesia. Namun identitas ketionghoaannya masih dipertahankan minimal bisa ditandai. Tionghoa marga Oey misalnya yang dilafalkan uwi/wi memakai nama Indonesia Wijaya, Wiyono. Lim menjadi Salim, Halim. The menjadi Tejo atau Teguh. Bahkan marga yang jarang didengar, seperti Ang menjadi Anggono. Continue reading