Awas: Kutu Loncat

Awas: Kutu Loncat
oleh : ANDRE YURIS/ september 2008

Kita patut merayakan semakin lebarnya kesempatan dan akses untuk terlibat dalam aktifitas politik sebagai kemajuan demokarasi. Kemunculan parpol-parpol baru perlu dirayakan sebagai kemajuan kehidupan politik dan demokrasi yang sudah diperjuangkan bersama. Tapi ada yang tidak perlu kita rayakan yaitu berjamurnya politisi ajimumpung yang loncat dari parpol satu ke parpol lain. Politisi yang memanfaatkan kesempatan ditengah paceklik kader parpol baru peserta pemilu 2009, dan berpaling organisasi politiknya demi satu kursi legislatif.
Adanya delapan belas partai politik baru di pemilu 2009 seolah-olah menjadi oase bagi mereka yang haus kesempatan dan kekuasaan. Paceklik kader yang dialami partai baru dan minimnya peluang untuk menang di parpol asal seakan akan menjadi tambahan semangat untuk loncat sana-sini. KPU bahkan menemukan nama caleg yang sama di daftarkan dua parpol sekaligus. Politisi kutu loncat yang marak akhir-akhir ini adalah fenomena yang akan selalu muncul menjelang pelaksanaan pemilu. Kutu loncat pasti akan selalu ada di dunia politik dan akan menjadi wabah yang meresahkan bila tidak kita antisipasi bersama.

Keresahan Bersama,
Kita perlu resah karena bukan tidak mungkin para kutu loncat ini akan menang pada pemilu legislatif 2009 dan mentalitas itu terus mereka bawa dalam praktek legislasi. Ekpose media massa yang begitu masiv tentang korupsi yang dilakukan anggota dewan, menyodorkan bukti bahwa tidak sedikit wakil rakyat yang terhormat terkena wabah kutu loncat. Lincah dan licik todong-sana sini demi keuntungan pribadi tanpa rasa malu. Mudah-mudahan keresahan ini tidak terjadi dan bisa di antisipasi pada pemilu 2009. Masyarakat sudah resah dan mudah-mudahan para petinggi parpol maupun organisasinya juga ikut ikut resah dan prihatin.
Kenapa Parpol harus resah? Parpol Peserta Pemilu 2004 tentu harus resah, karena harus menanggung resiko di khianati kadernya sendiri yang loncat ke partai lain pada pemilu 2009 mendatang. Kader yang di dadar secara seruis tiba-tiba meloncat ke parpol lain (baru) dengan atau tanpa alasan yang jelas. Partai baru tentu dengan tangan terbuka menerima, karena memang sedang paceklik dan dikejar dateline KPU. Tapi bagi parpol yang ditinggalkan, kepindahan kadernya ke partai lain bisa menjadi wabah atau trend negatif yang mungkin akan di ikuti oleh kader lain. Bila kondisi ini menjadi kecenderungan masal yang rusak bukan hanya ekosistem internal partai tapi juga berdampak pada kepercayaan rakyat kepada partai politik. Kerugian besar sudah menunggu didepan mata, bila dibiarkan mewabah.
Partai politik sebagai lokomotif demokrasi tentu harus serius dan bijak dengan fenomena ini. Serius karena sangat erat kaitanya dengan keberlangsungan demokrasi dan kahidupan berbangsa dan bernegara. Serius karena ini adalah gejala yang lambat laun mengurangi kepercayaan rakyat kepada partai politik. Buntutnya rakyat akan semakin enggan untuk berpartisipasi dalam proses politik (misalnya: jumlah golput akan bertambah) dan berarti legitimasi politik penyelenggara negara menjadi lemah.
Fenomena ini tidak cukup hanya dilawan dengan mekanisme internal partai seperti pemecatan keanggotaan. Sikap reaksioner yang ditunjukan beberapa petinggi parpol bukanlah pilihan yang bijak, karena justru akan menurunkan kredibilitas partai di mata konstituen. Seharusnya para petinggi partai harus secara bijak melihat sebab musabab dibalik fenomena ini. Sebab itu bisa saja ada ditubuh partai entah di sadari atau tidak. Sebab itu mungkin buntut dari mekanisme penujukan caleg yang acap di warnai praktik yang tidak sehat. Penentuan caleg yang acapkali hanya dilatarbelakangi pertimbangan emosional bukan rasional, biologis (keturunan) bukan ideologis, uang dan bukan kualitas bisa jadi sebab utamanya. Bagi kader yang tidak mampu memenuhi pertimbangan tersebut akan sangat sulit untuk bertarung dan merupakan pukulan telak untuk karir politiknya. Salah satu bentuk resisitensi yang mungkin bagi mereka adalah loncat ke partai lain yang kekurangan caleg dan masih minimal dalam pertimbangan uang, keturunan dan emosional. Bagi mereka ini pilihan logis, karena percuma protes toh hanya menghabiskan energi dan lebih baik energinya dimanfaatkan untuk peluang lain yang lebih menjanjikan.
Jika penyebabnya adalah mekanisme internal yang tidak sehat, fenomena ini adalah evaluasi dan pelajaran berharga bagi para pengambil kebijakan atau petinggi parpol. Harus disadari sebagai rseistensi kader partai terhadap mekanisme internal partai yang tidak berjalan sebagai mana mestinya atau tidak sehat. Walaupun demikian bukan berarti semerta-merta kesalahan parpol. Mekanisme yang tidak sehat serta resistensi ekstrim menjadi kutu loncat dalam kaca mata etika merupakan bentuk ketidakloyalan parpol atau petingggi parpol terhadap kemajuan partai. Loyalitas yang dipraktekan selama ini hanya diukur dengan jumlah uang yang disetorkan bukan pada substansi tujuan dan kebaikan bersama. Begitu juga sebaliknya, kader yang loncat ke partai lain adalah cerminan pribadi yang tidak loyal terhadap kemajuan partai dan memilih tunduk kepada ambisi pribadi. Memilih kabur ketimbang memperbaiki kekurangan internal partai juga tidak dapat dibenarkan. Untuk memperbaikinya partai dan kadernya tidak hanya butuh penyehatan mekanisme dan ekosistem pengkaderan tapi juga loyalitas terhadap tujuan dan kebaikan bersama. Loyalitas menjadi mutlak bila kita mengiginkan perbaikan dan kemajuan demokrasi dan politik di negeri ini.

