SPIRIT TERORISME

Jean Baudrillard
SPIRIT TERORISME
Penerjemah: Yuli Ahmada – Suroboyo

KITA tengah menghadapi banyak peristiwa global mulai dari kematian Diana hingga Piala Dunia. Bahkan, peristiwa-peristiwa kekerasan dan kasunyatan riil mulai dari pelbagai perang sampai genocide. Tapi, ada satu peristiwa global, yakni suatu peristiwa yang bukan hanya berdampak global, melainkan juga memunculkan persoalan-persoalan sekitar proses globalisasi. Peristiwa itu meneruskan stagnasi dasawarsa 1990-an, suatu “la greve des evenements” (secara literal berarti mogoknya peristiwa-peristiwa, dipinjam dari frasa penulis Argentina, Macedonio Fernandez -Dr Rachel Bloul).
Well, kemacaten itu telah berlalu. Kita bahkan menghadapi, bersamaaan dengan serangan terhadap World Trade Center, New York, sebuah peristiwa absolut, “induk dari segala peristiwa, peristiwa sejati yang dirangkum dari semua peristiwa yang tidak pernah terjadi.
Bukan hanya permainan-permaian sejarah dan kekuasaan yang terhenti, tapi juga segala kondisi analisis. Manusia musti memetik pengalamannya. Selama peristiwa-peristiwa itu diam di tempat, manusia harus mengantisipasi dan mengendalikannya. Tapi, tatkala peristiwa- peristiwa itu kian cepat, manusia haruslah memperlambatnya; tanpa tersesat di bawah sekumpulan wacana dan bayang-bayang peperangan (nuage de la guerre: secara literal berarti mega-mega yang mewartakan peperangan), dan sembari menjaga keseluruhan kilatan-kilatan imaji yang tak terlupakan. Semua pembicaraan dan komentar, menyampaikan suatu reaksi gigantik pada peristiwa itu sendiri dan pada pesona yang diakibatkannya. Penolakan moral dan kesatuan suci melawan terorisme setara dengan perayaan besar-besaran yang dipicu oleh kesaksian bahwa adikuasa global itu telah hancur; mungkin lebih baik disebut menghancurkan diri sendiri, bahkan membunuh diri sendiri secara spektakuler. Meskipun, adikuasa-lah yang menyebabkan semua kekacauan menjalar ke seluruh dunia, melalui kekuasaannya yang tak tertandingi, dan dengan demikian imaginasi teroris ini yang?tanpa kita ketahui? menjejali kita semua.
Apa yang kita impikan tentang peristiwa ini, apa yang diimpikan tiap orang tanpa kecuali mengenai hal itu, karena setiap orang harus memimpikan hancurnya pelbagai hegemoni kekuasaan pada derajat seperti itu ?ini tidak dapat diterima oleh kesadaran moral Barat, tapi ini masih merupakan fakta, dan orang yang dipandu secara tepat oleh kekacauan patetis dari semua wacana seperti itulah yang akan berusaha menghapusnya. Hampir semua dari mereka yang mengerjakannya, tapi kita- lah yang menginginkannya. Jika manusia tidak memperhitungkannya, peristiwa itu melenyapkan segala dimensi simbolik menjadi kecelakaan murni, suatu aksi yang betul-betul acak, fantasi haus darah dari para fanatik, yang hanya perlu dibasmi. Tapi, kita sangat memahami bahwa perkara ini tidak-lah demikian. Maka, semua yang ganjil itu, counter- phobic exorcisms: karena kejahatan ada di sana, di mana-mana, sebagai objek hasrat yang kabur. Tanpa konspirasi mendalam seperti ini, peristiwa tersebut tidak bakal berdampak sedemikian hebat, dan tentu saja para teroris mengetahui bahwa dalam strategi simboliknya, mereka dapat menyisipkan konspirasi yang tersirat itu.
