Mencari Politisi Progresif


Rabu, 10 Maret 2010 | 02:45 WIB

Airlangga Pribadi

Saat arus politik utama di Indonesia mempertontonkan tindakan elite-elite politik yang miskin integritas dan komitmen publik, maraknya para mantan aktivis gerakan mahasiswa melompati pagar untuk memasuki partai politik sering dianggap sebagai pengkhianatan atas perjuangan awalnya.

Persoalan menjaga komitmen perjuangan politik bukanlah persoalan pada wilayah aktivitas, baik di dalam maupun di luar sistem. Komitmen para politisi akan teruji ketika dalam praksis politiknya mereka tetap konsisten memiliki visi kekuasaan progresif. Visi kekuasaan yang menghadirkan rakyat sebagai kekuatan utama dalam melakukan kontrol terhadap arena politik ataupun perubahan di dalamnya.

Ke depan, kita akan menyaksikan sepak terjang para elite politik muda di DPR yang mengawali karier politik sebagai aktivis gerakan mahasiswa, seperti Budiman Sudjatmiko, Pius Lustrilanang, Anas Urbaningrum, dan Andi Rakhmat. Sejarah akan mencatat apakah kiprah mereka membenarkan gambaran dominan bahwa ruang politik dan orang-orang di dalamnya nista dan kotor ataukah mereka tampil membawa perubahan lebih baik dalam arena politik.

Mampukah mereka mempertahankan komitmen pada keadilan publik, di tengah arena politik Indonesia yang bergerak dalam logika kepentingan elite yang berjarak dari publik daripada logika komitmen politik yang melekat pada kepentingan publik.

Perjuangan para elite politik baru ini tidaklah mudah dalam ruang politik Indonesia. Struktur kesempatan politik yang tersedia tak memberikan pilihan banyak untuk melakukan perubahan-perubahan politik yang bermakna. Kerap kali upaya-upaya untuk memperlihatkan komitmen para politisi muda terhadap kehendak rakyat masih harus berhadapan dengan tembok besar oligarki politik elite. Para elite politik utama yang masih mengalkulasi setiap langkah politik mereka semata-mata sebagai kesempatan untuk mengakumulasi pertambahan modal ataupun kekuasaan politik mereka sendiri. Continue reading Mencari Politisi Progresif

KRAENG”: SEBUAH LEGITIMASI YANG HILANG


www.fianroger.wordpress.com
“Kraeng….,”sapa seorang PNS yang bekerja di sebuah lembaga pemeritah propinsi NTT ketika melihatku pada sebuah lorong di Hotel Olive di jalan Dua Lontar. Saya kaget, kok orang itu tahu bahwa saya orang Manggarai. Mungkin karena wajah saya yang tipikal Manggarai dan logat saya yang masih kental meski sudah lima tahun berada di Kupang.

Ini hanya sebuah pengalaman yang membuktikan bahwa istilah kraeng menjadi populer dalam percakapan harian. Dulu istilah ini merupakan sebutan untuk orang kalangan atas dalam strata sosial masyarakat Manggarai. Sekarang istilah ini bermakna lebih luas yakni untuk menyebut semua mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Lazimnya istilah ini juga dipakai dalam pembicaraan adat sebagai ungkapan penghormatan kepada pribadi tertentu. Namun, dalam ranah percakapan harian bermakna sama dengan ungkapan ‘anda, dikau, engkau, atau dia untuk orang ketiga tunggal dalam Bahasa Indonesia.

Kemungkinan besar istilah ini berasal dari perbendaharaan kata orang Bugis/Makassar/ Kerajaan Goa yang merujuk pada kaum bangsawan Goa di Makassar. Terdapat sedikit perbedaan yang dari segi penulisan dan pelafalan antara orang Manggarai dan orang Makassar. Orang Manggarai menyebutnya kraeng(ke-ra-eng); sedangkan orang Makassar menyebut karaeng(ka-ra-eng). Ini adalah sebuah gelar kebangsawanan yang menunjuk pada suatu status sosial masyarakat terhormat. Golongan bangsawan sebagai pemangku adat/tua adat untuk mengatur tata hidup sosial (Nggoro: 2006). Continue reading KRAENG”: SEBUAH LEGITIMASI YANG HILANG