FRANCISCUS XAVERIUS SEDA : Dari Flores Ke Jakarta

FRANCISCUS XAVERIUS SEDA
Frans Seda terlibat dalam banyak kegiatan, rajin pula menulis artikel di pelbagai penerbitan. Terutama masalah ekonomi, juga politik. Belakangan, kongres ke-4 Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), memilih dia sebagai ketua umum. Sebelumnya, ia menggantikan Soedarpo Sastrosatomo menjadi ketua Indonesische Nederlandsche Associatie (INA), 1983.

Seda adalah pendiri sekaligus pengurus Yayasan dan Universitas Katolik Atma Jaya, juga dekan fakultas ekonomi di universitas itu. Sedangkan di Yayasan Bentara Rakyat, penerbit harian Kompas, ia wakil ketua, dan di PT Gramedia anggota dewan komisaris.

Selalu banyak senyum, komisaris PT Narisa — pabrik pakaian jadi — ini biasa bekerja keras sejak kecil. Ayahnya, Paulus Setu Seda, seorang kepala SD. Pamannya, Pisu Sega Seda, seorang kapitan (lurah). Dari kedua orang itulah, di Desa Lekebai, Paga, Kabupaten Sikka, Flores, ”Saya mendapat pendidikan mendalam tentang cara membaktikan diri kepada masyarakat,’ ‘ tutur anak pertama dari delapan bersaudara ini.

Keluarganya di daerah itu termasuk berkecukupan. Suatu saat, pamannya membuka persawahan, menanam kemiri, kelapa, dan memulai program perbaikan kampung. ”Tindakan Paman itu sangat mengesankan buat saya,” katanya. ”Sekarang daerah saya penghasil kemiri nomor satu.”

Sesudah tamat SD di Flores, 1940, Frans Seda merantau ke Muntilan, Jawa Tengah. Di sana, sambil belajar di SMP, ia menjadi tukang rumput, pengaduk makanan, dan pemerah susu pada sebuah peternakan di lereng Gunung Merapi. Lantas ia dipercaya sebagai loper susu dan penagih rekening.

Lulusan Katholieke Economische Hogeschool di Tilburg, Negeri Belanda, ini di Jakarta lantas berwiraswasta dan menerjuni dunia politik. Sebagai Ketua Umum DPP Partai Katolik, ia menjadi anggota MPRS dan DPR-GR. Kemudian berturut-turut menjabat menteri: perkebunan, pertanian, keuangan, dan perhubungan. Ketika menjadi Dubes RI di Brussel, untuk Belgia dan Luksemburg, ia merangkap kepala perwakilan RI untuk MEE. Kembali ke Indonesia, dua tahun ia menjadi anggota DPA, sejak 1976.

Terbuka dan suka humor, suatu waktu ia berbicara tentang pemuda. ”Ada suatu perbedaan,” katanya, ”pemuda zaman saya belajar politik dari pidato Bung Karno dan Bung Hatta. Sekarang lain, mereka belajar dari penataran ke penataran.”

Menikah dengan Johanna Maria Pattinaya, ayah dua anak ini menjadi anggota komisi kepausan Isutitia et Pax (Keadilan dan Perdamaian) diangkat oleh Paus Yohannes Paulus II, 1984. Biasa jogging atau jalan kaki selama satu jam, dan sesekali berenang. (sumber : milis orangmuda@yahoogroups.com)

***************************************************************************************
Ketika Pak Seda Mudik…
Kompas, 9 November 2005

St Sularto

Ulang tahun ke-79 memang tidak seistimewa ulang tahun ke-50, apalagi ke-80. Namun, bagi Drs Franciscus Xaverius Seda, setiap ulang tahun harus diistimewakan.

Maka pada ulang tahun ke-79, tepatnya 4 Oktober 2005, dia ajak sejumlah rekannya di Jakarta, di antaranya Pak Jakob Oetama, merayakannya di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mantan menteri sejumlah departemen, komisaris beberapa perusahaan, kolumnis—Pak Frans Seda—mudik.