Ini lebih jauh ketimbang antipati terhadap kekuatan global dominan dari mereka yang terpinggirkan dan yang tereksploitasi, yakni mereka yang merasa berada pada sisi salah dari tatanan global. Hasrat yang ganjil itu begitu tertanam dalam hati orang-orang yang berbagi keuntungan-keuntungan (dari tatanan global) tersebut. Suatu alergi terhadap tatanan yang definitif, terhadap segala kekuatan yang definitif adalah alam yang membahagiakan, dan dua menara World Trade Center menyatu secara sempurna dalam kegandaan mereka (secara harfiah twin-ness), tatanan definitif ini. Tidak ada tuntutan untuk sebuah harapan kematian atau hasrat merusak diri sendiri, bahkan juga tidak demi pembalikan efek-efek. Sangatlah logis dan penting memprovokasi (secara harfiah, muncul untuk menguasai kekuatan) suatu keinginan untuk merusaknya. Dan, kekuatan itu bersekongkol dengan daya destruksinya sendiri. Tatkala dua menara itu ambruk, manusia dapat merasakan bahwa mereka sudah menjawab persoalan bunuh diri kamikaze oleh pembunuhan diri mereka sendiri.
Lazim dikatakan: Tuhan tidak dapat mengumandangkan perang terhadap Diri itu sendiri. Baiklah, itu bisa saja. Barat, dalam posisinya yang menyerupai Tuhan (kekuasaan ilahiah, dan legitimasi moral absolut) menjadi sekarat dan mewartakan perang terhadap dirinya sendiri. Film- film tentang bencana adalah saksi bagi phantasme ini, yang secara gamblang tersimpul dari gambar-gambar dan tergabung dengan special effects. Tapi, atraksi universal itu menunjukkan, sebagaimana pornografi, betapa realisasi (phantasme) ini selalu saja menghadirkan impuls untuk mengingkari pelbagai eksistensi sistem yang lebih kuat jika sistem semacam itu dekat dengan kesempurnaan atau supremasi absolut.
Barangkali wajar apabila para teroris (seperti para pakar) tidak mengantisipasi ambruknya Menara Kembar, yang sudah merupakan, jauh sebelum (serangan atas) Pentagon, goncangan simbolik terdalam. Kegoncangan simbolik dari keseluruhan sistem itu karena konspirasi mengejutkan, yang seolah-olah dengan menggoncang (mereka sendiri), dengan membunuh diri sendiri, menara-menara itu memasuki bidang permainan untuk melengkapi peristiwa tersebut. Melalui cara seperti itu, keseluruhan sistem-lah yang membantu, bersama kelumpuhan internalnya, aksi pengantarnya. Semakin suatu sistem terkonsentrasi secara global menemukan keabadiannya hanya pada satu jaringan, sistem itu semakin lemah pada suatu titik tunggal (sudah dibuktikan oleh hacker remaja Filipina yang dengan laptopnya menebarkan virus I love you yang merusak semua jaringan). Di sini, delapan belas (dalam teks tertulis dix-huit) aksi kamikaze, melengkapi senjata absolut yaitu kematian yang digandakan oleh efisiensi teknologis, telah memulai suatu proses malapetaka global.
Ketika situasi itu kemudian dimonopoli oleh kekuatan global, ketika manusia bersepakat dengan tekanan kuat dari semua fungsi piranti teknokratik dan hegemoni ideologis absolut (pensee unique) ini, jalan lain apa yang tersedia, yang lebih dari suatu penolakan teroris terhadap situasi itu? (secara literal, transfer situasi’. Tapi, saya begitu terpengaruh dengan terjemahan sebelumnya, yakni ‘penolakan). Sistem itu sendiri-lah yang menciptakan kondisi-kondisi objektif bagi distorsi brutal ini. Karena mengambil semua kartu untuk dirinya sendiri, berarti sistem itu memaksa yang Lain (the Other) untuk mengubah aturan-aturan permainan. Dan, aturan-aturan baru itu bersifat brutal karena pola-pola asalnya juga brutal. Bagi suatu sistem yang kelebihan kekuatannya menciptakan tantangan tak terpecahkan, para teroris meresponnya dengan aksi definitif yang juga tidak tak tertandingi (dalam teks: yang tidak dapat menjadi bagian dari sirkuit pertukaran). Terorisme adalah tindakan yang memperkenalkan kembali singularitas yang tegas dalam suatu sistem pertukaran yang diterima secara umum.
