Daya (ke)Pelopor-an (Sebuah catatan reflektif)

Daya (ke)Pelopor-an (Sebuah catatan reflektif)
Oleh : Andre Yuris/ Kord. Tim Relawan Pendidikan Politik-TRPP/ Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya.

Andre YurisSempat dirisaukan kalau pendidikan politik ibarat barang dagangan stok lama yang kemungkinan untuk laku sangat kecil. Sebagai barang yang susah laku, penjual tentu tidaklah perlu memasang target yang muluk . Kerisauan, yang dalam hemat saya sangat wajar bila melihat dinamika kehidupan orang muda. Walaupun tertatih-tatih, toh pada prosesnya ternyata barang yang awalnya sulit dijual ternyata direspon positif alias laku. Semua indah pada waktunya, begitu kira-kira ungkapanya. Yang perlu disadari bersama adalah, respon positif ini tentu tidak muncul semerta-merta, tidak juga muncul tanpa daya. Dia lahir dari upaya dan tindakan bersama, dia juga lahir dari daya yang terpancar dari tiap pribadi dan komunitas.

Apa jadinya daya bila tidak diberdayakan ?, bisa jadi daya itu akan lenyap atau mungkin berubah kearah yang justru merusak. Segala kemungkinan bisa terjadi. Dari pengalaman dan perjumpaan selama proses pendidikan politik, disadari bahwa daya yang menguatkan dan mendorong setiap pribadi dan komunitas untuk terlibat perlu dihidupi bersama.

ke-Pelopor-an
Pelopor, istilah yang di pilih Romo Cuncun untuk menggambarkan daya yang ada dalam setiap pribadi dan komunitas OMK. Pilihan istilah yang secara pribadi saya akui menggelitik dan terasa keras. Pelopor dalam benak saya hanya bisa dilekatkan pada orang-orang super seperti Thomas Alfa Edison, Dr. Soetomo, Ki Hadjar Dewantara dan sederet nama besar lainya yang secara nyata membuka jalan bagi generasi selanjutnya dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Apakah OMK yang menjadi penggiat pendidikan politik wajar menyandang predikat sebagai pelopor?.

Jadi Pelopor ternyata bukan persoalan wajar atau tidaknya kita menyadang predikiat tersebut. Pelopor mengisyaratkan metalitet yang ada dalam setiap pribadi yang mampu melihat dan menyadari situasi hidup. Situasi hidup yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang mengubah dan mengharuskan kita untuk melakukan sesuatu yang kerap tidak kita sadari. Bukan semata-mata sesuatu yang besar dan menarik perhatian mungkin tidak dikenang. Namun sesuatu yang dirasakan berdampak positif terutama bagi pribadi dan dapat dikatakan sebagi bonus jika ikut berdampak bagi orang lain dan bahkan mendorongnya untuk terlibat. Dari perjumpaan dan pengalaman bersama dalam agenda pendikan politik entah disadari ataupun tidak kita memiliki daya kepeloporan yang bila kita hidupi bersama akan bermanfaat positif bagi setiap pribadi yang terlibat dan bukan tidak mungkin bagi umat, gereja dan Indonesia.

Perlu Langkah Nyata
Ketika daya sudah di sadari, lantas apa yang bisa dibuat. Membiarkanya dapat berarti lenyap atau mungkin jadi mudarat. Pilihanya adalah dihidupi. Untuk menghidupi selain membutuhkan kesadaran akan arus yang menopang hidup kita sebagai orang muda katolik tentu juga membutukan langkah dan tidakan nyata yang menjadi bentuk dan saluran bagi daya tersebut. Sadar akan arus yang menopang hidup sebagai OMK adalah sadar akan anugerah sakramen sebagai tanda pemberian rahmat Allah, melalui baptisan kita dibebaskan dari dosa, diangkat jadi putra-putri Allah dan menjadi anggota Gereja. Kesadaran yang sungguh menjadi akar daya, yang kadang terlewatkan dan mungkin perlahan terkikis.

Akar daya yang lebih akrab kita sebut sebagai spiritualitas panggilan dan keterlibatan kita sebagai OMK adalah arus yang menjadi penopang bagi langkah nyata. Langkah nyata yang di ambil dalam konteks pendidikan politik tentu sedapat mungkin mampu mendukung tujuan pendidikan politik. Esensi pendidikan politik adalah mendorong kesadaran dan kepekaan untuk terlibat dalam dinamika politik. Untuk mendorong partisipasi dan keterlibatan, langkah nyata yang diambil tentu sedapat mungkin mendekatkan OMK dengan realitas politik.
Pemilu Presiden 8 Juli 2009 adalah momentum politik terdekat yang dapat digunakan dalam rangka pendidikan politik. Pilihan langkah nyata selain berpartisipasi dengan menggunakan hak pilih adalah secara bersama memantau dan mengamati untuk pebelajaran politik. Aktivitas pemantauan Pilpres ’09 di pilih karena dirasa dapat mendekatkan OMK dengan realitas politik alasanya adalah dalam dua bulan kedepan kita akan berhadapan langsung dengan dinamika dan proses politik menjelang pemilu. Kesempatan belajar dalam momentum ini tentu semakin lebar. Selain dapat mendorong partisipasi yang luas, aktivitas pemantauan mudah di laksanakan apa lagi di tunjuang dengan jaringan OMK di tiap paroki dan keuskupan.

Pilihan langkah nyata yaitu menjadi relawan Jaringan Pemantauan Pilpres ’09, diharapkan semakin menghidupkan daya yang ada dalam tiap pribadi maupun sebagai komunitas muda katolik. Menjadi relawan dan terlibat dalam jaringan pemantau adalah upaya menghidupkan daya kepeloporan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s