Loyalitas,
Kenapa loyalitas menjadi sangat perlu dalam iklim demokrasi? Karena tidak mungkin kepentingan rakyat dijalankan tanpa adanya komitmen yang kuat dan total untuk berani. Loyalitas dalam demokrasi ditandai dengan berani mempertaruhkan eksistensi diri demi organisasi dan atau berani mempertaruhkan eksistensi organisasi demi demokrasi dan kesejateraaan rakyat, bangsa dan negara. Pertarungan Barack Obama dan Hillary Clinton bisa jadi contoh loyalitas. Persaingan sengit keduanya untuk menjadi capres partai Demokrat diwarani saling kritik dan bahkan menjelek-jelekan (program bukan individu) lawannya. Tetapi, saat konvensi partai memenangkan Obama, Hillary sacara bijak dan terang-terangan menyatakan dukungannya dan akan bekarja untuk pemenangan Obama dan partai Demokrat dalam pilpres. Walaupun kekalahan itu pahit, tapi yang harus disadari bersama ada kepentingan lain yang lebih besar dan layak diperjuangkan.
Bila kita memimpikan perubahan yang signifikan dalam pelaksaan demokrasi di Indonesia , hal yang kita tuntut dan nilai dari calon legislator kita adalah loyalitas. Loyalitas dalam mengemban amanat aspirasi rakyat. Loyalitas yang tidak anti kritik dan pasrah. Mengutip Bertnes (Perspektif Etika,Kanisius, 2000 hal 33), kritik adalah substansi konkrit loyalitas, kritik dalam kerangka loyalitas tidak betujuan menghancurkan atau menjatuhkan tetapi upaya penyehatan, perbaikan dan evaluasi demi kemajuan. Masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh proses penyadaran, pendidikan politik dan etika politik tidak hanya bagi praktisi politik tapi bagi semua elemen bangsa.
Kalau tidak mau di cap kutu loncat dan tidak loyal yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian dan kedewasaan dalam menentukan sikap politik. Secara diam-diam sudah terdaftar pada parpol lain adalah bukti kepengecutan dan ketidakmampuan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Bagaimana mungkin aspirasi rakyat bisa diperjuangkan oleh manusia yang tidak berani bersikap? Berani bersikap dan dewasa dalam berpolitik adalah parameter loyalitas sesorang dalam memperjuangkan nasib rakyat. Aspirasi rakyat menjadi mungkin diperjuangkan kalau pembawa aspirasi memiliki loyalitas terhadap kepentingan rakyat. Untuk itu partai politik sekiranya perlu mengumumkan secara terbuka kadernya yang secara diam-diam terdaftar di parpol lain dan yang mengundurkan diri secara terhormat sebagai bentuk pembelajaran politik dan rakyat bisa secara lebih dini menilai dan menentukan siapa-siapa saja yang pantas dan memiliki loyalitas. Rakyat adalah penentu, pilihan rakyat diatas segalanya. Rakyatlah yang menentukan, apakah calon legislatif yang diusung berbagai partai politik pada pemilu 2009 merupakan pribadi-pribadi yang memiliki loyalitas atau kutu loncat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s