IMG_0143

OSPEK YANG DEWASA *

Risih rasanya menyaksikan orientasi pengenalan kampus (OSPEK) kepada mahasiswa baru di salah satu kampus swasta di Surabaya beberapa waktu lalu. Dibawah terik matahari, sekelompok mahasiswa lengkap denga topi petani, tas karung goni dan tanda nama seukuran kertas A3, berbaris terpisah dari mahasiswa baru lainya. Mereka ini dinyatakan melanggar peraturan kedisiplinan yang ditetapkan panitia. Lantas mereka menjadi bulan-bulanan bentakan dan keisengan panitia di saksikan mahasiswa lama yang ikut menyoraki.

Secuil pemandangan OSPEK diatas, perlu diakui masih dimudah ditemui kampus-kampus. Menghukum atau mengisengi calon mahasiswa seolah-olah menjadi pola wajib dan dipraktikan setiap tahun. Masa orientasi kampus pun kehilangan substansi dan motivasi, hanya menjadi sekadar rutinitas tahun ajaran belaka. Bahkan lebih jauh, masa orintesi seolah mejadi masa balas dendam, karena merasa pernah di perlakukan sama.

Pembentukan Citra Diri
Salah satu alasan yang ditemukan dari panitia untuk membenarkan pembentakan dan hukuman ini adalah agar para mahasiswa baru menjadi pribadi yang kuat dan mampu menjalankan tugasnya sebagai mahasiswa. Alasan ini seyognya baik, namun metode yang dipilih kadang tidak tepat bila diterapkan pada calon mahasiswa, sehingga proses belajar mengenali lingkungan kampus dan pembentukan citra diri akhirnya tidak berlansung baik malah kontraproduktif.

Para mahasiswa baru yang belajar di perguruan tinggi pada jenjang program diploma atau sarjana umumnya berusia antara 18-24 tahun. Ahli psikologi perkembangan mengkategorikan kelompok usia ini sebagai dewasa awal (early adults). Gormly dan Brodzinski (1993) menyatakan bahwa pada usia ini orang muda memasuki periode pengambilan keputusan, dapat dianggap sudah dewasa namun belum mengambil banyak peran orang dewasa. “Youth age is an ‘optional’ period of development in which an individual is legally an adult but has not yet undertaken adult work and roles, (1993:396).” demikian dituliskan.

Pada fase ini dapat dikatakan bahwa calon mahasiswa berada pada tahapan belajar serta peralihan citra diri. Perubahan citra diri siswa sekolah menengah menjadi mahasiswa. Dan hal yang paling penting adalah mereka belajar dan beralih menjadi pribadi-pribadi dewasa. Bila masa OSPEKditempatkan sebagai salah satu proses peralihan dan belajar, sudah seyognya pihak kampus memperlakukan mereka dengan cara pembelajaran orang dewasa.

Andragogi atau Pembelajaran Orang Dewasa
Hal yang kiranya cocok di kemukaan terkait dengan pelaksanaan OSPEK adalah mengenalkan kembali prinsip andragogi. Prinsip pembelajaran bagi orang dewasa atau andragogi yang dikenalkan Malcom S. Knowles (1970), secara spesifik yang menegaskan secara spesifik bahwa cara belajar orang dewasa sangat berbeda dengan anak-anak. Prinsip andragogi memberikan penekanan pada proses membimbing atau membantu orang dewasa unutk belajar atau “ the art and science of helping adults learn.”. Pada titik ini, kiranya perlu disepkati dulu bahwa mahasiswa baru adalah pribadi-pribagi dewasa yang memiliki kekayaan intelktual dan pengalaman, jadi sudah sepantasnya di perlakukan dewasa.

Sebagai orang dewasa, masa orientasi terhadap mahasiswa baru harus didasarkan pada asumsi bahwa pertama: mereka mampu mengarahkan dirinya dan belajar sesuai kebutuhannya. Kedua, Pengalaman meraka dapat dijadikan sumber dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya. Ketiga, Kesiapan mereka unutk belajar, bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya. Keempat, Orientasi belajar mereka tidak lagi berpusat pada bahan pengajaran semata tapi pemecahan-pemecahan masalah. Kelima, Motivasi belajar tidak dengan pemberian pujian dan hukuman tapi dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.

Bila dikaitkan dengan pegamatan saya tentang OSPEK, sangat nyata bahwa para mahasiswa baru masih dianggap sebagai anak-anak oleh para panitia atau mungkin juga oleh pengampu pendidkan tinggi. Dugaan ini cukup beralasan bila melihat pelaksaan pada tahun sebelumnya yang mempraktikan hal yang sama pula. Dan juga mengisyaratkan, kalau perguruan tinggi yang ada belum mampu merubah kultur yang tidak ramah bagi para pembelajar. OSPEK atau apapun istilah yang dipakai semestinya menjadi proses yang ramah bagi para mahasiswa baru bukan sebaliknya.

Nyatanya, perlu dilakukan pembenahan motovasi dan orientasi kegiatan OSPEK oleh semua elemen perguruan tinggi. Para pejabat perguruan tinggi (rektorat), kirannya perlu secra khusus dan berkala memberikan dan memperkenalkan prinsip metode andragogi bagi para fasilitator (panitia) atau para aktivis kampus. Para aktivis kampus yang manjadi fasilitator berbagai kegiatan sangat perlu memahami bahwa yang mereka hadapi dalah orang dewasa. Langkah ini menjadi sangat perlu karena masa orientasi masih dirasa cukup penting bagi mahasiswa baru untuk masuk fase yang baru atau kuliah.

Bagi para fasilitator (panitia) rasa-rasanya sudah harus meninggalkan cara-cara usang yang sesungguhnya tidak ramah bagi para pembelajar dewasa. Selain tidak ramah, metode per-peloncoan terlampau jauh dari iklim intektual, kritis dan demokratis yang semestinya lekat pada mahasiswa. Kendala yang kadang ditemui adalah banyak aktivis yang berlindung dibalik klaim kreatifitas yang sesungguhnya tidak masuk akal. Perubahan pola dan metode OSPEK menjadi penting karena kampus masih merupakan satu-satunya ibu yang menyusui intelektualitas, demokrasai serta kontrol sosial..:

Andre Yuris-Nera Academia /2009

2 thoughts on “OSPEK YANG DEWASA *”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s