GLAMORITAS, KEKERASAN, DAN MISTIK DALAM TIRANI SINETRON INDONESIA

Oleh: Ali Mocthar Ngabalin*
“Orang terhadap televisi sudah tidak hanya melihat atau menonton lagi, tapi sudah terlibat di dalamnya”(McLuhan) .

Pendahuluan

Pernyataan di atas mengukuhkan betapa kuatnya pengaruh televisi bagi kehidupan para penontonnya. Jelas, separuh hidup kita dibenamkan dalam tayangan-tayangan yang membuai imaji, ilusi, dan impresi kita. Nikmat memang menjalani hidup dengan “si kotak ajaib” ini, ia membantu kita melepaskan realitas yang terjadi pada diri kita. Bius program-programnya menghantarkan kita ke alam antah berantah yang tak pernah kita sentuh, bahkan kita bayangkan. Lihat saja si Clara dalam sinetron “Dara Manisku” yang ditayangkan di RCTI setiap Rabu pukul 08.00 malam yang hidup dalam limpahan materi; bergaya hidup bak puteri raja yang keinginannya selalu bisa dipenuhi. Ini memang sengaja dihadirkan televisi hanya untuk meraih rating yang tinggi, tanpa melihat dampaknya yang luas dan dalam bagi generasi bangsa ini. Buktinya, saat saya jalan-jalan ke hipermarket bersama isteri dan anak-anak saya, saya melihat para ”shopper” yang tampaknya kebanyakan adalah gadis remaja (ABG) memenuhi outlet-outlet gaya hidup yang berjajar di sepanjang ruas jalan pusat perbelanjaan super besar negeri ini.
Tahukah kita berapa uang yang mereka keluarkan untuk membeli produk-produk “branded” di pasar massal tersebut? Dari mana mereka mendapatkan uang yang begitu banyak, padahal mereka adalah remaja usia sekolah yang nota bene masih diampu orang tuanya? Pertanyaan ini jawabannya gampang-gampang susah. Gampangnya, kita bisa berasumsi dari fenomena yang hadir secara kasat mata di hadapan kita, bahwa keuangan mereka pasti berasal dari suatu sumber entah dari orang tua, kekasih, atau …? Astagfirullah.

Dalam sebuah tayangan di Global TV yaitu program HOT (Hanya Orang Tertentu) yang ditayangkan setiap Minggu pukul 22.30 memberikan gambaran bahwa remaja-remaja sekolah yang bergaya hidup glamor, stylist, modis, dan tentunya konsumtif, snob dan hedonis ini, kini banyak yang menjadi “teenage whore” (PSK belia), bahkan banyak yang menjadi “young mommy’ (germo belia) yang masih berusia berkisar antara 16 sampai 18 tahun. Suatu realitas yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Sulitnya melacak berapa sih anggaran mereka dalam memberi praduk-produk lifestyle,agaknya memang bukan kapasitas saya dalam mengamati dan mengintip semua “cash flow” mereka.

Selain program-program sinetron glamor yang mencengangkan di atas, tayangan kekerasan (violence) berupa pembunuhan, perkelahian, perkosaan, pelecehan seksual, dan sejenisnya yang mengandung adegan-adegan antisosial yang menteror anak-anak kita yang masih labil dan berpotensi tinggi melakukan peniruan terhadap adegan-adegan tersebut. Coba saja kita tengok sejenak tayangan sinetron “Tangisan Anak Tiri” yang diperankan Dea Imut di SCTV. Sinetron tersebut memang berkategori anak-anak, tapi sangat tidak layak dikonsumsi anak-anak, bahkan cenderung mengarah pada praktek-praktek kekerasan pada anak-anak (child abuse). Adegan-adegan kekerasan, yang tersaji di layar kaca kita selama ini tampaknya memang sengaja mengeksploitasi ketegangan dan kengerian pada para penontonnya. Imbasnya, pada tahun lalu kita dikejutkan oleh sebuah berita kriminal dari program “Sergap” di RCTI yang menyiarkan tragedi memilukan tentang seorang bocah yatim berumur 5 tahun yang babak belur, bahkan beberapa tulangnya patah akibat ” dismack-down” oleh dua kakak angkat laki-lakinya gara-gara meniru adegan perkelahian di sinetron.

