Nomadisme Politik

Nomadisme Politik

Oleh Yasraf Amir Piliang

WAJAH politik bangsa menjelang Pemilihan Umum 2004 ini menampakkan berbagai lukisan ekses demokratisasi dan keterbukaan yang mencemaskan, yang memerlukan segera upaya-upaya pengendaliannya. Dari mulai berbaurnya demokrasi dengan anarki, tafsiran demokrasi sebagai ’apa pun boleh’ (anything goes), berkembangnya politik otonomi daerah sebagai duplikasi fasis-fasis kecil (micro fascism), pertumbuhan partai-partai politik yang tanpa kendali, pembentukan aliansi politik yang tanpa konsistensi, penokohan elite politik yang tanpa keterampilan, kecerdasan, intelektualitas, dan visi politik, serta petualangan politik yang tanpa etika dan rasa malu.

Petualangan politik yang tanpa etika dan rasa malu ini telah menciptakan para ’nomad politik’ (political nomad), yaitu para politikus dan kelompok politik yang gandrung ’berpindah’ (nomadism): berpindah partai, bertukar identitas, berubah citra (image), berganti lambang, bertukar moto, tanpa pernah memiliki ketetapan dan konsistensi pada tingkat keyakinan politik. Ia tidak hanya bertukar-tukar baju, kulit, atau warna; akan tetapi juga berganti-ganti wadah, institusi, organisasi, kelompok, yang menciptakan semacam ’nomadisme politik’ (political nomadism).

Nomadisme politik digerakkan oleh semacam mental nomad (nomad psychology), yang dicirikan oleh sifat ’inkonsistensi’, yaitu sifat yang tidak pernah menetap dan tanpa ketetapan (ucapan, diri, identitas, keyakinan, ideologi). Ia hidup di dalam semacam ’ruang petualangan politik’ (nomad political space), yang di dalamnya diri, simbol, identitas, dan ideologi menjadi semacam ’pakaian’ yang dengan mudah ditukar. Di dalamnya, identitas dapat ditukar dengan sebuah kekuasaan, bahkan keyakinan (politik, agama, kultural) dapat ditukar dengan sebuah kursi.

Nomadisme dan petualangan politik yang tanpa rasa malu dan etika ini, telah menciptakan wajah politik bangsa, yang lebih mengedepankan hasrat dan kehendak kuasa yang bersifat jangka pendek, tanpa pernah peduli dengan penciptaan ruang politik yang berkualitas, mencerdaskan, dan mencerahkan dalam jangka panjang. Dunia politik, sebaliknya menjelma menjadi petualangan di ruang-ruang sempit kekuasaan jangka pendek itu, dan tidak pernah mampu menawarkan visi politik masa depan yang dapat menciptakan sebuah masyarakat politik, serta dunia kehidupan pada umumnya yang cerdas, kreatif, dan produktif-future lifeworld.

GILLES Deleuze & Felix Guattari di dalam Nomadology: The War Machine (1986), melukiskan nomad sebagai setiap entitas (politik) yang dicirikan oleh sifatnya yang selalu berpindah, menjadi (becoming), berdeformasi, bertransmutasi, bermetamorfosis; turbulen, tanpa ego (egoless), eksesif, deviatif, anti-pusat (decentering), anti-identitas, anti ketetapan, selalu mengalir, dan selalu bergejolak (flux). Meskipun demikian, nomad dapat bersifat positif atau negatif, tergantung di ruang mana ia beroperasi.

’Nomadisme politik’ (political nomadism) adalah kecenderungan (bahkan keyakinan) tentang perpindahan terus-menerus sebuah entitas, wujud, orang, kelompok atau komunitas politik dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu teritorial ke teritorial lainnya di dalam ruang politik, yang di dalamnya tidak pernah ada ketetapan dan kepastian. Inilah partai politik yang terus-menerus berganti ’citra’, ’slogan’ dan ’lambang’, tanpa pernah merubah watak, karakter, dan budaya politiknya.

’Nomadisme politik’ adalah kecenderungan yang dicirikan oleh sifat diskontinuitas (discontinuity), yaitu keterjeratan entitas di dalam arus pergantian diri, identitas, simbol, keyakinan, dan ideologi, yang satu sama lainnya tidak memiliki konsistensi. Bagi nomad politik, yang dirayakan adalah proses perpindahan dan pergantian yang tanpa akhir itu sendiri, sementara ketetapan, konsistensi, dan kontinuitas bukanlah tujuan. Satu-satunya konsistensi nomad politik adalah konsisten dalam berubah dan berganti.

’Nomadisme politik’ adalah kecenderungan perubahan posisi secara terus-menerus (disposition), yaitu perubahan posisi pada tingkat elemen sosial, politik, kultural, dan semiotis. Di dalamnya juga terjadi berbagai perubahan permukaan tak substansial secara terus-menerus. Artinya, perubahan citra, pergantian organisasi, perombakan formasi, pergantian institusi akan membentuk bersamanya formasi-formasi politik baru yang bersifat permukaan semata, tanpa pernah mampu merubah budaya politik yang lebih substansial.

’Nomadisme politik’ adalah kecenderungan perubahan pada tingkat ’semiotika politik’ (political semiotics), yaitu perpindahan, transmutasi, transposisi, deformasi, dan metamorfosis pada tingkat semiotik (tanda, kode, makna) yang juga bersifat artifisial. Di dalamnya terjadi pergantian posisi tanda, simbol, citra, lambang, moto, semboyan yang tanpa henti, akan tetapi semua transposisi semiotik itu hanya merubah pada tingkat kulit permukaan tanda, tanpa mampu menawarkan perubahan makna politik yang lebih sublim.

