Harapan Positif, Membangun Imajinasi Kolektif Bangsa

Harapan Positif, Membangun Imajinasi Kolektif Bangsa
oleh: YASRAF A PILLIANG

Hingga kini energi kolektif bangsa ini dihabiskan untuk menghadapi persoalan dan kepentingan kelompok, golongan, partai, suku, daerah, dan agama yang bersifat parsial, sempit, eksklusif, dan artificial sehingga melupakan komponen-komponen bangsa ni dari persoalan bersama yang lebih besar, lebih fundamental, atau lebih substansial.

Energi para politisi habis untuk kepentingan politik sesaat tanpa peduli masa depan bangsa. Kelompok berpunya habis energinya untuk gaya hidup mewah dan artifisial tanpa peduli badai krisis yang menggerogoti bangsa. Daerah-daerah habis energinya untuk geopolitik melepaskan diri dari pusat tanpa peduli persoalan negara yang lebih luas. Masyarakat bawah habis energinya untuk berbagai tindak permusuhan dan kekerasan massal tanpa mampu lagi memikirkan masa depan mereka sendiri.

Tidak mengherankan bila sebagian ahli berpendapat bahwa kini bangsa Indonesia telah terperangkap dalam sebuah paradigma sosial yang kehidupan individu masyarakatnya terpusat pada ego dan diri (self) masing-masing. Apa yang berkembang di atas tubuh bangsa ini adalah sikap yang di satu pihak merayakan ego sendiri atau mendewakan ”diri sendiri” dan di pihak lain menafikan eksistensi ”sang lain” (the other) atau kelompok masyarakat lain.

Modal kehidupan yang terpusat pada ego dan diri itu cenderung menhasilka individu-individu (atau kelompok) yang bersikap agresif dan destruktif terhadap sang lain. Dalam masyarakat semacam itu tidak ada ruang bagi tumbuhnya hasarat atau imajinasi-imajinasi yang bersifat kostrutif untuk kepentingan masyarakat luas (constructive imagination). Kalaupun berkembang imajinasi, ia cenderung menjadi imajinasi merusak (destructive imagination)- imajinasi-imajinasi di balik mengarak potonganm kepala, membakar orang hidup-hidup, memotong kuping, misalnya.

Ironisnya, justru imajinasi-imajinasi destruktif itu tumbuh subur akhir-akhir ini. Imajinasi-imajinasi yang telah meruntuhkan fondasi tubuh bangsa ini, menghancur-leburkan organ-organnya, mencerai-beraikan kerangka-kerangkany a, serta melemparnya ke sebuah jurang ancaman disintegrasi.

Apa yang sesungguhnya tercipta di atas tubuh bangsa ini adalah proses pengasingan yang bersifat kolosal: ketakutan, kecurigaan, kebencian, pengusiran, dan pemisahan terhadap yang lain (suku, agama, daerah, ras, partai) yang sebelumnya justru tidak dianggap asing. Terjadi redifinisi dan reposisi yang masif terhadap batas-batas dalam-luar, kawan-lawan, biasa-asing, kami-mereka yang sebelumnya tidak ada. Kita lantas menjadi orang asing bagi diri kita sendiri.

Bila ego tiap individu tercabut dari masyarakatnya, artinya bila subyektivitasnya tidak lagi merupakan cermin masyarakatnya, tetapi refleksi dari libido atau insting-insting yang bersemayam di dirinya sendiri maka sesungguhnya tidak ada lagi masyarakat karena masyarakat hanya ada bila ia dapat merefleksikan dirinya (aturan, norma, hukum) pada individu-individu. Jika tidak kita akan mengalami semacam kematian sosial.

Sebagaimana dikatakan Jacques Lacan dalam The Language of the Self (1984) idividu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan. Artinya, pembentukan subyektivitas dan ego selalu bersifat social dan kolektif sehingga ketika kita berbicara mengenai mekanisme-mekanisme psikis, seperti hasrat, angan-angan, dan imajinasi pada tingkat idividu sesungguhnya secara parallel kita membicarakan apa yang disebut hasrat kolektif (collective desire), angan-angan kolektif (collective ideals), dan imajinasi kolektif (collective imagination).

Oleh karena itu, perubahan social dalam sebuah masyarakat tidak dapat anya bersandar pada perubahan pada tingkat undang-undang, struktur ekonomi, dan paradigma politik, tetapi haus bertumpu pula pada perubahan tingkat hasrat, ideal, dan imajinasi yang bersifat kolektif itu.

Lebih spesifik, Lacan mengemukakan dalam Lacan Discourse and Social Change (1993) jika budaya memainkan peran sentral dalam perubahan social, peran itu terutama dimainkan oleh hasrat (desire). Hasrat yang mendorong masyarakat mengejar (janji) kesenangan tertentu. Singkatnya, hasratlah yang mampu menggerakkan masyarakat menuju perubahan yang hanya mungkin berlangsung jika hasrat, angan-angan dan imajinasi kolektif itu dibangkitkan.

Menurut Lacan, ada dua jenis hasrat. Hasrat menjadi (to be), yaitu hasrat mengidentifikasikan diri dengan sang lain dan hasrat memiliki (to have), yaitu hasrat untuk tujuan mencapai kepuasan. Kedua jenis hasrat itu dapat bersifat konstruktif (misalnya mengidentifikasi diri dengan bangsa maju) atau destruktif (misalnya mengidentifikasi diri dengan Hitler). Hasrat positif inilah yang sesungguhnya harus digerakkan di atas tubuh bangsa secara kolektif.