Begitu pula, tayangan yang bernuansa Islam atau tema-tema agama yang digagas oleh sinetron “Rahasia Ilahi” dan “Takdir Ilahi” di TPI yang ternyata mampu menjadi kontributor terbesar yang mendongkrak posisi TPI dari tujuh besar ke posisi tertinggi. Sinetron Rahasia Ilahi sempat meraih rating tertinggi share 15,8% berada di urutan pertama, berdasarkan survei AC Nielsen. Di luar perkiraan, sinetron religius yang sebelumnya diragukan dan dianggap sulit bersaing, ternyata mampu menggeser sinetron gemerlap yang belakangan mendominasi layar kaca (Suara Karya, 23/05/2005). Sinetron religius pertama yang menduduki peringkat pertama, di luar Ramadhan ini membiakkan fenomena me too product alias ngebebek acara yang serupa oleh televisi-televisi swasta di Tanah Air seperti “Hidayah” di Trans TV, “Pintu Hidyah” dan “Kusebut nama-Mu” di RCTI, “Tawakal” dan “Titipan llahi” di Indosiar, “Sebuah Kesaksian”, “Azab Ilahi”, dan “Pada-Mu Ya Rabb” di Lativi, “Jalan Kebenaran” dan “Astagfirullah” di SCTV, dan “Titik Nadir” di TV7 yang ujung-ujungnya banyak yang mengarah pada mistis.

Tapi, apakah tayangan ini efektif sebagai obat penyakit batin atau moral bangsa yang sudah stadium tinggi ini? Apakah tayangan Islami yang membanjir ini mampu mengubah bangsa ini untuk takut melakukan korupsi, berzina, membunuh, dan melakukan sederetan dosa lainnya? Tampaknya tayangan tersebut tidak memiliki tujuan sejauh dan sedalam itu, karena yang saya lihat justru adalah unsur entertainment dan perayaan-perayaan gratifikasi (kepuasan) kebutuhan penonton. lnilah akar masalahnya, moral dan agama seolah dipinjam untuk dikomodifikasi dan sebagai alat akumulasi modal atau keuntungan si pemilik modal.

Keberadaan Sinetron di Layar Kaca Swasta

Tumbuhnya TV-TV swasta dengan sekian puluh ribu jam siar pertahunnya, telah menciptakan transportasi guna masuknya sinetron-sinetron ke media TV, terutama sinetron yang diasumsikan akan mendapat rating yang tinggi, seperti sinetron remaja, mistik, dan kekerasan. Sinetron seperti “Kisah Sedih di Malam Minggu” yang dibintangi artis remaja Marshanda bukan satu-satunya sinetron remaja yang ditayangkan televisi swasta yang mengandung glamoritas dan kekacauan nilai keluarga, sebagaimana sinetron remaja lainnnya.

Bahkan jika diamati sinetron-sinetron Indonesia dan (setengah Indonesia alias menyadur dari film-film Latin, India, dan Cina) yang ditayangkan dari pagi sampai malam yang kemudian dikonsumsi penonton mayoritas menampakkan warna-warna yang kabur, kacau, dan membosankan (maaf, terkadang juga menjijikkan). Yang menjadi permasalahan lagi adalah bagaimana seharusnya kita mendefinisikan “kekerasan, glamoritas, dan mistis” itu, dan yang lebih rumit lagi mengetahui secara pasti sejauh mana dampaknya bagi penonton, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang secara sosial psikologis dianggap masih rawan dan belum matang (mature) untuk mem-filter tayangan sinetron.