Berbeda dengan perayaan ulang tahun selama ini, pesta mudik kali ini tidak menyertakan istri dan anak-anak. Pak Seda dan rombongan napak tilas ke Desa Lekebahi—sekitar 20 kilometer barat Maumere—tempat kelahiran dan kuburan leluhurnya. Bertemu dengan adik-adiknya di antaranya membahas soal pelimpahan tanah warisan untuk gereja setempat. Merayakan ulang tahun dengan misa syukur di Maumere, disusul peresmian Taman Bacaan Frans Cornelissen.

Di samping itu, dia juga meminta Pak Jakob Oetama menyampaikan ceramah di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. Mengunjungi Larantuka, kota Rosario yang memiliki tradisi prosesi Jumat Suci, arak-arakan patung Maria keliling kota, tradisi yang terus dilestarikan dan menjadi daya tarik turisme sejak abad ke-16. Mengunjungi Biara Trapis di bukit terpencil sebalik Larantuka.

Jadilah, Pak Frans Seda mudik, tanggal 26-30 Oktober 2005. ”Ibu (Yohanna Pattinaya) kok tidak ikut, Pak?”

”Sedang sakit,” katanya.

”Anak-anak (Ery dan Nessa) tak ngawal?”

”Mereka tak bisa meninggalkan kesibukan.”

Itulah jawaban-jawaban singkat Pak Seda setiap ditanya soal mudiknya tanpa keluarga.

Cerita tentang kebesaran dan keelokan bumi Flores dan manusia Flores mengalir selama perjalanan. Pagi itu, dalam cuaca cerah dengan perbukitan hijau pada musim hujan, sepanjang perjalanan, panorama indah Pulau Flores tidak dia lewatkan.

Dalam perjalanan darat sesekali dia minta pengemudi menghentikan mobil. Dia borong buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalan antara Maumere dan Larantuka. ”Beli semua. Mereka tak punya apa-apa di sini. Nanti untuk para pater di biara,” katanya.

Pada lain kesempatan, dia minta mobil dihentikan lagi, hanya untuk menyapa orang-orang yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan.

Kepada serombongan anak sekolah berseragam pramuka, dia sapa, ”Eh, kamu kelas berapa? Anggota pramuka harus bisa nyanyi. Nyanyikan lagu pramuka!”

Anak-anak kebingungan. Ketika didesak seorang rekan, ”nama bapak ini pasti kalian kenal”, baru mereka sadar berhadapan dengan ”orang besar”. Kemudian terdengar alunan lagu ”Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.…”

Pak Seda pun ikut menyanyi dengan penuh semangat. ”Bagus-bagus, ini kalian bagi-bagi bertiga,” katanya sambil menyodorkan uang lima ribuan. Anak-anak itu bengong, berusaha mengingat-ingat siapakah ”bapak berprofil Flores yang baik hati itu”.

Makna pluralisme

Hari terakhir mudik, Sabtu (29/10), menampakkan sepenggal sisi sosok Frans Seda. Dia rela dan senang digelari ”sesepuh”, sebutan yang berasal dari kosakata bahasa Jawa. Masuk akal sebab Pulau Jawa telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Setelah tamat sekolah rakyat di Ndao (Ende, Flores) tahun 1940, ia pergi ke Yogyakarta, berjuang keras, misalnya, pernah jadi tukang rumput dan penjual daging sambil bersekolah di SMP Bopkri. Sekolah guru di Muntilan akhirnya menjadi tempat kota berlabuh kedua di Jawa.

Di bawah asuhan Pater Van Lith—pastor Jesuit—Frans Seda semakin mengenal Indonesia bukanlah hanya Flores. Di asrama calon-calon guru yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu Frans Seda berkenalan dan mengakrabi makna pluralisme.

Gelar sarjana ekonomi diperoleh dari Katholike Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda, tahun 1956. Berlatar belakang pendidikan ekonomi, Frans Seda dikenal sebagai ekonom, yang produktif menulis artikel-artikel ekonomi, sampai sekarang. Ditambah minat dan keterlibatannya dalam politik praktis, terutama pernah menjadi Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968), pemikiran-pemikiran nya tentang masalah ekonomi selalu didekati secara politik, tidak ekonomis teknis.

Pengalamannya di bidang pemerintahan, di antaranya pernah menjadi menteri di empat departemen dalam rentang waktu yang berbeda-beda—terakhir sebagai penasihat presiden pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri—membuat Frans Seda jadi sumber bertanya berbagai pihak.