Pelbagai singularitas (baik spesies, individu maupun kebudayaan), yang membayar dengan kematiannya untuk merancang sirkuit global yang didominasi oleh kekuatan tunggal, saat ini telah dibalasdendamkan oleh transfer situasional teroris. Teror melawan teror tidak ada ideologi lain di balik semua itu. Kita sekarang melesat jauh dari ideologi dan politik. Tidak ada ideologi, tidak ada pijakan, bahkan tidak ada pijakan Islami, yang dapat menjelaskan energi apa yang menopang teror. Energi itu tidak ditujukan untuk merubah dunia apapun, ia ditujukan (sebagaimana heresy pada zamannya) untuk meradikalisasikan dunia melalui pengorbanan, sembari sistem itu ditujukan untuk menyadarkan (dunia) melalui kekerasan. Terorisme, seperti halnya virus, berada di mana-mana. Terorisme yang menjalar secara global seperti bayangan pelbagai sistem dominasi, siap siaga di mana-mana untuk muncul sebagai agen ganda. Tidak ada patokan untuk mendefinisikan terorisme; yang berada di jantung kebudayaan inilah yang memeranginya, dan keterpecahan pandangan-lah yang melawan –pada tingkatan global– mereka yang tereksploitasi dan yang terbelakang berhadapan dengan dunia Barat, adalah terkait secara samar dengan keterpurukan internal sistem dominan itu.
Yang kemudian itu dapat menghadapi pelbagai antagonisme pandangan. Tapi, bersama terorisme dan struktur viralnya–, seolah-olah setiap aparatus dominasi menciptakan antibodinya sendiri, zat kimiawi dari kelenyapannya sendiri; melawan pembalikan yang hampir otomatis dari kekuatannya sendiri, sistem itu pada dasar tak berdaya. Dan, terorisme adalah gelombang-kejut dari pembalikan yang diam-diam ini. Dus, perkara ini bukanlah kejutan peradaban-peradaban, agama-agama, dan kejutan itu telah berlalu melampaui Islam dan Amerika, yang padanya manusia berusaha mencermati konflik untuk memberikan ilusi tentang konflik yang ada dan solusi yang tersedia (melalui kekerasan). Tentu saja, ini adalah antagonisme fundamental. Tapi, sebuah antagonisme fundamental yang menunjukkan kejayaan globalisasi yang berperang melawan dirinya sendiri. Ini memang Perang Dunia, bukan yang ketiga, tapi keempat dan satu-satunya Perang Dunia yang sebenarnya, sejalan dengan pembentukan globalisasi.
Dua Perang Dunia yang pertama adalah perang-perang klasik. Perang Dunia I mengakhiri supremasi Eropa dan era kolonial. Perang Kedua menyudahi Nazisme. Perang Dunia Ketiga, yang telah terjadi, sebagai suatu Perang Dingin dissuasive, mengakhiri komunisme. Dari satu perang ke perang yang lain, manusia melangkah lebih jauh pada zamannya masing-masing, menuju sebuah tatanan dunia yang unik.
Saat ini, perang berikutnya, yang dilengkapi secara virtual, dilawan dengan kekuatan-kekuatan antagonistik, terdifusi dalam jantung global, dalam seluruh konvulsi aktualnya. Perang fraktal yang di dalamnya seluruh sel, seluruh singularitas memberontak seperti antibodi-antibodi.
Ini adalah konflik yang sangat tidak dapat diduga, yang dari waktu ke waktu, manusia harus mempertahankan gagasan tentang perang lewat produksi-produksi spektakuler seperti Perang Teluk dan perang Afghanistan saat ini.
Tapi, Perang Dunia yang keempat itu terjadi di tempat lain. Inilah yang menghantui segala tatatan global, segala dominasi hegemonik; – jika pun Islam mendominasi dunia, terorisme juga bakal melawannya. Pasalnya, dunia itu sendirilah yang melawan dominasi. Terorisme adalah tak bermoral. Perisitiwa serangan terhadap WTC, penolakan simbolik ini adalah tak bermoral, dan ia menjawab globalisasi yang tak bermoral. Maka, mari kita menjadikan diri kita tidak bermoral, jika kita ingin memahami sesuatu, mari kita melenceng dari Kebaikan dan Kejahatan.