Harus kita akui memang benar sinetron memberikan peluang untuk terjadinya peniruan perilaku apakah itu positif atau negatif. Perilaku di sini dipahami sebagai manifestasi dari proses psikologis yang merentang dari persepsi sampai sikap. Suatu rangsangan dalam bentuk sinetron dipersepsi kemudian dimaknai berdasarkan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Jika tayangan tersebut sesuai, rangsangan itu akan dia hayati yang menyebabkan pembentukan sikap. Sikap inilah yang secara kuat memberikan bobot dan warna kepada pelaku. Oleh sebab itu, sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan (Supriadi, 1997:127).

Untuk kita ketahui bersama, rangsangan yang ditimbulkan oleh televisi melalui program-programnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan media cetak. Karena, pada televisi gambar-gambarnya bersifat moving, sedangkan media cetak bersifat statis. Menurut psikologi gambar yang moving dapat “tertanam” dalam benak kita dalam tempo lama sekali. Makin besar daya pikatnya atau rangsangan yang ditimbulkannya, makin dalam pula dampak yang ditimbulkannya. Artinya, kita akan sering teringat dan membayangkannya (Lesmana, 1997:139).

Banyak sistem pengaturan acara siaran televisi didasarkan atas asumsi-asumsi mengenai perkembangan psikologis, misalnya membatasi usia penonton 17 tahun ke atas atau semua umur. Di Amerika Serikat, sebelum film yang diwarnai tindakan kekerasan (pembunuhan atau seks) diputar pada saluran kabel, ada himbauan yang kira-kira berbunyi:”Kebijaksanaan orang tua untuk tidak memperkenankan anak-anaknya untuk menonton film ini sangat diharapkan”. Film-film yang hanya pantas dikonsumsi orang dewasa diputar lewat tengah malam, ketika anak-anak sudah tidur.

Dengan tidak bermaksud mengkhususkan pada tayangan kekerasan sinetron di Indonesia, saya ingin merujuk satu pernyataan Himmelweit dalam Television and Child(1985) menyatakan sebagai berikut:

Siaran televisi mengajari anak untuk mengenal kehidupan masyarakatnya dan masyarakat lain. Siaran televisi berfungsi sebagai wahana proses sosialisasi. Anak-anak diajari mengenal nilai-nilai luhur, tetapi mereka juga disuguhi nilai-nilai buruk.

Sebatas yang saya ketahui, dalam dunia ilmiah/akademis di Indonesia sampai saat ini belum memiliki kajian khusus yang mempelajari efek siaran televisi terhadap khalayak. Sementara ini yang baru muncul adalah masih sebatas hipotesis atau dugaan sementara mengenai ada-tidaknya, efek siaran televisi tersebut yang belum teruji melalui penelitian, jadi masih belum konklusif. Namun, sebagai anggota Komisi I DPR RI yang memang concern dengan bidang komunikasi dan informasi saya tidak ingin memperdebatkan masalah efek ini, karena yang ingin lebih saya soroti adalah persoalan bangsa ini berkenaan dengan habit nya dalam mengkonsumsi tayangan-tayangan sinetron dan praktik-praktik media yang cenderung permisif dalam membuat program-program yang tidak mendidik, bahkan merusak akhlak bangsa.

Sikap DPR RI dan Langkah Antisipatif

Tayangan sinetron yang marak saat ini menurut saya sudah jelas merupakan pelanggaran UU Penyiaran No.32 tahun 2002. Lebih ironisnya, televisi-televisi yang banyak melanggar UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, ternyata dikelola oleh orang-orang yang berlatar belakang ilmu komunikasi massa sehingga pasti paham benar bagaimana dampak tayangan TV (sinetron, hiburan) terhadap kalangan generasi muda. Pendapat ini bukan sekedar dari saya, tapi juga didukung oleh rekan-rekan saya yang sangat kritis dari Makassar Sulsel sebagai daerah konstituen saya.

Sebatas yang saya ketahui dari informasi terakhir kemarin sejumlah masyarakat yang tergabung dalam beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Makassar menilai secara acak bahwa stasiun televisi mana saja yang paling banyak melanggar Undang-undang (UU) Penyiaran. Televisi nasional yang dinilai paling banyak melanggar UU No, 32 itu ada dua, yakni Lativi dan Trans TV. Karena itu, kedua stasiun televisi tersebut sedang mendapat sorotan tajam dari kalangan pendidik dan tokoh masyarakat di daerah Sulsel dan dan saya mendukung jika masyarakat di sana menuntut adanya tindakan tegas yang diberikan kepada dua stasiun televisi itu.