Mudik, menuju udik ke Flores, selama lima hari mengingatkan apa yang berkali-kali disampaikan Pak Frans Seda, ”Bung Karno menggelorakan semangat Merdeka atau Mati, kalau saya ingin agar Flores Merdeka dan tidak mati.”

”Saya masih ingin pergi lagi, mengajak teman-teman tahun depan,” katanya menambahkan.

************************************************************************************
Buku Khusus 80 Tahun Frans Seda

Maumere, Kompas Rabu, 01 November 2006 – Festival Ledalero 2005-2006 di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Senin (30/10), ditutup. Acara ditandai dengan persembahan buku dari Penerbit Ledalero khusus untuk mengenang 80 tahun Frans Seda, yang jatuh pada 4 Oktober. Buku yang berjudul Rancang Bersama Awam dan Klerus itu langsung diserahkan kepada Frans Seda.

Frans Seda, mantan menteri empat departemen dalam rentang waktu berbeda-beda, dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja.

Dalam sambutannya, Frans Seda tak menyinggung banyak soal buku ini. Ia justru menekankan rasa bangganya terhadap pementasan sejumlah tarian adat khas Flores yang ditampilkan pada Senin malam.

“Malam ini saya melihat kembali mutiara yang terpendam, yang sekian lama kebudayaan dihimpun menjadi satu. Saya bangga dengan Flores sebagai pulau penuh keindahan bunga di laut, yaitu karang-karang yang berbunga,” tutur Frans Seda yang memberikan sambutan dalam posisi duduk.

“Saya orang yang senja, tetapi di saat senja, berarti besok ada matahari terbit. Dan, di kala senja, saya dapat melihat pengalaman berharga di masa lampau,” katanya.

Hadir dalam penutupan festival ini adalah Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya, Uskup Maumere Mgr Vinsensius Sensi Potokota Pr, sejumlah pejabat Muspida Sikka, dan beberapa pejabat di daratan Flores.

Bagi Frans Lebu Raya, festival ini adalah ajang pembangunan seni budaya serta pengembangan minat dan bakat bagi generasi muda. Ini kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan aneka kesenian yang selama ini masih terpendam.

“Kaitan dengan sumpah pemuda, kita dapat mengambil hikmah idealisme yang dibangun agar generasi muda hidupnya bisa bermanfaat bagi orang lain serta mengembangkan daya saingnya. Anak-anak muda yang mengikuti festival ini juga memiliki potensi luar biasa. Hal ini perlu dikembangkan dan ini memerlukan dukungan pemerintah,” ujar Frans Lebu Raya yang sekaligus menutup festival.

Frans M Parera, yang mewakili pendiri Kelompok Kompas Gramedia Jakob Oetama mengatakan, Kompas Gramedia tetap konsisten menerbitkan buku-buku sastra meski mulai tahun 2000 kecenderungan pasar menurun.

“Tahun 1998 buku-buku sastra menjadi best seller dan Kompas Gramedia merespons hal itu. Akan tetapi, dua-tiga tahun kemudian minat pasar makin berkurang. Kami sempat bimbang, apakah terus menerbitkan buku-buku sastra atau tidak. Namun, rupanya ada suara dari Timur, termasuk dari almamater saya, bahwa buku-buku sastra tetap dibutuhkan. Bagaimanapun, karya sastra harus tetap eksis,” tutur Parera.

Rangkaian acara penutupan ini digelar 28 Oktober-30 Oktober 2006. Festival dibuka tahun lalu, sementara rangkaian acara penutupan diawali dengan pementasan teater Aletheia Ledalero dan peluncuran serta bedah buku berjudul Tapak-tapak Tak Bermakna. Buku itu berisi kumpulan 10 cerpen dan 17 puisi pelajar SMU dan mahasiswa perguruan tinggi di Flores hasil lomba karya tulis dalam rangkaian Festival Ledalero 2005-2006. Buku itu dibedah oleh sosiolog Dr Ignas Kleden dan novelis Maria Matildis Banda. (SEM)

Franciscus Xaverius Seda (Lahir: Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926 adalah politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik, dan pengusaha Indonesia.

Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya antara lain adalah Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964), Menteri Keuangan (1966 – 1968) sewaktu awal Orde Baru, serta Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan I.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s