KRAENG”: SEBUAH LEGITIMASI YANG HILANG

www.fianroger.wordpress.com
“Kraeng….,”sapa seorang PNS yang bekerja di sebuah lembaga pemeritah propinsi NTT ketika melihatku pada sebuah lorong di Hotel Olive di jalan Dua Lontar. Saya kaget, kok orang itu tahu bahwa saya orang Manggarai. Mungkin karena wajah saya yang tipikal Manggarai dan logat saya yang masih kental meski sudah lima tahun berada di Kupang.

Ini hanya sebuah pengalaman yang membuktikan bahwa istilah kraeng menjadi populer dalam percakapan harian. Dulu istilah ini merupakan sebutan untuk orang kalangan atas dalam strata sosial masyarakat Manggarai. Sekarang istilah ini bermakna lebih luas yakni untuk menyebut semua mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Lazimnya istilah ini juga dipakai dalam pembicaraan adat sebagai ungkapan penghormatan kepada pribadi tertentu. Namun, dalam ranah percakapan harian bermakna sama dengan ungkapan ‘anda, dikau, engkau, atau dia untuk orang ketiga tunggal dalam Bahasa Indonesia.

Kemungkinan besar istilah ini berasal dari perbendaharaan kata orang Bugis/Makassar/ Kerajaan Goa yang merujuk pada kaum bangsawan Goa di Makassar. Terdapat sedikit perbedaan yang dari segi penulisan dan pelafalan antara orang Manggarai dan orang Makassar. Orang Manggarai menyebutnya kraeng(ke-ra-eng); sedangkan orang Makassar menyebut karaeng(ka-ra-eng). Ini adalah sebuah gelar kebangsawanan yang menunjuk pada suatu status sosial masyarakat terhormat. Golongan bangsawan sebagai pemangku adat/tua adat untuk mengatur tata hidup sosial (Nggoro: 2006).

Pemakaian Kraeng dapat diverifikasi pada sejarah raja-raja Manggarai (Radja Van Manggarai ) dan orang-orang berpengaruh di Manggarai (Dalu, Gelarang). Misanya, Kraeng Bagung (Raja Bagung), Kraeng Rancung Laki Rani, Kraeng Panga Adak Alo Todo-Panga Adak Enem Pongkor (gelar untuk Raja Todo terakui), Kraeng Alexander Baruk, Kraeng Baso, Kraeng Cengko, Kraeng Roho Jampi Mamatali (juru bicara adat Todo-Pongkor), Kraeng Wanggur Laki Tekek Laki Mangir, Kraeng Guru Rombo Pongkor Motang Rua(Ame Numpung), Kraeng Nancung Laki Rani, Kraeng Po Nongko, dan sebagainya (Toda: 1999). Dari aneka pemakaian ini terlihat jelas bahwa istilah kraeng merupakan gelar kelas ‘atas’. Dalam artian bahwa gelar ini diperuntukan bagi para pemimpin, orang berpengaruh, tokoh adat, orang penting dalam masyarakat.

Sekarang istilah ini mengalami perluasan makna. Namun artinya tetap sama yakni sebuah ungkapan untuk memberi penghormatan kepada pribadi tertentu baik dalam bahasa percakapan resmi maupun yang biasa. Makna merupakan suatu pemahaman yang diberikan oleh masyarakat pengguna bahasa tertentu terhadap ungkapan dan maksud tertentu. Cakupan makna terdapat dalam ranah subyektif dan juga kolektif. Dengannya makna suatu istilah bergerak secara dinamis seiring dinamika pengguna bahasa. Demikian pula istilah kraeng. Kalau dulu diberikan sebagai gelar kehormatan kelas atas yang boleh disebut sebagai pemaknaan sempit. Dalam pemaknaan luas sekarang, istilah kraeng dipakai semua kalangan. Orang bisa saja menyebut kraeng untuk seorang tukang iris tuak, seorang tukang ojek, tukang jual sayur, dsb. Jadi, tidak ada lagi kaum kraeng dalam segi pemaknaan bahasa. Kaum ini semacam sudah tidak mendapat legitimasi oleh masyarakat pengguna Bahasa Manggarai modern. Sekarang semua orang bisa disebut kraeng karena martabat yang melekat dalam setiap persona. Bahkan acapkali istilah ini bisa digabungkan dengan sesuatu yang negatif, misalnya ‘kraeng koruptor’, ‘kraeng adong’ atau tukang tipu.

Dinamisme bahasa dari suatu entitas budaya menggambarkan suatu perubahan yang terjadi dari dalam dan perubahan dari luar. Pertama, dominasi, hegemoni, represi kaum atas atau yang sering disebut kelas atas/kelas berpengaruh luntur dalam aneka perubahan. Kelunturan yang dimaksud karena telah hilangnya ‘legitimasi’ masyarakat atas kelas itu. Buktinya bahwa tidak ada lagi klasifikasi piramidal yang menyusun suatu masyarakat dalam budaya Manggarai seperti budaya kasta di Bali. Akibatnya ‘kaum kraeng’ tidak lagi mendapat legitimasi. Mereka diakui kalau mereka menempati jabatan penting dan strategis dengan menilik sebuah historigrafi keluarga besar. Namun, pemaknaan sempit itu terlalu kolot untuk zaman iphone ini. Kalau dulu masih ada kaum leke (kaum kelas bawah, marginal, kelas bawah, orang tersingkir) yang terbentuk dalam kultur-kultur oligarki tua dan budaya feodal kolonial, sekarang semua orang berkedudukan sama dalam suatu tatanan masyarakat berdasarkan suatu perkembangan dalam bidang hukum dan perubahan paradigma dalam masyarakat.