’Nomadisme politik’ adalah kecenderungan anti-sistem, anti fondasi (anti-foundational), anti-identitas, dan anti permanensi. Ia lebih merayakan proses perpindahan itu sendiri, tanpa pernah menetap secara permanen pada satu teritorial tertentu (sosial, politik, ekonomi, kultural, bahasa), tetapi menetap hanya untuk sementara waktu. Ia, dengan demikian, selalu hidup di dalam ’daerah antara’ (in between). Bagi para nomad politik, ’wadah’ (rumah, diri, simbol, partai, organisasi) selalu bersifat sementara, yang permanen dan konsisten adalah perpindahan itu sendiri-consistency of change.

NOMADISME politik adalah sebuah kecenderungan ’politik ruang’ ketimbang ’politik waktu’. Paul Virilio di dalam Lost Dimension (1991) membedakan antara prinsip geo-politik (geo-politics) dan ’krono-politik’ (chrono-politics), yaitu antara politik pergantian ruang dan politik merebut waktu, yang sama-sama langka. Nomadisme politik adalah politik memperebutkan ruang (kapling, kursi, wilayah), yaitu perebutan horizontal teritorial politik secara terus-menerus. Sementara, politik waktu adalah politik kemajuan, perkembangan atau transformasi secara vertikal, dari satu keadaan ke keadaan berikutnya secara historis, yang di dalamnya berlangsung akumulasi pengetahuan, kemajuan, keterampilan, dan modal politik.

Pada tingkat semiotik, ’nomadisme politik’ berarti perpindahan tanpa henti dari satu tanda politik ke tanda lainnya, dari satu kode politik ke kode lainnya, dari satu sistem pertandaan politik (political sign system) ke sistem pertandaan lainnya, tanpa perlu konsistensi makna. Nomad politik, tidak pernah mengacu pada sistem, kode atau konvensi politik, sebagai fondasi dari setiap tindak komunikasi politik. Nomadisme politik adalah kecenderungan perubahan tanda tanpa akhir dalam komunikasi politik (kampanye, iklan, pidato politik), tanpa pernah mampu merubah realitas dan budaya politik.

Berganti wajah atau berganti ’citra’ adalah cara mengganti penampakan, tampilan, permukaan, dan ikon politik (political icon), akan tetapi pergantian ini tidak berarti sekaligus mampu mengganti watak, karakter, habit, atau kultur politik (political culture). Pergantian citra di sini digunakan semata sebagai cara memanipulasi persepsi dan kesadaran publik, yang digiring ke arah sebuah citra yang positif tentang seorang tokoh atau sebuah partai, yang padahal tidak mencerminkan tindak-tanduk, sepak-terjang, realitas dan kultur politik yang sesungguhnya.

Antara tanda, citra, dan ikon politik yang ditampilkan dan realitas politik di baliknya terdapat jurang yang sangat dalam. Yang ditampilkan di dalam wacana nomadisme politik adalah semacam simulakrum politik (political simulacrum), yaitu citra politik yang telah terdeviasi, terkontaminasi, atau bahkan telah terputus sama sekali dari realitas politik yang sesungguhnya (real politics). Simulakrum politik telah menggiring ke arah strategi penipuan massa, yang menawarkan ke hadapan massa politik hutan rimba tanda, citra, dan ikon, yang tidak pernah direalisasikan di dalam realitas politik yang nyata.

Dunia politik yang berkembang ke arah nomadisme negatif, dengan demikian tidak pernah menampilkan kebenaran dan kebijaksanaan sejati politik, akan tetapi selalu ’simulakrum kebenaran’ (simulacrum of truth) dan ’simulasi kebijaksanaan’ (simulation of wisdom), yaitu kebenaran dan kebijaksanaan politik dalam wujud tanda dan citra-citra yang selalu berpindah-pindah dan inkonsisten; yang sarat kemasan indah tanda dan citra, padahal penuh tipuan, manipulasi dan penyesatan; yang menciptakan wajah politik yang penuh topeng, kamuflase, fatamorgana, dan kepalsuan.

Nomadisme politik, sesungguhnya dapat menggiring wacana politik ke arah sifat positif, yaitu ketika proses perpindahan terus-menerus (tanda, citra, bentuk, pengetahuan, strategi, taktik, teknologi) dalam ruang politik akan dapat mengkondisikan produktivitas, kreativitas, dan dinamisitas budaya politik, yang mampu pula mencerdaskan, mencerahkan, dan menggerakkan wacana politik.

Akan tetapi, apa yang berkembang di dalam ruang politik bangsa adalah nomadisme politik dalam wajah negatif, yang dicirikan oleh sifat-sifat oportunistik, hipokritik, dan egoistik politik, yang di dalamnya perpindahan (simbol, citra, ideologi) lebih didasarkan pada motif kekuasaan, hasrat kuasa, kesenangan, dan keuntungan pribadi semata, yang melahirkan nomad-nomad politik yang tanpa etika, pengembara politik yang tanpa rasa malu, dan petualang politik yang oportunis.

Pencerdasan, pencerahan, dan peningkatan kualitas politik bangsa di masa depan hanya dapat tercipta bila para nomad, petualang, dan pengembara politik yang tanpa rasa malu, tanpa etika, dan tanpa visi politik ini tidak diberi ruang lagi di dalam panggung politik, khususnya dalam Pemilihan Umum 2004 mendatang. Bila tidak, dunia politik bangsa hanya akan menjadi semacam ’pasar loak politik’, yang di dalamnya orang dapat membeli ’baju politik’ dengan harga murah, yang dengan mudah pula dapat diganti-ganti, semata demi kekuasaan-political nomadology.

Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK) FSRD, Institut Teknologi Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s