MANUSIA, KOMUNITAS DAN SIMBOL (referensi penelitian komunikasi)

makar 2009 ukmk unitomo
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi dengan manusia lainya. Kebutuhan sosialisasi, interaksi dan komunikasi menyebabkan manusia berkumpul, bersekutu dalam suatu wadah yang disebut komunitas. Manusia disebut pula sebagai hommo socius karena tidak dapat hidup sendiri tanpa manusia lain. Manusia dapat hidup dan bertahan jika menjalani kehidupan sebagai sebuah aktifitas interaksi, komunikasi dan kerjasama dalam jaringan kedudukan dan perilaku (Liliweri,2004;1). Artinya, hampir seluruh kehidupan manusia baik sebelum atau dilahirkan, merupakan kesatuan aktifitas interaksi, komunikasi dan kerjasama yang diwujudkan dalam perbuatan, tingkah laku maupun proses berpikir.

Rangkaian aktifitas interaksi, dan komunikasi yang dilakukan manusia bersifat natural atau alamiah karena berlangsung begitu saja dan berdasarkan naluriah manusia. Aktifitas tersebut diatas berlangsung secara terus menerus yang pada akhirnya menghantarkan manusia pada keteraturan. Keteraturan yang dimaksudkan disini adalah bahwa dalam berhubungan dengan manusia lain, ada kesepakatan bersama tentang pola tindakan, perbuatan yang disepakati bersama. Keteraturan dalam melangsungkan interaksi, komunikasi merupakan landasan bagi terbentuknya komunitas.

Komunitas merupakan sarana refleksi, pertumbuhan dan pengembangan pikiran, kesadaran dan kesenangan dari sekelompok orang. Kesadaran dan kesenangan tersebut dapat berupa gagasan, ide, pengetahuan dan pemahaman. Seiring dengan aktfitas dan interaksi dan komunikasi yang berlangsung secara terus menerus, gagasan, ide dan pengetahuan yang dimiliki individu-individu dalam komunitas tersebut dipertukarkan diantara mereka. Hasil pertukaran yang dianggap mampu mewakili keinginan dan pikiran dari semua anggota komunitas dapat menjadi semacam aturan, ciri khas, norma dan identitas bersama.

Ada begitu banyak bentuk komunitas yang dapat kita temui dalam kehidupan setiap hari. Secara sadar tentunya setiap manusia mendekatkan dirinya dengan komunitas-komunitas yang dianggap memberikan rasa nyaman, kesenangan dan wadah pengembangan pikiran. Setiap individu dalam masyarkat secara pasti memiliki keinginan menjadi bagaian dari komunitas tertentu. Motif dasarnya adalah kebutuhan interaksi, sosialisai dan komunikasi, selain itu ada keinginan untuk menunjukan eksisistensi (keberadaan). Eksistensi seseorang dalam komunitas juga menunjukan identitas (jati diri).

Keinginan seseorang atau sekelompok orang untuk masuk atau membentuk komunitas sangat tergantung pada kesadaran diri (self conescious). Kesadaran diri merupakan kemampuan sesorang untuk mengidentifikasikan diri berdasarkan kualitas yang dimilikinya. Kemampuan sesorang untuk mengetahui hobby, kesenangan, kemampuan jasmani dan spritual, intelektual, serta finansial yang dimiliki sesorang dapat menyebabkan sesorang dapat bertahan atau eksis dalam suatu komunitas. Seseorang yang tidak berhasil mengidentifikasi kualitas diri akan kesulitan menjadi bagian dari komunitas dan apalagi membentuk komunitas.

Berhasil mengidentifikasi kualitas diri merupakan jaminan terbentuknya komunitas. Komunitas (communities) seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan sarana refleksi, pertumbuhan dan pengembangan pikiran, kesadaran dan kesenangan dari sekelompok orang yang memiliki komitmen barsama. Kesamaan dalam kualitas diri (contoh: hoby) tentunya akan mempermudah setiap indivdu untuk dapat berinteraksi ataupun melakukan refleksi dan mempertukarkan ide diantara mereka.

Konsepsi terbentuknya sebuah komunitas seperti yang di ungkapkan diatas membawa kita pada kesimpulan awal bahwa komunitas (communities) terbetuk secara alamiah dan berdasarkan kesamaan kualitas diri yang dibangun melalui proses interaksi dan komunikasi intensif. Sekadar memberikan perbandingan, komunitas dan organisasi memiliki perbedaan mendasar. Awal terbentuk dan persyaratan dasar (orang, tujuan, kesamaaan) relatif sama. Yang membedakan antara komunitas dan organisasi adalah aturan. Dalam organisai aturan ( pembagian tugas, hak dan kewajiban) diatur secara formal sedangkan dalam komunitas perangkat aturan dibangun atas dasar saling pengertian dan merupakan kovensi tidak tertulis . Dalam hal pembagian tugas komunitas tidak mengenal pembagian tugas secara formal tetapi bersifat insidental (berdasarkan peristiwa atau kejadian baik yang direncanakan maupun tidak direncanakan).

Kita sering mendengar menyaksikan dan terlibat dalam komunitas dilingkungan tempat tinggal kita. Entah itu komunitas hoby, pekerjaan, etnis maupun pendidikan. Gejala umum yang bisa kita amati dari komunitas adalah apa yang membuat komunitas tersebut menjadi khas?. Kekhasan / keunikan dari sebuah komunitas ditunjukan melalui identitas yang mereka gunakan. Identitas tersebut dapat berupa assesoris, bahasa, aktifitas maupun perilaku yang mereka tunjukan.
Identitas yang digunakan oleh anggota komunitas seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan ssalah satu cara untuk menunjukan eksistensi kelompok. Identitas berupa asseoris, bahasa, aktifitas maupun prilaku anggota komunitas dalam studi semiotika disebut sebagai simbol (symbol). Disebut sebagai simbol karena identitas tersebut merupakan tanda yang menunjukan eksisitensi kelompok dan berlaku sama diantara anggota berdasarkan konvensi (kesepakan bersama). Simbol yang mereka gunakan merupakan media komunikasi dan interaksi antar anggota maupun untuk mengomunikasikan eksistensi kelompok ke lingkungan.

Studi tentang simbol tentunya menjadi penting karena simbol menjadi media yang paling banyak digunakan dalam komunikasi manusia. Dalam menjalankan proses komunikasi dan interaksi, manusia membutuhkan simbol untuk mentrsanfer pesan kepada orang lain. Setiap simbol yang ada tidak bisa dimaknai sama, setiap komunitas memberikan makna berbeda terhadap sebuah simbol walaupun simbol tersebut berwujud sama. Artinya untuk memahami simbol yang harus dipahami terlebih dahulu adalah lingkungan ( baca : komunitas) tempat simbol itu digunakan atau berasal.

Untuk memaknai simbol yang digunakan komunitas tertentu, tentunya hanya dapat dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam komunitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Tantangan penelitian simbol adalah kemampuan peneliti untuk masuk dan berinteraksi secara langsung dengan simbol maupun anggota komunitas. Oleh sebab itu dalam penelitian ini, kemampuan untuk menginterpretasi menjadi sangat penting. Tetapi tentunya didukung oleh kemampuan berinteraksi melalui wawancara (baik soft maupun deep interview) dan pengamatan yang jeli. (ANDRE YURIS, 2009 DOK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s