Sebagaimana peristiwa yang kita hadapi, sekali lagi, yang bukan hanya menantang moral-moral, tapi juga setiap interpretasi, maka kita harus  mencoba memiliki intelejensi tentang Kejahatan. Persoalan krusial itu tepatnya berada dalam kontra-makna total mengenai Kebaikan dan Kejahatan dalam filsafat Barat ini, filsafat Pencerahan. Kita secara naif meyakini bahwa kemajuan Kebaikan, perkembangannya dalam semua bidang (sains, teknik, demokrasi, HAM) sejalan dengan kalahnya Kejahatan. Tidak seorang pun, tampaknya, memahami bahwa Kebaikan dan Kejahatan muncul secara serempak, dan dalam pergerakan yang sama. Kemenangan yang Satu (the One) tidak menghasilkan pengikisan terhadap Liyan (the Other). Secara metafisik, manusia menganggap Kejahatan sebagai suatu hal yang kebetulan. Tapi, aksioma ini, yang tertanam dalam semua pertempuran manichean antara Kebaikan dengan Kejahatan, adalah ilusi.
Kebaikan tidak mereduksi Kejahatan, tidak juga sebaliknya: keduanya tidak dapat diperkecil lagi, dan tidak memungkinkan keluar dari satu sama lain. Faktanya, Kebaikan dapat menundukkan Kejahatan hanya dengan meninggalkan dirinya sendiri, seperti halnya menyediakan monopoli kekuatan global, Kebaikan menciptakan suatu respon kekerasan yang proporsional.
Dalam alam tradisional, masih ada keseimbangan antara Kebaikan dengan Kejahatan, mengacu pada relasi dialektikal yang lebih atau kurang menjamin ketegangan dan equilibrium dalam alam moral; – contoh kecil sebagaimana dalam Perang Dingin, dua kekuasaan yang berhadap-hadapan menjamin suatu keseimbangan teror. Dengan demikian, tidak ada supremasi satu kekuatan terhadap lainnya. Simetri ini patah segera setelah muncul perhitungan total mengenai Kebaikan (sebuah hegemoni oleh yang positif terhadap pelbagai bentuk negatifitas, sebuah eksklusi atas kematian, pelbagai kekuatan yang berpotensi melakukan perlawanan; kemenangan absolut Kebaikan). Dari situlah, keseimbangan menjadi rusak, dan itu sebagaimana Kejahatan memperoleh kembali kewenangan yang tak terlihat, lalu berkembang dalam kebiasaan eksponensial.
Menjaga segala sesuatu dalam proporsinya. Itulah yang kurang lebih terjadi dalam tatatan politik dengan pengikisan komunisme dan kejayaan global kekuatan liberal: suatu musuh fantastik muncul, menjalar ke seluruh planet, merambat ke mana-mana layaknya virus, menyentak dari semua celah kekuatan. Islam. Tapi Islam hanya front yang bergerak dari kristalisasi antagonisme ini. Antagonisme ini ada di mana-mana dan berada pada kita masing-masing. Dus, teror melawan teror?. tapi teror asimetris dan asimetri ini memperdaya adikuasa global secara total.
Memerangi diri sendiri, hanya dapat ditegakkan dalam logika relasi kekuasaannya sendiri, tanpa mampu bermain dalam wilayah tantangan dan kematian simbolik karena sudah menghapus hal terkahir itu dari kebudayaannya sendiri.
Hingga sekarang, kekuasaan yang terintegrasi ini sebagian besar sudah tergantikan untuk menyerap setiap krisis, setiap negatifitas, dengan begitu menciptakan situasi putus asa yang mendalam (bukan hanya bagi keterkutukan bumi tapi juga bagi kekayaan dan keistimewaan dalam kenyamanan radikal mereka).
Peristiwa fundamental itu adalah bawah para teroris telah selesai dengan bunuh diri yang hampa; mereka sekarang mengatur kematiannya sendiri dengan cara yang ofensif dan efisien, mengacu pada suatu intuisi strategis. Yakni, intuisi tentang kerapuhan luar biasa lawan mereka, sistem ini mencapai separuh kesempurnaannya dan dengan demikian mudah untuk paling kurang menyerang.
Dalam merancang kematiannya sendiri, mereka mengganti senjata absolut mereka melawan sistem yang menghambat eksklusi kematian, yang idealnya tanpa kematian. Sistem kematian titik nol adalah zero sum system. Dan, semua cara disuasi dan destruksi tak berdaya melawan musuh yang sudah merancang kematiannya kontra-ofensif.
“What of American bombings! Our men want to die as much as Americans want to live!” Ini menjelaskan asmetri dari 7.000 kematian dalam satu serangan melawan sistem kematian titik nol. Di titik inilah, kematian adalah kunci (bagi permainan), bukan hanya irupsi brutal kematian dalam waktu yang langsung dan riil tapi juga irupsi kematian yang lebih-sekadar-riil: kematian simbolik dan sakrafisial ? absolut, peristiwa tanpa daya tarik.