Hasrat positif itu bersifat dekonstruktif yang rekonstruktif. Bangsa ini tidak anya harus pandai membongkar struktur, tetapi juga harus mampu mencari celah untuk membangun kontruksi, tatanan, sistem, atau struktur-struktur baru.

Hasrat positif itu bersifat proyektif. Ia tidak memerangkap bangsa ini dalam primordialisme, kesukuan, kepercayaan sempit, egoisme kelompok, serta chauvinisme yang terpaku pada dogma dan masa lalu, tetapi berupaya mencari peluang-peluang masa depan dengan memikirkan visi, skenario, rencana, dan langkah-langkah mencapainya, baik dalam skala mikro (individu) maupun makro (bangsa)

Hasrat positif itu bersifat imajinatif. Diperlukan apa yang dalam ilmu sosial-antropologi disebut imajinasi sosial. Bangsa ini, baik pada tingkat individu maupun sosial perlu menciptakan angan-angan dan imajinasi sosial mengenai masa depan dirinya sendiri berupa sebuah masyarakat masa depan yang diimajinasikan, tentu dalam bentuk yang strategis.

Sejarah banyak mengajarkan kepada kita bagaimana hasrat, angan-angan, dan imajinasi kolektif ini dibangun oleh sebuah bangsa atau direpresentasikan seorang penulis sehingga pada suatu ketika nanti menjadi semacam ingatan kolektif sebuah bangsa.

Goethe merepresentasikan imajinasi kolektif tentang perubahan dan transformasi lewat kaarya monumentalnya Faust (1808) yang menjadi model pengembaraan kultural masyarakat modern Barat. Adolf Huxley melukiskan imajinasi kolektif mengenai dunia baru atau abad baru lewat Brave New World (1931) yang menjadi model masyarakat posindustri. William Gibson melukiskan hasrat kolektif tentang kehidupan melampaui realaitas lewat Neuromancer (1995) yang kemudian menjadi model kehidupan budaya cyberspace dewasa ini. Sementara itu, JK Rowling belum lama ini ”menyihir” dunia lewat muatan angan-angan dan imajinasi kolektif tentang dunia supernatural di dalam novelnya yang menghebohkan Harry Potter and Soccerer’s Stone (2000) yang siapa tahu nanti akan menjadei sebuah model kehidupan global di masa depan.

Meski demikian, harus diingat Hitler pun menggunakan imajinasinya yang tajam dalam membangun Jerman Raya dengan cara membangun mitos nazi dalam masyarakat Eropa lewat Triumph of the Will (1934). Imajinasi Hitler inilah yang disebut imajinasi destruktif atau imajinasi sado nationalism.

Kondisi psikis bangsa akhir-akhir ini tampaknya tdak menciptakan iklim yang baik bagi bertumbuhnya hasrat, angan-angan, dan imajinasi kolektif yang bersifat positif dan konstruktif itu.

Barangkali komponen-komponen bangsa ini tengah terperangkap dalam kondisi psikis yang disebut Christopher Lasch dalam The Minimal Self: Psychic Survival in Troubled Times (1984) sebagai diri minimal (the minimal self). Inilah diri-diri yang mengembangkan hasrat, angan-angan, dan imajinasi minimal sekedar untruk mempertahankan hidup. Inilah diri-diri yang begitu terbelenggu oleh hasrat, angan-angan, dan imajinasi yang sempit dan dangkal, yang sangat terkungkung jerat-jerat kepentingan sempit kelompok, partai, golongan, suku, agama, atau daerah. Ruang bertumbuhnya hasrat, angan-angan, dan imajinasi menjadi sebuah ruang yang sangat sumpek.

Padahal, ruang tumbuh suburnya hasrata, angan-angan, dan imajinasi positif itulah yang sesungguhnya harus dibangun di atas tubuh bangsa ini. Ia dapat dimulai dari mana saja, dari bawah, dari anggota sebuah komunitas, atau dari atas ke bawah.

Bila novel JK Rowling Harry Potter and the Sorcerer’s Stone dapat menyihir jutaan orang diseluruh dunia, kekuatan sihir (baca:kekuatan penggerak masyarakat) semacam itulah yang harus dibangun di atas tubuh bangsa ini. Kekuatan itu diharapkan dapat menggerakkan komponen-komponen bangsa ini dari hasrat, ideal, dan imajinasi-imajinasi yang sempit, parsia, dan eksklusif ke arah yang lebih bersifat melingkupi, berskala besar, dan inklusif.

Di masa lalu Gus Dur- sebagai seorang presiden- tampaknya mempunyai imajinasi masa depan cukup tajam, meski sulit dipahami rakyat pada umumnya. Sementara, perubahan sosial hanya dapat berlangsung jika imajinasi itu bersifat kolektif. Lantas, masa depan seperti apa yang diharapkan bangsa ini, jika bangsa sendiri tidak mampu membangun angan-angan dan imajinasi masa depan mereka secara bersama-sama? ***

(YASRAF AMIR PILIANG)

Sumber : HANTU-HANTU POLITIK dan MATINYA SOSIAL, Tiga Serasngkai, Solo, 2003, hal 159-163