Begitu pula beberapa rekan-rekan saya di DPR RI merasa prihatin terhadap adanya tayangan televisi bernuansa glamoritas, pembodohan publik, dan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu, atas nama Komisi I DPR RI, saya menghimbau bahwa masalah melindungi masyarakat dari dampak negatif tayangan sinetron dan program negatif televisi lainnya bukan hanya monopoli DPR RI saja, tetapi juga kalangan akademis, praktisi media, pemerintah, aktivis, para pendidik, para pengelola televisi, dan masyarakat secara luas. Dan yang lebih terkait adalah Lembaga Sensor Film (LSF) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Apalagi kalau diingat bahwa kita telah memiliki UU Penyiaran, yang di antaranya sangat melarang tayangan kekerasan maupun pencabulan (pasal 36 ayat (5)). Dalam UU tersebut juga sangat jelas disebutkan sanksi bagi media yang melanggar aturan tersebut. Sanksi yang diatur dalam UU Nomor 32 tahun 2002 itu adalah hukuman penjara maksimal lima tahun dan atau denda Rp. 1 milyar untuk radio, dan ancaman hukuman pidana penjara paling lama lima tahun dan atau denda Rp. 10 miliar untuk media televisi.

Walau begitu, hingga saat ini, kita belum mendengar atau melihat adanya media elektronik yang diberikan sanksi atau diproses secara hukum atas pelanggaran yang dilakukan berdasarkan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran itu. Haruskah kita mencari kambing hitam untuk masalah itu? atau bersikap saling menyalahkan?

Tentunya kita sangat berharap jika pengelola stasiun penyiaran televisi lebih baik dan mau mendengar serta memperhatikan berbagai “protes” atau penilaian yang muncul dari berbagai kalangan, dengan melakukan tindakan konkret ke arah yang lebih konstruktif dan positif. Misalnya, untuk mereduksi tayangan sinetron yang bersifat glamor, kekerasan, dan mistis atau adegan antisosial; melakukan restriksi atau pembatasan, baik terhadap isi (content) maupun akses penonton terhadap tayangan sinetron yang cenderung antisosial yang harus dilakukan melalui regulasi dan sensor atau self sensorhip yang kuat dari pihak stasiun televisi. Sementara, masalah akses harus dilakukan dengan menentukan batas usia menonton tayangan sinetron; lebih baik lagi bila tayangan seputar informasi dan edukasi atau tayangan-tayangan yang dapat meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual (ESQ) prosentasenya diperbanyak, sehingga masyarakat tidak hanya dijejali dengan tayangan mimpi-mimpi, atau tayangan semu; dan mencoba mengembangkan sikap kritis di berbagai kalangan melalui pendidikan media literacy (melek media) secara intens dan kontinyu. Namun, sebagai warga negara yang bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa, cara ini diharapkan dapat menjadi alternatif penyelesaian dan pemecahan masalah. Jadi, mari kita coba sekarang juga. Semoga (H.A.M.N).

2 thoughts on “GLAMORITAS, KEKERASAN, DAN MISTIK DALAM TIRANI SINETRON INDONESIA”

  1. saya setuju sekali dengan bapak.satu lagi pak tv membunuh imajinasi jika yg kita tonton itu hal yg tidak baik.trimakasih

  2. wuihhh, saya juga sangat setuju sekali dengan artikel ini.. saya pun mendambakan kapan Indonesia akan tampil dengan wjah baru yang lebih segar dengan tayangan – tayangan yang mendidik dan dapat dijadikan referensi seperti dalam halnya Film Laskar Pelangi contoh, meraih mimpi setinggi mungkin,, sinetron sekarang banyak yang hanya mencari keuntungan saja tanpa melihat moral value dan moral message-nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s