Regenerasi Kepemimpinan Parpol


KOMPAS-Jumat, 21 Mei 2010 | 03:27 WIB
Oleh M Alfan Alfian

Belakangan ini sementara kalangan mengeluhkan regenerasi kepemimpinan partai politik yang melemah. Tokoh-tokoh muda masih susah untuk tampil karena faktor di bawah bayang-bayang generasi yang lebih senior.

Kompas pernah menulis laporan terpilihnya tokoh-tokoh lama sebagai pimpinan parpol dalam suksesi pemimpin partai sejak akhir 2009 menunjukkan lambatnya proses regenerasi kepemimpinan bangsa. Popularitas atau tingkat keterkenalan politisi muda di mata publik masih rendah, tertinggal jauh dibandingkan politisi senior yang pernah maju dalam pilpres sebelumnya. Rendahnya popularitas itu akan membuat tingkat keterpilihan mereka sangat rendah pula.

Laporan yang dihimpun dari pandangan sejumlah pengamat tersebut mengingatkan kembali pada permasalahan klasik regenerasi kepemimpinan kita. Bahwa, kelihatannya, tidak akan ada proses percepatan regenerasi dalam panggung politik kita. Namun, tidak dapat juga dikatakan regenerasi itu sangat lambat. Continue reading Regenerasi Kepemimpinan Parpol

KOMODO-tinggal sekitar 2.000 ekor



KOMPAS-Jumat, 21 Mei 2010 | 03:39 WIB, Menengok Komodo, Menjelajah Dunia Lain

Komodo, hewan melata bernama Latin ”Varanus Komodoensis” ini, sebagian besar hidup di Pulau Rinca dan Komodo di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hewan itu nyaris punah karena tinggal sekitar 2.000 ekor. Tak heran jika Indonesia berjuang keras agar komodo masuk dalam ”The New 7 Wonders of Nature”, cek http://www.new7wonders.com.

Setelah terbang dengan pesawat kecil dari Bandara Ngurah Rai, Bali, selama satu jam, kita mendarat di Bandara Komodo, Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Labuhan Bajo, kota kecil di ujung barat Pulau Flores, adalah titik awal menuju Pulau Rinca dan Komodo.

Pelabuhan Labuhan Bajo terbilang kecil. Dengan menumpang kapal cepat dan terkatung-katung di tengah laut Flores selama 40 menit, melewati pulau-pulau kecil yang tandus dan gersang, kita sampai di Pulau Komodo.

Pintu masuk Pulau Komodo berada di Loh Liang. Di sini, seorang turis asing ditegur Kepala Taman Nasional Komodo, Tamen Sitorus, ”Please, jangan kotori Pulau Komodo.” Pasalnya, turis itu nekat mau menyalakan rokok dengan korek api. Bisa jadi dia belum tahu peraturan di Komodo.

Alasan Tamen Sitorus, Taman Nasional Komodo didominasi padang savana dengan pepohonan yang kering meranggas sehingga dengan mudah akan terbakar. Padahal, Taman Nasional Komodo ini aset nasional dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia dan Cagar Biosfir oleh UNESCO.

Dari Loh Liang, kita harus didampingi seorang ranger atau penjaga hutan. Berbahaya jika kita berjalan sendiri karena tak mengenal medan dan tak tahu bagaimana komodo bergerak.

”Dulu, ada turis asing berkeliling dalam satu rombongan, tetapi ternyata seorang turis terpisah. Kami cari ke mana-mana, baru besoknya ditemukan gumpalan rambut dan kameranya saja,” tutur ranger Yusuf Jenata Hamzah yang sudah menjadi ranger selama 26 tahun menggambarkan ganasnya komodo. Continue reading KOMODO-tinggal sekitar 2.000 ekor