Kedua, kemajuan dalam bidang pendidikan telah mencipta golongan baru seperti kaum akademisi, politisi, aktivis, pebisnis dan aneka profesi lain. Dengan perubahan ini maka terjadi sirkulasi elite. Dulu menjadi pemimpin adalah warisan. Sekarang menjadi pemimpin adalah prestasi dan apresiasi. Dulu yang menjadi bupati, pastor, pejabat birokrat, pemimpin organisasi tertentu berasal dari kelas berpengaruh dan kaya karena tradisi (vorurteil)budaya feodal kolonial hanya mereka yang mampu menyekolahkan anak. Sekarang dengan adanya sebuah kesadaran baru dan perubahan paradigma masyarakat banyak elit yang tidak berlatar belakang ‘orang berpengaruh.’ Menjadi aneh kalau institusi pemerintahan dan juga religius seperti keuskupan atau paroki pada zaman sekarang bergaya feodal alias bermental kraeng. Mental kraeng merujuk sikap dan tindakan memimpin penuh retorika dan sikap eksklusif tanpa ada semangat melayani (spirit of service). Pemimpin bermental kraeng selalu melakukan pendekatan top down, dari atas ke bawah bukan pendekatan horizontal yang menjadikan yang dipimpin sebagai patner kerja.

Ketiga, dalam atmosfir demokrasi lokal pemahaman kraeng menjadi semacam suatu yang memantik kembali karisma kepemimpinan ala feodal kolonial. Kepemimpinan dulu mengandalkan karisma dan pengaruh. Sedangkan kepemimpinan sekarang mengandalkan profesionalitas, kapabilitas, dan integritas. Kepimpinan lokal kontemporer harus juga bisa belajar dari kearifan lokal yang terkandung dalam gaya klasik. Alasannya, yang klasik banyak mengandung kekayaan kalau digali lebih dalam.

Keempat, dinamika suatu entitas budaya sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Entitas budaya dimana ‘anak-anaknya’ terbelakang dalam bidang pendidikan akan menjadi generasi penerima belaka tanpa ada usaha untuk mencerahi yang gelap dari warisan budayanya. Padahal setiap anggota entitas budaya tertentu adalah pelaku yang menentukan perkembangan dan pertumbuhan budaya itu. Formasi pendidikan yang baik dalam jenjang formal akan melahirkan pelaku-pelaku kreatif yang akan mengembangkan budayanya. Tentunya formasi pendidikan tidak hanya terdapat dalam bangku sekolah yakni dari TK sampai gelar perguruan tinggi, dari SD sampai S3, tetapi pendidikan dengan formasi budaya lokal. Budaya lokal Manggarai merupakan akar dimana setiap persona Manggarai lahir. Jika akar formasi pendidikan budaya kuat, maka persona itu akan menjadi yang berkarakter, karena salah satu kelemahan pendidikan sekarang adalah kurangnya formasi karakter. Usaha yang perlu dilakukan untuk mendukung formasi budaya adalah mengumpulkan warisan-warisan budaya yang masih ada pada taraf cerita foklor atau oral sehingga dapat dipelajari oleh generasi baru. Kemasan oral sudah terlalu usang yang diperlukan genarasi baru adalah suatu novelitas baik dalam kemasan dan isi bukan malah dicap sebagai anak-anak “durhaka” karena tidak peduli adat. Justru ketidakpedulian itu terjadi karena ignorantia atau ketidaktahuan.

Foucuolt seorang pemikir Prancis meyatakan bahwa ada keterkaitan antara pengetahuan dan kuasa. Pengetahuan sering digunakan kaum yang berkuasa untuk melegitimasi status dan kedudukannya. Hemat penulius, bahasa juga tidak luput dari pengaruh itu. Bahasa dapat menjadi instrumen pelanggeng hegemoni. Kesadaran generasi baru yang terus bergerak dalam perubahan harus membongkar paradigma-paradigma lama yang membingkai segala bentuk ketidakadilan kultural. Menurut Heidegger bahasa juga menjadi rumah bagi ada, language is the house of Being. Dalam konteks ini dapat juga dikatakan Bahasa Manggarai adalah rumah bagi setiap persona Manggarai. Bahasa Manggarai akan terus berkembang seturut dinamika orang Manggarai itu sendiri. Perubahan semacam ini menjadi imperatif bagi zaman ini karena yang tak berubah adalah perubahan itu sendiri.(fianroger@yahoo.co.id.)

One thought on “KRAENG”: SEBUAH LEGITIMASI YANG HILANG”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s