Perwajahan dalam Perspektif Komunikasi

Perwajahan dalam Perspektif Komunikasi
PERWAJAHAN adalah penyusunan unsur-unsur desain berupa garis, bidang, warna ke dalam suatu halaman yang disebarkan melalui media cetak secara kasatmata (visual). Lebih sederhana lagi bahwa perwajahan adalah proses rancang, olah grafis dan tata letak (lay out) halaman surat kabar.
Dua pengertian di atas merupakan pengertian yang sangat sederhana. Kehadiran perwajahan sebenarnya bukan sekadar tindakan kreatif penggabungan antara kecendikiaan dan keterampilan artistik dan tidak hanya dimaksudkan untuk memasukkan berita, foto, ilustrasi, dan iklan, tetapi ada tugas yang lebih berat, yaitu bagaimana perwajahan dapat menambah daya serap penerimaan pesan di dalamnya.
Berkomunikasi secara grafis dalam perwajahan, seyogianya direka sedemikian rupa sesuai keinginan khalayak pembaca, agar berdampak seperti yang diharapkan. Anda harus menetapkan maksud komunikasi, menjelajahi dan mengira-ngira kemungkinan dampak komunikasi yang akan terjadi. Kemudian mengembangkan perencanaan, membuat dan mencetak, diakhiri dengan distribusi dan evaluasi.
Perwajahan dapat berperan sebagai katalisator penyampaian pesan sebuah media cetak. Memakai rancang perwajahan yang tepat berarti kandungan informasi yang dimilikinya, semakin efektif dan efisien diterima masyarakat, sehingga mampu membentuk perasaan, sikap, perilaku, dan pola pikirnya. Building (1956:7) berpendapat bahwa makna suatu pesan adalah seberapa besar pengaruhnya terhadap pengertian. Oleh karena itu, pesan yang akan disampaikan harus terlebih dahulu dicerna dan dipahami “orang-orang perwajahan” sebelum diproses lebih lanjut.
Proses desain perwajahan semata-mata ialah perluasan proses organisasi yang dimulai ketika Anda menyusun konsep rancang desain. Dan hasilnya, Anda dapat membuat media cetak yang efektif dan tampil menarik. Misalnya Anda diminta merancang suatu halaman surat kabar yang mencakup sejumlah foto. Kalau Anda tidak diberitahu tentang peran foto tersebut, maka Anda kemungkinan besar salah menempatkannya. Jika Anda tahu peran foto tersebut dan relasinya terhadap teks, maka dengan mudah Anda bisa memutuskan susunan beserta ukurannya.
Dapat dikatakan, bahwa sarana desktop publishing dan sarana desain grafis lainnya hanya salah-satu ekspresi pengetahuan komunikasi Anda. Tanpa “Ilmu Perwajahan” kita akan mengalami kesulitan dalam pengaturan dan penonjolan bagian pesan yang penting. Oleh sebab itu, kesuksesan perwajahan tergantung sekali pada tahap awal perancangannya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, perwajahan dilihat dari perspektif komunikasi adalah kegiatan yang tidak berhenti pada fungsi desain grafis dan lay out saja. Selanjutnya perwajahan akan berperan sebagai bagian dari efektivitas keterbacaan media (channel) dalam penyampaian pesan dari si pembuat pesan (komunikator) kepada sasarannya (komunikan) dalam kegiatan komunikasi.
Pada taraf berikutnya, dijabarkan secara lebih mendalam bahwa perwajahan merupakan sarana untuk menghasilkan suatu tanggapan baik dari khalayak (baca:pembaca) terhadap sebuah media cetak. Bentuk perwajahan berkonsekuensi logis dengan kemengertian, simpati dan bujukan terhadap pembaca untuk menerima pesan sekaligus menggunakan (baca:membeli) media cetak tersebut.
Perwajahan akan berperan sebagai bagian dari efektivitas keterbacaan media (channel) dalam penyampaian pesan dari si pembuat pesan (komunikator) kepada sasarannya (komunikan) dalam kegiatan komunikasi. Sebab, komunikasi — yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya sebagai sebuah disiplin ilmu sekaligus seni–, mengharapkan adanya mutual understanding atau makna bersama antara partisipan komunikasi secara efektif dan efisien.
Di balik itu, komunikasi bukanlah hipnotisme dimana si penerima begitu saja melakukan apa saja yang dikatakan kepadanya. Akan tetapi sebaliknya ia tidak sama sekali bebas untuk menafsirkan pesan-pesan yang diterimanya sesuka hatinya. Untuk itu ia adalah korban dari endapan pengertian masa lampaunya terhadap pesan-pesan, lambang-lambang yang dipakainya dan gambaran yang telah ditimbulkan dalam dirinya. Selain itu, kaidah-kaidah sistem komunikasi yang menyalurkan pesan-pesan itu juga membatasi dirinya.
Komunikasi berjalan apabila aktivitas si pengirim dan si penerima berbaur dan memberikan hasil yang dapat diperkirakan berdasarkan struktur makna yang dipahami bersama yang merupakan syarat yang harus ada dalam usaha komunikasi (Lewis:1969).
Komunikasi sendiri didefinisikan sebagai “proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, himbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka maupun tak langsung melalui media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, atau perilaku” (Effendy, 1989: 60).
Lambang (simbol) bermakna dioperasikan dalam proses komunikasi antarpartisipan. Jika di antara partisipan terdapat kesesuaian pemahaman tentang simbol-simbol tersebut, tercapai suatu keadaan yang bersifat komunikatif. Jika tidak, maka sebaliknya, terjadilah keadaan tidak komunikatif. Interaksi antar partisipan ini berusaha untuk saling memahami apa yang disampaikan oleh partisipan lainnya, berusaha untuk mencapai pengertian bersama (mutual understanding).
Dalam proses ini, simbol-simbol yang digunakan oleh partisipan terdiri dari simbol-simbol verbal (lambang bahasa, baik lisan maupun tulisan) dan simbol-simbol non verbal (gerak anggota tubuh, gambar, warna, dan berbagai isyarat yang tidak termasuk kata-kata atau bahasa). Rancang desain perwajahan adalah suatu bentuk pengolahan pesan yang menggunakan kedua lambang itu secara bersamaan, baik simbol verbal maupun non-verbal.
Meskipun perwajahan memberi kesempatan berekspresi secara verbal dan non verbal, sebagai alat katalisator penerimaan pesan dari sebuah media cetak, perwajahan harus tetap berada dalam koridor dan batas-batas komunikasi, dimana pesan haruslah menimbulkan pengaruh. Seperti dikemukakan Lasswell dalam Effendy (1988) komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media sehingga menimbulkan efek tertentu (Effendy,1988:13).
Seperti diketahui pengalihan pesan dapat berlangsung melalui beberapa saluran penginderaan. Tetapi menurut penyelidikan para ahli, dari seluruh kegiatan penginderaan manusia, 80 persen adalah secara kasatmata (visual). Menurut Gyorgy Kepes (1951), untuk mencerna suatu bentuk pesan kasatmata dituntut keterlibatan khalayak penerima informasi ke dalam suatu proses perencanaan pengorganisasian bentuk-bentuk.
Proses perencanaan perwajahan mutlak diperlukan. Tanpa perencanaan, media cetak tidak akan memiliki daya pikat. Oleh karena itu, sebelum memulai suatu proyek rancang desain perwajahan, tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:
Siapakahkhayalak yang dikehendaki?
Apa pesan utama yang coba Anda komunikasikan?
Dalam format apa, pembaca melihat pesan Anda: koran, tabloid, majalah,
dan lain sebagainya?
Jenis pesan apakah yang dipunyai pembaca dari sumber lain atau pesaing Anda?
Bagaimana hubungan publikasi ini dengan publikasi Anda yang lain?
Secara idealis, perwajahan media massa berkeinginan memenuhi kebutuhan pembaca dalam penerimaan beragam pesan hiburan, informasi, dan pendidikan. Di sisi lain, menarik masyarakat agar setia menggunakan medianya adalah suatu tindakan komunikasi yang menguntungkan. Dengan demikian, desain perwajahan bukan hanya semata suksesnya penyampaian pesan, tapi lebih jauh adalah bentukan dari fungsi, tujuan, dan sistem media secara keseluruhan.

