Spiritualitas Lokal di Zaman Global

Opini
Spiritualitas Lokal di Zaman Global
Oleh Dr. Paul Budi Kleden
Sabtu, 22 Agustus 2009 | 08:49 WITA

Seorang Ibu Manggarai mengendong AnaknyaPROMOSI makanan lokal sedang gencar dilaksanakan. Maksudnya, kita perlu memanfaatkan apa yang ada pada kita selama itu berharga dan berguna. Tujuannya bukan untuk melarang makanan dari luar, melainkan agar kita kembali menghargai bahan makanan lokal sebagai satu pilihan.

Menggali kembali kekayaan lokal dapat juga membantu memberikan orientasi kepada kita saat kita tengah sibuk mendiskusikan arah dan program pembangunan di wilayah kita, khususnya dengan pemanfaatan kekayaan perut bumi melalui kegiatan penambangan. Spiritualitas yang dihidupi para leluhur kita dapat digali dan diangkat agar kita tidak kehilangan arah di tengah berbagai alternatif pembangunan yang merupakan buah dari interaksi global kita.

Umumnya masyarakat kita memiliki konsep tentang wujud tertinggi sebagai Bapa-Ibu (parentalis) . Tuhan adalah Bapa yang di atas, di langit, sekaligus Ibu yang di bawah, di bumi. Sebagai langit Dia merupakan yang tertinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi melampaui-Nya, dan sebagai bumi Dia merupakan yang paling rendah, dan tidak ada yang berada di luar jangkauan-Nya. Tuhan adalah yang jauh sekaligus dekat. Tuhan adalah perpaduan dua unsur yang memberikan, memelihara, menjamin dan merangkul kehidupan. Tuhan merangkul dan menaungi segala sesuatu.

Mengakui bahwa Tuhan adalah Bapa-Ibu berarti mengakui, bahwa dunia dan manusia ini dikehendaki dan dicintai-Nya. Tuhan menghendaki, menciptakan dan mencintai dunia dan manusia. Dunia dan manusia adalah baik menurut Tuhan, merupakan kebanggaan-Nya dan hendaknya senantiasa menjadi kebanggaan-Nya. Sebagai Bapa-Ibu Tuhan membesarkan, membiarkan tumbuh dan mendidik dunia dan manusia. Pendidikan merupakan peran penting bapa dan ibu, dan hal ini dikatakan juga tentang Tuhan. Tuhan tidak mengurung manusia di dalam kekerdilan dan kekanak-kanakan, melainkan membiarkannya tumbuh dan berkembang. Tuhan yang demikian memiliki sikap positif terhadap perkembangan dan pembangunan, melaluinya manusia bertumbuh. Tuhan dalam pandangan masyarakat kita bukanlah Tuhan yang anti perubahan, Tuhan yang hanya melegitimasikan status quo.

Tetapi sebagaimana bapa dan ibu dalam masyarakat tradisional, Tuhan pun akan murka apabila terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki- Nya, apabila manusia melakukan apa yang dilarang-Nya. Kemurkaan Tuhan, yang juga banyak dibicarakan dalam konsep tradisional masyarakat kita tentang Tuhan, pada dasarnya menunjukkan keberpihakan- Nya kepada kehidupan yang dikehendaki dan dilindungi-Nya sendiri. Dia akan menjadi murka, apabila manusia melakukan hal-hal yang mengganggu kehidupan, baik kehidupan dirinya maupun kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Kalau demikian, maka yang dapat kita pertahankan dalam konsep tentang Tuhan ini adalah keberpihakan Tuhan sendiri kepada kehidupan sebagai satu dasar untuk tetap mengusahakan penghormatan terhadap kehidupan dari pihak manusia. Setiap pembangunan, apabila hendak selaras dengan paham tentang Tuhan sebagai Bapa-Ibu, adalah pembangunan yang menghargai, menunjang dan memungkinkan kehidupan. Sebaliknya, pembangunan yang membungihanguskan, pembangunan yang mematikan dan membiarkan mati kelompok orang tertentu, adalah pembangunan yang tidak dikehendaki Tuhan. Tuhan yang adalah Bapa-Ibu seluruh dunia akan murka karena itu.

