Globalisasi dan Indonesia 2030


Abad ke-21 adalah abad milik Asia. Pada tahun 2050 separuh lebih produk nasional bruto dunia bakal dikuasai Asia. China, menggusur Amerika Serikat, akan menjadi pemain terkuat dunia, diikuti India di posisi ketiga. Lalu, apa peran dan di mana posisi Indonesia waktu itu?

China dan India dengan segala ekspansinya, berdasarkan sejumlah parameter saat ini dan prediksi ke depan, sudah jelas adalah pemenang dalam medan pertarungan terbuka dunia di era globalisasi, di mana tidak ada lagi sekat-sekat bukan saja bagi pergerakan informasi, modal, barang, jasa, manusia, tetapi juga ideologi dan nasionalisme negara.

Globalisasi ekonomi dan globalisasi korporasi juga memunculkan barisan korporasi dan individu pemain global baru. Lima tahun lalu, 51 dari 100 kekuatan ekonomi terbesar sudah bukan lagi ada di tangan negara atau teritori, tetapi di tangan korporasi. Continue reading Globalisasi dan Indonesia 2030

SPIRIT TERORISME


Jean Baudrillard
SPIRIT TERORISME
Penerjemah: Yuli Ahmada – Suroboyo

KITA tengah menghadapi banyak peristiwa global mulai dari kematian Diana hingga Piala Dunia. Bahkan, peristiwa-peristiwa kekerasan dan kasunyatan riil mulai dari pelbagai perang sampai genocide. Tapi, ada satu peristiwa global, yakni suatu peristiwa yang bukan hanya berdampak global, melainkan juga memunculkan persoalan-persoalan sekitar proses globalisasi. Peristiwa itu meneruskan stagnasi dasawarsa 1990-an, suatu “la greve des evenements” (secara literal berarti mogoknya peristiwa-peristiwa, dipinjam dari frasa penulis Argentina, Macedonio Fernandez -Dr Rachel Bloul).
Well, kemacaten itu telah berlalu. Kita bahkan menghadapi, bersamaaan dengan serangan terhadap World Trade Center, New York, sebuah peristiwa absolut, “induk dari segala peristiwa, peristiwa sejati yang dirangkum dari semua peristiwa yang tidak pernah terjadi.
Bukan hanya permainan-permaian sejarah dan kekuasaan yang terhenti, tapi juga segala kondisi analisis. Manusia musti memetik pengalamannya. Selama peristiwa-peristiwa itu diam di tempat, manusia harus mengantisipasi dan mengendalikannya. Tapi, tatkala peristiwa- peristiwa itu kian cepat, manusia haruslah memperlambatnya; tanpa tersesat di bawah sekumpulan wacana dan bayang-bayang peperangan (nuage de la guerre: secara literal berarti mega-mega yang mewartakan peperangan), dan sembari menjaga keseluruhan kilatan-kilatan imaji yang tak terlupakan. Semua pembicaraan dan komentar, menyampaikan suatu reaksi gigantik pada peristiwa itu sendiri dan pada pesona yang diakibatkannya. Penolakan moral dan kesatuan suci melawan terorisme setara dengan perayaan besar-besaran yang dipicu oleh kesaksian bahwa adikuasa global itu telah hancur; mungkin lebih baik disebut menghancurkan diri sendiri, bahkan membunuh diri sendiri secara spektakuler. Meskipun, adikuasa-lah yang menyebabkan semua kekacauan menjalar ke seluruh dunia, melalui kekuasaannya yang tak tertandingi, dan dengan demikian imaginasi teroris ini yang?tanpa kita ketahui? menjejali kita semua. Continue reading SPIRIT TERORISME