MODERNITAS: ORGANIZED FORGETTING PEREMPUAN INDONESIA

MODERNITAS: ORGANIZED FORGETTING PEREMPUAN INDONESIA
Muthia Esfand

“Perlawanan terhadap kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa”
(Milan Kundera)

Kongklusi

Identitas dalam konteks kajian budaya bukanlah suatu keadaan tetap, yang akan
bercita rasa sama bila dipotret dari berbagai sudut. Melainkan suatu bentuk
proses yang akan terus berotasi dan berevolusi, namun tanpa kehilangan
keasalannya.
Produksi Tanda (Direncanakan) Sebagai Manifestasi Modernitas

Apa lagi yang harus dijelaskan? Perempuan memang benar-benar
ciptaan Allah yang memiliki spesifikasi istimewa. Maktub. Prahara dimulai
ketika kesetaraan martabat perempuan direnggut paksa. Alamiah saja jika setelah
itu bola salju perjuangan perempuan mulai bergulir mengitari dunia.
Anehnya, tetap saja ada pihak-pihak yang merasa sangat
berkepentingan untuk tetap dan selalu menjadikan perempuan sebagai kelas kedua
tanpa ada pembedaan obyektif. Barangkali, hal tersebut dikarenakan pengaruh
yang kuat pada mitos “dosa perempuan” yang di dunia barat dipercaya sebagai
sebab diusirnya nenek moyang manusia dari surga, sehingga para lelaki menjadi
obsesif arogan untuk menguasai dunia sendirian. Sungguh diluar cita rasa
Islami. Sekian upaya mulai direncanakan dengan sistematis agar masyarakat dan
perempuan itu sendiri tetap mengamini posisi perempuan sebagai pihak yang hanya
memiliki “setengah pikiran” serta melupakan Dan, strategi bermain tanda pun
dipilih sebagai alat merubah dunia perempuan.
Charles Sanders Pierce, ahli filsafat dan tokoh terkemuka semiotika modern
dari Amerika, membagi tipologi tanda (dalam kaitannya dengan objek) menjadi
tiga hal, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah segala sesuatu yang dapat
dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Hubungannya terletak pada tingkat kesamaan
atau kemiripan. Misalnya, foto mengindikasikan objek yang tergambar di situ.
Indeks merupakan tanda karena hubungan sebab-akibat, misalnya, asap menunjukkan
api. Sedangkan simbol adalah tanda karena hubungan kesepakatan atau konvensi.
Mengangguk tanda setuju, menggeleng berarti tidak (berbeda dengan di sebuah
daerah di Eropa Timur yang mengartikan anggukan sebagai penolakan, dan gelengan
sebagai persetujuan).
Tanda merupakan suatu hal yang secara mendasar memang bertebaran di sekitar
ruang hidup manusia. Dalam perkembangan selanjutnya (ketika manusia akhirnya
menyadari bahwa dalam suatu formulasi yang tertentu, tanda dapat menjadi
senjata efektif dalam mempengaruhi ingatan manusia), tanda mulai lazim
dipergunakan dalam mempengaruhi kesadaran massa yang berujung pada hegemoni
masal cara berpikir. Ada tiga hal mendasar dari karakter dasar perempuan yang
dijadikan fokus bidikan, yaitu: (1) obsesif pada keindahan; (2) dominasi
perasaan yang kuat; dan (3) perbedaan fisik yang mencolok. Modernitas menjadi
tema utama yang membalut ketiga hal tersebut.
Pada beberapa era kebelakang, strategi yang dipilih adalah kecenderungan
“merumahkan” perempuan agar tidak memenuhi amanahnya untuk ikut berkontribusi
dalam pembangunan umat. Tiga fungsi manusia di dunia (abd, duat, dan khalifah)
dipotong hanya menjadi hamba “saja.” Padahal seorang Umar bin Khatab saja tidak
berani melakukan hal serupa itu. Dalam catatan sejarah Indonesia, perjuangan
perempuan belum pernah bisa total dan berkelanjutan dalam memenuhi kewajiban
sosialnya. Ada saja yang menjadi penyandungnya.
Modernitas lantas dianggap menjadi tema sentra yang efektif dalam
meminggirkan perempuan hingga lalai pada sekian tanggungjawab sosialnya.
Produksi dan reproduksi tanda yang mulai intensif dilakukan. Produksi simbol.
Industri life style menjadi pabrik paling produktif dalam memproduksi simbol.
Life style yang dibranding bercita rasa urban yang kental dengan nuansa mix
culture, yang pada akhirnya menjadi budaya baru yang tercerabut dari akarnya.
Roda industri disetel berakselerasi tinggi, up to date, high context.
Senantiasa mengikuti tren terbaru dari setiap produk gaya hidup adalah simbol
kemajuan, kemapanan, dan kecerdasan. Internalisasi kesadaran untuk senantiasa
mengikuti perkembangan gaya hidup terbaru ditebar melaui beragam media dan
kesempatan. Sampai akhirnya, gaya hidup yang “modern” menjadi “ideologi” baru
perempuan Indonesia.
Proses memposisikan diri seolah ideologi itulah organized
forgetting, rekayasa ingatan yang terencana. Sejarah memang ditangan mereka
yang memiliki kuasa untuk merekayasa. Lantas, adakah dampak signifikan dari
rekayasa tersebut? Pastinya ada. Misalnya, perempuan menjadi semakin disibukkan
dengan pengejaran simbol semata sebagai indeks prestice dan status sosial,
bahkan menjadikan semua itu sebagai tujuan pencapaian kesuksesan dunia.
Perempuan juga semakin tidak menyadari betapa tajuk-tajuk keindahan yang selama
ini menjadi bungkus dalam “mengemas” isu perempuan sesungguhnya tidak lebih
dari sekedar strategi komersialisasi an sich. Di lain sisi, organized
forgetting sangat berimbas pada paradigma berpikir kaum perempuan dalam
memandang diri dan masyarakat sosialnya. Kepedulian berlebihan tanpa sekat pada
perkembangan gaya hidup pada akhirnya mampu menggerus sisi empati dan
kepedulian pada sesama, pun semakin memperluas area narsisme pada ruang hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s