Selanjutnya, berdasarkan gambaran tentang Tuhan sebagai Bapa-Ibu, maka manusia dipandang sebagai anak, putera dan puteri Tuhan, bukan hamba. Manusia juga bukan tentara Tuhan yang mesti berperang membela hak-Nya. Tuhan dalam pandangan masyarakat kita bukanlah Raja, melainkan Bapa-Ibu. Karena Bapa-Ibu kita adalah seluas langit dan sedalam bumi, maka yang menjadi anak-Nya bukan cuma kelompok kita, suku kita, pulau kita. Mengakui Tuhan sebagai Bapa-Ibu di Langit dan Bumi berarti mengakui, bahwa semua manusia dan seluruh dunia adalah ciptaan yang dikehendaki, diciptakan dan dilindungi Tuhan. Hal ini patutu disebut sebagai solidaritas: merasa senasib dan bertanggungjawab atas satu sama lain.

Solidaritas kita tidak hanya berkaitan dengan orang-orang yang hidup pada waktu yang sama dengan kita. Karena Tuhan adalah Bapa dan Ibu yang kekal, maka solidaritas yang muncul dari pandangan ini mesti pula mencakup mereka yang lahir sesudah kita. Kita tidak hanya memperhatikan kepentingan orang-orang sekarang, tetapi juga kebutunan anak dan cucu kita nanti. Pembangunan yang dibingkai oleh pendangan seperti ini akan memperhatikan dampak dari usaha ini untuk kehidupan mereka yang menghuni bumi ini setelah kita.

Selain itu, mengatakan bahwa Tuhan adalah Bapa-Ibu berarti mengatakan, bahwa hak atas hidup pada tingkat paling akhir dimiliki oleh Tuhan sendiri. Keyakinan seperti ini melindungi manusia dari segala macam pihak yang mengklaim diri sebagai yang berhak untuk menuntut korban dari manusia. Atas nama kepentingan yang lebih besar pihak penguasa sering menuntut orang untuk mengorbankan sesuatu demi kegiatan pembangunan. Pihak penguasa itu sering dengan agak mudah merasa berhak bertindak atas nama Tuhan untuk menuntut korban dari orang lain demi kegiatan pembangunan. Yang menjadi masalah adalah, bahwa pihak yang diminta untuk mengorbankan sesuatu itu selalulah pihak yang sama: orang-orang yang tidak berdaya dan tidak berpengaruh, karena kepentingan mereka tidak banyak dilindungi dalam pengaturan kebijaksanaan pembangunan. Di sini, kembali mengingat, bahwa Tuhan adalah Bapa-Ibu untuk semua orang dan sebagai Bapa-Ibu menjadi satu-satunya yang berhak atas hidup manusia, dapat membantu untuk lebih hati-hati dengan segala macam pembicaraan tentang korban demi kepentingan umum.

Hal lain yang perlu diangkat sebagai konsekuensi dari pandangan ini adalah soal kesetaraan gender. Kalau Tuhan sendiri sebagai pencipta dan penyelenggara kehidupan sudah merangkul dalam diri-Nya unsur Bapa dan Ibu, aspek kelelakian dan keperempuanan, dan apabila Tuhan yang demikian dipandang sebagai yang menciptakan dan mengatur perjalanan dunia, maka adalah selayaknya, apabila di dalam masyarakat pun ada kesetaraan gender dalam pengaturan perjalanan masyarakat. Perempuan adalah bagian yang utuh dan setara dengan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab itu, kaum perempuan mesti diberikan tempat yang pantas dalam mengatur, merencanakan dan melaksanakan berbagai program pembangunan di dalam masyarakat. Kita boleh mengatakan, bahwa ukuran keberhasilan sebuah pembangunan yang dilandasi spiritualitas pembangunan model ini adalah tingkat keterlibatan kaum perempuan di dalamnya. Dengan demikian, spiritualitas yang dilandasarkan pada paham tentang Tuhan semestinya menjadi dasar untuk sebuah pembangunan yang demokratis dan terus-menerus menjadi acuan kritis bagi setiap program pembangunan di wilayah ini, sejauh mana program itu sungguh dilaksanakan secara demokratis dan demi kepentingan para warga masyarakat.