Inilah spirit terorisme. Spirit ini tidak pernah menyerang sistem melalui relasi kekuasaan. Ini termasuk imajiner revolusioner yang dipaksakan oleh sistem itu sendiri, yang hidup dengan mengusung terus menerus mereka yang menentangnya untuk bertempur pada wilayah riil, yang selalu miliknya sendiri. Tapi, mereka mengalihkan pertarungan ke wilayah simbolik, di mana peraturannya adalah peraturan tantangan, pembalikan dan eskalasi. Dus, kematian hanya dapat dijawab melalui kematian yang sama maupun yang superior. Terorisme menantang sistem itu dengan suatu hadiah yang pada gilirannya dapat membalas hanya dengan kematian dan keguncangannya sendiri. Hipotesis teroris adalah bahwa sistem itu melakukan bunuh diri ketika menanggapi pelbagai tantangan kematian dan bunuh diri. Bukan sistem, bukan pula kekuasaan mereka sendiri yang meloloskan diri dari kewajiban simbolik ?dan dalam perangkap ini terletak satu-satunya kesempatan kematian (malapetaka) mereka.
Dalam lingkaran memusingkan dari pertukaran mustahil kematian ini, kematian teroris adalah poin teramat kecil yang menghasut aspirasi dahsyat, kehampaan dan konfeksi. Di sekitar titik inilah, keseluruhan sistem riil dan kekuasaan memperoleh kepadatan, kebekuan, kemampatan dan kemerosotannya di dalam super-kemanjuran miliknya sendiri. Taktik terorisme adalah memprovokasi ekses-ekses realitas dan membuat suatu sistem kolaps di bawah himpitan ekses-ekses itu.
Cemoohan atas situasi itu, termasuk menumpuknya kekerasan kekuasaan, memberontak melawannya karena aksi teroris adalah cermin pembesar kekerasan sistem dan model kekerasan simbolik yang tidak dapat mengakses, satu-satunya kekerasan yang tidak dapat menekan: menekan kematiannya sendiri. Itulah sebabnya, semua kekuasaan yang kelihatan itu tidak dapat bereaksi terhadap menit itu, kecuali kematian simbolik segelintir individu.
Manusia harus mengakui kelahiran terorisme baru, suatu bentuk aksi baru yang memasuki permainan dan menyediakan aturannya sendiri, tepatnya membingungkannya. Bukan hanya mereka tidak bertempur dengan senjata yang sama, sebagaimana mereka memproduksi kematiannya sendiri, yang padanya tidak ada peluang respon, tapi mereka juga melengkapi diri dengan semua persenjataan kekuatan dominan. Uang dan spekulasi finansial, teknologi informasi dan aeronetika, produksi tontonan dan jaringan media: mereka sudah menyerap semua modernitas dan globalisasi sembari memantapkan tujuan mereka untuk menghancurkannya.
Yang paling cerdik, mereka bahkan sudah menggunakan banalitas kehidupan sehari-hari orang Amerika sebagai topeng dan permainan ganda. Mereka tinggal di pinggiran kota, membaca dan belajar di lingkungan keluarga, sebelum terjaga secara tiba-tiba seperti piranti ledakan yang tertunda. Keunggulan sempurna dari kerahasiaan ini nyaris sama terorisnya dengan aksi spektakuler 11 September. Itu sebabnya, orang mencurigai: setiap individu yang tidak menganggu dapat berpotensi menjadi teroris!
Jika para teroris itu dapat melenggang tanpa mencurigakan maka setiap orang dari kita adalah kriminal yang tidak mencurigakan (masing- masing pesawat dicurigai juga), dan akhirnya, itu mungkin juga benar. Ini mungkin terkait erat dengan bentuk ketidaksadaran atas potensi kriminalitas, terselubung, tertekan secara hati-hati tapi selalu besar kemungkinannya, jika bukan menghentak, paling kurang pada getaran rahasia dengan tontotan Kejahatan. -bersambung..
Judul aslinya The Spirit of Terrorism, dimuat di Le Monde, 2 November 2001. Diterjemahkan dari Bahasa Perancis ke Inggris oleh Dr Rachel Bloul, School of Social Sciences, Australian National University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s