OSPEK YANG DEWASA *


Risih rasanya menyaksikan orientasi pengenalan kampus (OSPEK) kepada mahasiswa baru di salah satu kampus swasta di Surabaya beberapa waktu lalu. Dibawah terik matahari, sekelompok mahasiswa lengkap denga topi petani, tas karung goni dan tanda nama seukuran kertas A3, berbaris terpisah dari mahasiswa baru lainya. Mereka ini dinyatakan melanggar peraturan kedisiplinan yang ditetapkan panitia. Lantas mereka menjadi bulan-bulanan bentakan dan keisengan panitia di saksikan mahasiswa lama yang ikut menyoraki.

Secuil pemandangan OSPEK diatas, perlu diakui masih dimudah ditemui kampus-kampus. Menghukum atau mengisengi calon mahasiswa seolah-olah menjadi pola wajib dan dipraktikan setiap tahun. Masa orientasi kampus pun kehilangan substansi dan motivasi, hanya menjadi sekadar rutinitas tahun ajaran belaka. Bahkan lebih jauh, masa orintesi seolah mejadi masa balas dendam, karena merasa pernah di perlakukan sama.

Pembentukan Citra Diri
Salah satu alasan yang ditemukan dari panitia untuk membenarkan pembentakan dan hukuman ini adalah agar para mahasiswa baru menjadi pribadi yang kuat dan mampu menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa. Alasan ini seyognya baik, namun metode yang dipilih kadang tidak tepat bila diterapkan pada calon mahasiswa, sehingga proses belajar mengenali lingkungan kampus dan pembentukan citra diri akhirnya tidak berlansung baik malah kontraproduktif.

Para mahasiswa baru yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly dan Brodzinski (1993) menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran orang dewasa. “Youth age is an ‘optional’ period of development in which an individual is legally an adult but has not yet undertaken adult work and roles, (1993:396).” demikian dituliskan.

Pada fase ini dapat dikatakan bahwa calon mahasiswa berada pada tahapan belajar serta peralihan citra diri. Perubahan citra diri siswa sekolah menengah menjadi mahasiswa. Dan hal yang paling penting adalah mereka belajar dan beralih menjadi pribadi-pribadi dewasa. Bila masa OSPEKditempatkan sebagai salah satu proses peralihan dan belajar, sudah seyognya pihak kampus memperlakukan mereka dengan cara pembelajaran orang dewasa. Continue reading OSPEK YANG DEWASA *

Advertisements

Berkenalan dengan Analisis isi (content analysis) *


Pengertian Analisis Isi
Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.

Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi, yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%).

Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedia komputer untuk mempermudah proses penelitian analisis isi, yang dapat terdiri atas 2 macam, yaitu perhitungan kata-kata, dan “kamus” yang dapat ditandai yang sering disebut General Inquirer Program.
Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut. Continue reading Berkenalan dengan Analisis isi (content analysis) *