Regenerasi Kepemimpinan Parpol

KOMPAS-Jumat, 21 Mei 2010 | 03:27 WIB
Oleh M Alfan Alfian

Belakangan ini sementara kalangan mengeluhkan regenerasi kepemimpinan partai politik yang melemah. Tokoh-tokoh muda masih susah untuk tampil karena faktor di bawah bayang-bayang generasi yang lebih senior.

Kompas pernah menulis laporan terpilihnya tokoh-tokoh lama sebagai pimpinan parpol dalam suksesi pemimpin partai sejak akhir 2009 menunjukkan lambatnya proses regenerasi kepemimpinan bangsa. Popularitas atau tingkat keterkenalan politisi muda di mata publik masih rendah, tertinggal jauh dibandingkan politisi senior yang pernah maju dalam pilpres sebelumnya. Rendahnya popularitas itu akan membuat tingkat keterpilihan mereka sangat rendah pula.

Laporan yang dihimpun dari pandangan sejumlah pengamat tersebut mengingatkan kembali pada permasalahan klasik regenerasi kepemimpinan kita. Bahwa, kelihatannya, tidak akan ada proses percepatan regenerasi dalam panggung politik kita. Namun, tidak dapat juga dikatakan regenerasi itu sangat lambat.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam konteks regenerasi parpol kita dewasa ini. Pertama, regenerasi sering terhambat oleh realitas tidak berjalannya secara optimal demokrasi internal parpol. Fenomena kepartaian kita masih banyak bersifat paradoks, manakala demokrasi internal partai terhambat oleh realitas patronase politik, bahkan menjurus pada kecenderungan pelanggengan politik keluarga alias dinasti.

Kedua, adanya kultur politik yang pragmatis dan kepengikutan yang permisif yang sangat menguntungkan kekuatan dinasti (power) dan pemilik modal (money) berpeluang besar mengambil alih atau melanggengkan kekuasaan. Mereka ”maju tak gentar, membela yang bayar” atau membela yang magnet kekuasaannya masih dianggap kinclong. Para politisi dari genealogi ”aktivis” yang merintis karier politik dari bawah tidak punya aliran ”darah biru” (dinasti) ataupun minus modal (uang), hanya memiliki peluang yang sempit.

Sosok seperti Barack Obama tentu akan sulit muncul dalam situasi atau kondisi demikian. Jurus yang mengemuka, sabar, mencari celah (revolusioner), atau mengikuti arus yang ada. Kebanyakan para politisi ”aktivis” mengikuti arus yang ada.

Pengaderan

Oligarki keluarga dan oligarki modal di internal parpol memang masih merupakan realitas obyektif yang gampang dijumpai di hampir semua parpol. Kalaupun susah diatasi, kita hanya bisa berharap elite politik yang dihasilkan cukup punya kecerdasan dan kualifikasi kepemimpinan politik yang dapat diandalkan. Bila tidak, kualitas kepemimpinan politik kita akan bermasalah, dan turut memperlemah kualitas demokrasi.

Karena demokrasi internal parpol kita masih banyak ”bermasalah”, kalau bukan paradoks dengan jargon demokrasi yang mereka dengungkan, gagasan menghidupkan jalur independen masih sangat relevan. Meski demikian, jalur parpol tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Para aktivis harus tetap ada dan bersabar di parpol, sementara jalur independen seharusnya dibuka saja. Keberadaan jalur independen tak akan mengerdilkan parpol manakala parpol terkelola secara modern dalam arti terinstitusionalisasi dengan kokoh.

Justru dengan dimunculkannya jalur independen, parpol terpicu untuk memperkokoh institusionalisasi politiknya. Parpol akan serius di dalam menciptakan kader, yang siap bersaing dengan kandidat independen.

Sistem pengaderan parpol merupakan kunci bagi proses sirkulasi elite dan regenerasi kepemimpinan parpol. Di tengah iklim persaingan yang tajam dan cairnya politik kita (pindah parpol menjadi kebiasaan), proses pengaderan tidaklah mudah. Yang dibutuhkan parpol justru konsistensi dalam pengaderan. Itu kontribusi positif bagi demokrasi. Dalam iklim persaingan tajam, parpol tak boleh hanya sekadar berebut pendukung, tetapi juga tidak membangun sistem pengaderannya dengan baik.

Tanggung jawab parpol, menciptakan kader. Tentu bukan ”kader jenggot”, yang menggantung ke atas tanpa akar ke bawah. Kader artifisial selalu memiliki keterbatasan sebab hanya bertumpu pada upaya menciptakan ”kesadaran palsu” atas konstituen yang tidak kritis. Yang perlu disadari oleh kader parpol, mereka tidak hanya berurusan semata-mata dengan parpol, melainkan juga memiliki tanggung jawab besar kepada publik. Demokrasi internal parpol bukanlah hajatan internal semata-mata yang jauh dari ”urusan publik”. Bagaimanapun parpol tetap entitas yang selalu berurusan dengan publik.

M Alfan Alfian Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s