globalization

Reformasi menuju Posreformasi

Reformasi menuju Posreformasi

Tanggal 21 mei 1998 pukul 09.02.45 wib, Presiden  Soeharto secara resmi menyatakan pengunduran diri setelah berkuasa selama 35 tahun. Pengunduran diri Soeharto pun disambut gembira di seantero nusantara. Mahasiswa yang di sebut-sebut sebagai tokoh utama dibalik kejatuhan Soeharto pun berpesta. Kejatuhan Soeharto ini kemudian dikenal sebagai kemenangan reformasi. Kemenangan reformasi atas rezim totaliter Soeharto

Paska kejatuhan Soeharto mahasiswa diberikan tanggung jawab untuk menjaga dan mengawal cita-cita reformasi. Tanggung jawab ini kemudian menjebak mahasiswa kedalam dua pilihan. Pilihan pertama kembali ke kampus untuk melanjutkan studi dan tetap berdiri sebagai moral force sedangkan pilihan yang kedua terlibat secara langsung dalam politik praksis. Pilihan yang sulit dan tanggung jawab yang berat tentunya.

Di persimpangan inilah reformasi dihadapkan pada dilema. Mahasiswa yang memilih kembali ke kampus untuk melanjutkan studi dihadapkan pada beban akademis sehingga hampir-hampir tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjaga amanat reformasi. Aktifis mahasiswa yang memilih terlibat dalam politik praksis terjebak dalam perebutan pengaruh dan posisi penting di parpol.

Kepada siapakah mahasiswa menyerahkan amanat reformasi ?
Reformasi dalam kondisi kebingungan dan kehilangan kekuatan penggerak Mahasiwa yang pada awalnya mampu menjalankan peranya sebagai kekuatan penggerak reformasi sudah sibuk dengan urusanya sendiri. Kekosongan ini kemudian memunculkan kekuatan penarik(strange attactor) yang terdiri dari ormas (keagamaan maupun kederahan), LSM dan organisasi bentukan (under bow) parpol maupun parpol yang muncul paska reformasi. Munculnya kekuatan baru ini dalam dinamika reformasi kemudian memberikan warna baru reformasi.

Demokrasi paska reformasi
Salah satu cita-cita reformasi adalah terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis. Peristiwa kerusuhan pilkada di berbagai daerah (seperti Tuban, Depok, Banyuwangi, dll), kasus Ahmadiah, isu rasisme dalam kasus kematian PRT di Makasar, dan yang paling gress adalah peristiwa pengusiran Inul Daratista dan Gus Dur berkaitan dengan RUU APP. Apakah ini kondisi demokrasi yang dicita-citakan reformasi?

Mungkin benar apa yang terungkap dalam opini Jawa Pos beberapa waktu lalu yang menyebut kondisi ini sebagai demo-crazy(demokrasi gila) .Yang ditandai oleh anarkisme, premanisme , primordialisme atas nama demokrasi. Yasarf Amir Piliang mengistilahkan fenomena ini dengan posdemokrasi yaitu sebuah kondisi tumpang- tindihnya prinsip demokrasi dengan prinsip –prinsip lain yang menyimpang dari realitas demokrasi yang sesungguhnya. Prinsip demokrasi yang ditandai oleh kebebasan (bersuara , berserikat, berkumpul) , hak asasi manusia, kebersamaan, pluralisme berkembang ketitik ekstrim sehingga melampaui prinsip demokrasi itu sendiri . Kebebasan misalnya dimaknai sebagai kebebasan mutlak, pluralisme dimaknai kearah relativisme, HAM berkembnag kearah apapun boleh termasuk premanisme dan anarkisme . Apa yang salah sehingga dalam sewindu reformasi bangsa ini terjebak dalam kondisi ini. Kondisi yang jauh dari realitas reformasi dan bahkan sangat menyimpang dari tujuan reformasi (posreformasi) .

Mahasiswa dan Posreformasi
Posreformasi seperti yang digambarkan sebelumnya sebagai kondisi berkembangnya realitas reformasi kearah yang menyimpang dari realitas reformasi. Salah satu indikasi berkembangnya kondisi ini adalah munculnya kekuatan penarik ( strange attactor) yang menarik elemen bangsa ini kedalam ketidak beraturan dan keacakan. Dalam konteks reformasi kekuatan strange attactor bersifat kontra produktif terhadap proses reformasi itu sendiri , dalam pengertian ia tidak mampu menarik elemen –elemen sosial kearah tindakan sosial ( social actions) yang tidak pro-reformasi.

Kemunculan kekuatan ini menandakan bahwa mahasiswa semakin lemah dan bahkan tidak memiliki pengaruh dalam perjalanan reformasi. Mahasiswa yang pada awalnya diharapkan sebagai kekuatan penggerak reformasi yang mengawal reformasi agar berjalan sesuai cita-citanya telah sibuk dengan kepentingannya sendiri (akademis dan politik praktis).
Mahasiswa dalam kondisi seperti ini seharusnya kembali bertindak sebagai kekuatan penggerak maupun kekuatan penarik yang membawa reformasi kedalam koridornya. Mahasiswa harus bisa mengambil alih strange attactor yang selama sewindu reformasi dikuasai oleh elemen lain yang kontra produktif dengan reformasi.

Peran ini dapat terjadi apabila : Pertama, Perubahan pada tingkat wacana politik mahasiswa. Kesimpang siuran wacana politik , komunikasi politik dan interaksi politik diantara komponen mahasiswa yang menyebabkan tersumbatnya saluran komunikasi antara mahasiswa dengan unsur negara dan masyarakat harus diarahkan pada bentuk wacana yang dinamis dan konstruktif. Dalam hal ini mahasiswa harus bisa menciptakan efek sinergi baru antara elemen –elemen mahasiswa itu sendiri.

Ke dua, perubahan pada tingkat cultural gerakan mahasiswa. Sikap budaya gerakan mahasiswa terpusat pada egosentris organisasi mahasiswa, harus dirubah kearah sikap keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas ( socio centris). Benturan kepentingan antar organ harus dilihat dan diarahkan sebagai cara untuk menciptakan iklim demokrasi dan budaya demokrasi yang lebih produktif untuk reformasi.

Ketiga, perubahan pada tingkat normatif. Perbedaan nilai dan kepentingan antar organ yang berdampak pada pemutar balikkan fakta, pembenaran, keadilan semu berdasarkan kepentingan sempit organ harus dikendalikan. Sehingga tidak menimbulkan kebingungan bagi masyarakat yang masih mempercayai mahasiswa sebagai kekuatan moral.
Perubahan-perubahan diatas tentunya akan melahirkan habitus baru bagi gerakan mahasiswa, sehingga akan memunculkan keadaban baru dalam kondisi pos reformasi. Sehingga anggapan bahwa reformasi sudah mati ataupun mati suri terbantahkan. Reformasi yang sudah berjalan selama sewindu mudah-mudahan tidak berkembang kearah posreformasi tetapi menuju pada keadaban baru reformasi . (andrewednes@yahoo.co.id)

Oleh : Andre Yuris, Mahsiswa program strata satu Fakultas Ilmu Komunikasi, Hubungan Masyarakat Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO) Surabaya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s