Tata Letak/ Layout
Sebuah suratkabar mempunyai ciri-ciri, yang dapat dilihat dari format (broadsheet, tabloid, majalah, dsb), cara paginations (pemakaian kolom), cara pemakaian tipografi (huruf), warna, serta penempatan berita, foto, grafis dan iklan dalam satu halaman. Ciri-ciri itu pula yang akhirnya akan membedakan segmentasi pasar suatu media cetak. Untuk menengah ke atas atau menengah ke bawah.Lay out sendiri bertujuan untuk “sell the news”, grade the news set the tone dan guide the resders (menawarkan/menjual berita, menentukan rangking berita, membimbing para pembaca, akan hal-hal yang harus dibaca lebih dahulu).
Untuk memiliki berita, menentukan juga daya tarik setiap halaman, bagaimana isi setiap halaman itu. Misalnya, dari berita yang terpenting, menurun pada berita kurang penting. Dari berita kejadian yang dekat (baik tempat maupun waktu), menurun ke jarak yang lebih jauh. Kemudian lay out juga bertujuan menyesuaikan dengan gerak mata para pembaca
Dari tipografi, di samping perlu pengetahuan tentang warna dan jenis huruf, juga harus berjiwa seni. Sebab ukuran huruf untuk headline, panjang berita, besar dan warna foto atau tulisan sangat berpengaruh terhadap mate pembaca. Posisi suatu berita, isi dan pola yang digunakan semuanya untuk melayani pembaca. Sehingga lay out itu disesuaikan dengan siapa pembacanya.
Hal ini perlu ditekankan, karena desain, lay out, dan tipografi merupakan ekspresi cermin kepribadian suratkabar itu. Dengan itu semua, pembaca akan dapat memberikan penilaian, jenis suratkabar apa yang demikian itu. (Kalau lay out-nya seperti itu, itu koran anu, dan sebagainya).

