Susno dan “Paradoks Pembohong”

KOMPASJumat, 26 Maret 2010 | 03:57 WIB

JB Blikololong

Pernyataan Komisaris Jenderal Susno Duadji bahwa ”Ada markus (makelar kasus) di institusi Polri” (yang membuat sekujur ”tubuh” Polri merinding dan segenap masyarakat meradang) adalah sebuah ”paradoks pembohong (liar paradox/LP). Seperti pada LP lain, orang lalu bertanya: pernyataan itu (”Ada markus di institusi Polri”) benar atau salah?

LP biasanya dikaitkan dengan Epimenides (abad ke-6 SM) dan Eubulides (abad ke-4 SM).Epimenides, seorang Kreta, saking kesalnya terhadap kebobrokan warga Kreta, mengatakan ”Semua orang Kreta pembohong” (All Cretans are liars). Pertanyaannya: pernyataan Epimenides itu benar atau salah? Jika pernyataan Epimenides benar, maka dia berbohong. Jika pernyataannya salah, maka dia benar.

Dalam Teori Pengetahuan (epistemologi), contoh-contoh di atas mengandung kontradiksi sehingga proposisi-proposisi seperti itu disebut liar paradox. Bentuk absolut LP kemudian dikemukakan oleh Jean Buridan dalam pernyataannya yang termasyhur: ”semua pernyataan di lembar ini palsu”.

Uniknya, di lembar itu hanya terdapat pernyataan tunggal tersebut. Para logikus (logicians) dan epistemolog berpendapat kontroversi dalam LP disebabkan antara lain oleh adanya referensi diri (self-reference). Dengan mengatakan semua orang Kreta pembohong, Epimenides sendiri pembohong.

Orang lain berpendapat kontroversi disebabkan pernyataan yang tidak bermakna (meaningless), tetapi ini tak dapat menjelaskan pengalaman berikut. Waktu jalan-jalan sore-sore Anda menemukan sehelai kartu bertulis: ”kalimat di halaman sebelah kartu ini benar”. Ketika Anda membalikkan kartu, terbaca: ”kalimat di halaman balik kertas ini palsu”. Jika kalimat pertama tidak bermakna (meaningless), bagaimana mungkin Anda membalikkan kertas untuk membaca kalimat kedua?

Penduduk sebuah kota kecil semuanya pria, dibagi dalam dua kelompok: yang mencukur sendiri dan yang dicukur tukang cukur. Pertanyaannya: siapakah yang mencukur si tukang cukur? Jika dia mencukur sendiri rambutnya, maka dia dicukur oleh tukang cukur. Jika dia dicukur oleh tukang cukur, maka dia mencukur sendiri. Itu sekadar contoh kontroversi epistemologis yang coba dijelaskan dengan teori revisi (revision theory of truth) oleh Gupta (1982) dan Herzberger (1982).

Kesesatan

Kembali ke Susno ”Epimenides” Duadji. Jika pernyataan ”ada markus di institusi Polri” benar, maka dia mungkin termasuk salah satu markus. Jika pernyataannya itu salah, maka dia benar (tidak termasuk markus). Alasannya, Susno adalah jenderal aktif yang masih menjadi bagian dari institusi Polri.

Namun, apakah Susno, dan siapa saja yang masih waras, mau memberikan pernyataan yangsalah? Sayangnya, ada pengamat yang mengatakan Susno memberi pernyataan itu karena sakit hati (setelah dicopot sebagai Kabareskrim). Argumentasi ini termasuk post hoc propter hoc, jenis kesesatan logis khas budaya mistis yang percaya bahwa matahari terbit karena kokok ayam jago.

Ketika mengatakan ”semua orang Kreta adalah pembohong” Epimenides mau menegaskan dialah satu-satunya orang Kreta yang masih berkata benar walau secara logis dia dianggap pembohong. Susno tidak mengatakan ”semua anggota Polri adalah markus”.

Ketika ”berdendang” bahwa ada markus di institusi Polri, Susno mau menegaskan bahwa paling tidak ada satu orang di tubuh Polri yang anti-markus, yakni Susno ”Epimenides” Duadji walaupun pernyataan itu secara logis memasukkan namanya sebagai markus.

Sudah ada yang menjuluki Susno ”maling teriak maling”. Itu risiko sosial sebagai konsekuensi dari klaim epistemiknya. Kontroversi kasus Susno bukan terletak pada isi klaimnya, tetapi pada kenyataan bahwa dia sepenuhnya bagian dari tubuh Polri. Mungkin dia merasakan ”kemuakan eksistensial” (nausea) melihat kondisi tubuh Polri yang runyam digerogoti markus.

Dalam idiom epistemologi, pernyataan Susno berbunyi selengkapnya: ”saya tahu bahwa ada markus di institusi Polri”.

Ini berarti (1) ”ada markus di institusi Polri” itu benar, (2) Susno yakin bahwa ada markus di institusi Polri, (3) Susno mempunyai bukti bahwa ada markus di institusi Polri. Bila ditangani dalam visi reformasi Polri, tidak mustahil inilah awal kelahiran institusi Polri baru yang bersih. Dan untuk ini kita berterima kasih kepada Susno ”Epimenides” Duadji.

JB Blikololong Kandidat Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s