TIPS & TRIK Tentang Charles Ebbets yang (Nyaris) Terlupakan


Kompas, Selasa, 16 Februari 2010 | 03:31 WIB

Oleh ARBAIN RAMBEY

BETTMAN/CORBI/CHARLES EBBETS [“Lunchtime atop a Skyscraper”]

Apa syarat agar seseorang bisa disebut fotografer besar? Berapa foto terkenal harus dia hasilkan? Apa yang terjadi kalau seorang fotografer hanya punya sebuah foto terkenal, dan foto itu sempat tidak diketahui siapa pembuatnya selama 71 tahun?

Itulah yang terjadi pada foto berjudul ”Lunchtime atop a Skyscraper” karya Charles Ebbets. Dibuat pada 29 September 1932, tetapi baru pada Oktober 2003 foto ini dikenali sebagai karya Charles Ebbets setelah sempat ditiru berbagai foto lain untuk berbagai keperluan.

Perhatikanlah tiga foto di bagian kanan halaman ini. Siapa pun yang melihat ketiga foto tersebut pasti sepakat bahwa itu adalah tiruan mentah-mentah foto di sebelah kirinya. Bahkan kabel baja yang melintang di sisi kanan foto pun ikut ditiru padahal sesungguhnya kabel itu justru agak mengganggu komposisi fotonya. Continue reading TIPS & TRIK Tentang Charles Ebbets yang (Nyaris) Terlupakan

Demokrasi Era Kuantum


Kompas, Senin, 15 Februari 2010 | 02:41 WIB

Oleh Yasraf Amir Piliang

Iklim demokratisasi di atas tubuh bangsa akhir-akhir ini menampakkan watak anomali, ditunjukkan oleh sikap, perilaku, dan tindakan para elite politik yang kian kehilangan tujuan.

Alih-alih menjadi agen pembangun karakter, pengayaan makna dan sublimasi kultur demokrasi, para elite politik justru menjadi parasit demokrasi, yang memangsa nilai-nilai kultur demokrasi dari dalam, melalui perilaku ironik mereka di dalam ruang virtualitas media.

Mesin demokrasi yang mestinya dibangun oleh kekuatan pikiran, pengetahuan, dan intelektualitas, kini dikuasai oleh mesin- mesin citra, tontonan, dan teater politik di atas panggung ”masyarakat tontonan politik” (society of political spectacle) yang menyuguhkan aneka artifisialitas, banalitas, dan distorsi politik. Mesin komunikasi politik yang diharapkan dapat mendiseminasi ide, pengetahuan, dan gagasan cerdas politik kini menjadi ajang retorika, parodi, dan seduksi virtual politik.

Akibatnya, proses demokratisasi tak mampu membangun arsitektur masyarakat politik yang cerdas, etis, dan estetis karena pendidikan warga (civic education) kini telah diambil alih oleh ”penghiburan warga” (civic entertainment). Elite politik yang mestinya menjadi pelopor pencerahan dan pencerdasan warga justru terperangkap di dalam skema banalitas, artifisialitas, dan virtualitas media (elektronik), yang menyerahkan dirinya pada logika komersialitas, popularitas, dan selebriti media. Continue reading Demokrasi Era Kuantum