Jenis Lay Out
Beberapa jenis lay out yang dikenal di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, symitrical layout: disebut juga foundry/vertical lay-out, karena seperti jemuran, letak berita-beritanya seimbang. Tentu saja kelihatan stasis dan kolot, karena dari hard ke hard bentangannya tetap saja. Lay out seperti ini digunakan oleh The New York Time.
Kedua, informal balance lay-out: banyak dipakai oleh banyak suratkabar, karena mengarah kepada kesempurnaan suatu keseimbangan. Foto yang hitam akan lebih baik jika diletakkan di kanan atas halaman, dan akan kelihatan berat, kalau diletakkan di bagian bawah halaman.
Ketiga, quadrat lay-out atau tata-rias segi empat: sangat baik untuk suratkabar yang akan dijual di pinggir jalan secara eceran, karena koran akan berlipat empat, dan pada seperempat bagian yang tampak itu akan diperlihatkan berita-berita penting dan menarik.
Keempat, brace lay-out: menonjolkan suatu berita besar. Lay out seperti ini sering menggunakan “Banner Headline”, judul panjang. Berita penting ditempatkan di sebelah kanan suratkabar, sehingga mengikat pandangan pembaca ke sana. Kemudian judul lain di sebelah kiri, dan sebelah kanan lagi.
Kelima, circus lay-out: tata-rias karnaval, karena ramainya halaman depan. Semua judul berita dipamerkan di halaman pertama, isinya di halaman lain. Contoh seperti ini adalah Pos Kota (Jakarta), atau koran-koran mingguan.
Keenam, horizontal lay-out: tata-rias mendatar. judul berita dibuat mendatar, dengan berita yang tidak terlalu panjang.
Ketujuh, function lay-out, tata-rias yang setiap hard berubah, bergantung kepada perkembangan dan isi berita hard itu. Bila terjadi hal-hal luar biasa, sering dipakai apa yang disebut “skyline heads”. Jadi ada gejala pemindahan nama tempat nama suratkabar itu sendiri. Lay out seperti ini sering juga dipakai oleh koran-koran Mingguan terbitan Jakarta.

Catatan:
1.Lay out hendaknya mengikuti kebiasaan arah mata berputar, yakni dari kiri ke kanan.Iklan hendaknya jangan diletakkan di halaman depan
2. Gambar yang baik, yang ada aksinya. Hindari memuat pasfoto. Karena dengan foto aksi (action) seolah-olah pembaca bertatap muka dengan orang bersangkutan.
3.Gambar hendaknya jangan di sebelah kiri halaman
4. Fungsi foto, sama dengan headline. Foto mempunyai fungsi yang penting dalam lay out
5. Gambar jangan bertumpuk. Kalau mau banyak, dapat diletakkan di halaman dalam atau bersambung ke halaman lain.
6. Kalau suratkabarnya berwarna, jangan terlalu banyak menampilkan warna. Sebaiknya redaktur mempelajari bahasa warna atau mengangkat seorang seniman yang mengerti arti warna
7. Berita ditulis bukan untuk menyenangkan sumber berita, tetapi untuk kepentingan pembaca.

Suplemen:
Software populer yang kerap digunakan dalam layout media cetak al: CORELDRAW, PHOTOSHOP, ADOBE PAGEMAKER.
Kepustakaan:
– Turnbull, Arthur T., & Baird, Russel N. 1980. The Graphics of Communication: typography, layout, design, production. New York: Holt, Rinehart and Winston.
– Parker, Roger J. 1991. Looking Good in Print: a guide to basic design for dekstop publishing.
– Artini, Kusmiati T, dkk. 1999. Teori Dasar Disain Komunikasi Visual. Jakarta: Djambatan.
– Effendy, Onong Uchyana. 1993. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
– Sudiana, Dendi. 1986. Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung: Remadja Karya.
– Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remadja Karya.

3 thoughts on “Perwajahan dalam Perspektif Komunikasi”

  1. tolong jelaskan apa pengertian koran?
    jenis-jenis koran?
    apa fungsi foto dalam koran?
    apa fungsi ilustrasi dalam koran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s