Konsekuensi lain dari pandangan Tuhan sebagai Bapa-Ibu adalah pemahaman dan sikap terhadap lingkungan alam. Karena Tuhan adalah Langit dan Bumi, adalah segala sesuatu, maka segala sesuatu itu mempunyai nilai yang terangkum di dalam Dia, juga alam ciptaan. Dalam pandangan tradisional masyarakat kita, alam, bumi adalah hunian Tuhan, adalah milik Tuhan, yang memperoleh nafas kehidupan dari-Nya dan meneruskan semangat-Nya untuk manusia. Tuhan, alam dan manusia merupakan satu kesatuan kehidupan. Karena itu, dituntut spiritualitas yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Ada dua hal yang dapat diangkat dari spiritualitas yang demikian dalam kaitan dengan alam.

Pertama, menumbuhkan kembali rasa hormat terhadap alam. Yang dimaksudkan adalah tumbuhnya kesadaran, bahwa alam merupakan bagian dari ciptaan yang dilindungi oleh Tuhan. Alam dilindungi, agar dia tidak hancur di bawah kerakusan seseorang, satu bangsa atau satu generasi untuk memperkaya dan mengenyangkan diri sendiri. Alam perlu dilindungi, karena keutuhannya akan sangat mempengaruhi kehidupan manusia seluruhnya. Rasa hormat terhadap alam akan mengembalikan alam ke dalam lingkaran kehidupan manusia. Alam menjadi hidup, sebab dia menjadi bagian yang utuh dan penting dari kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Merusakkan alam berarti merusakkan manusia sendiri dan seluruh dunia.

Hal ini menjadi semakin penting untuk disadarai di tengah sebuah masa pembangunan yang mengabaikan faktor alam. Banyak orang berbicara tentang pelestarian lingkungan. Namun hal ini hanya akan berhasil, apabila dipupuk sebuah spiritualitas yang mendekatkan alam kepada manusia dan manusia kepada alam, sebuah spiritualitas yang menekankan daya hidup dari alam. Sikap terhadap alam tidak dapat hanya merupakan sebuah strategi, tetapi perlu lahir dari sebuah pandangan yang organis tentang kaitan antara manusia dan alam.

Hal kedua yang perlu ditekankan adalah soal belajar dari alam. Apabila kita memahami Tuhan sebagai Bapa-Ibu yang menciptakan alam, maka Bapa-Ibu itu pun menggunakan alam sebagai sarana untuk mendidik dan mengembangkan kita. Kedekatan masyarakat tradisional kepada alam menjadikan mereka murid yang setia dari alam, memungkinkan mereka hidup dalam keserasian dengan alam. Kalau demikian, kita mesti berpaling kepada alam dan belajar dari sana: misalnya kita belajar tentang keharmonisan dan keseimbangan yang menjamin kesejahteraan. Pembangunan yang sungguh mengantar kepada kesejahteraan adalah pembangunan yang seimbang, yang memperhatikan keseimbangan kekayaan dan kekuasaan dalam masyarakat.

Mengangkat nilai-nilai lokal ini bukan berarti kita bersikap anti terhadap perkembangan global. Menggali kekayaan spiritual tradisional ini sama sekali tidak berari kita memusuhi modernitas dan melarang orang untuk mengambil manfaat dari perkembangan dunia modern. Yang dimaksudkan adalah agar di tengah perkembangan global dan modern ini kita memperhatikan dan memelihara nilai-nilai seperti keseimbangan, kebebasan dan keadilan, yang menjadi inti perjuangan dari globalisasi dan modernisasi itu sendiri. Ketika globalisasi dan perkembangan modern bertendensi meminggirkan sejumlah aspek yang menjadi bagian utuh dari kehidupan, kita perlu mencari sumber yang memberikan keseimbangan. Salah satunya adalah spiritualitas lokal kita. Tentu saja yang lokal ini pun perlu ditafsir sesuai konteks modern dan global.*

Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s