GLOBALISASI DAN SEMANGAT IMLEK

 Sekadar berbaagi sebelum perayaan  Imlek, tulisan inspiratis oleh “ Rene L Pattiradjawane dan Abun Sanda”  Imlek 2006.

Sejak masa reformasi Tahun Baru Imlek dijadikan sebagai hari raya nasional, dan tahun ini Imlek jatuh pada hari Minggu, 29 Januari 2006. Dibutuhkan waktu lama untuk membuktikan dan meyakini bahwa nilai kepercayaan, adat istiadat, maupun kebudayaan tidak bisa dibendung siapa pun, baik oleh rezim kekuasaan apalagi individu.

Jadi, sebenarnya sangat mengherankan apabila perilaku diskriminatif masih tetap menjadi bagian praktik pemerintahan, mulai dari perlunya surat kewarganegaraan bagi orang-orang Tionghoa untuk mengurus paspor atau kartu tanda penduduk (KTP) sampai praktik ¡¨lampu merah¡¨ dalam mengimpor barang-barang ke Indonesia, hanya karena pemiliknya keturunan Tionghoa yang kebanyakan pedagang atau pengusaha.

Nuansa Imlek sekarang ini mungkin berbeda dengan sebelumnya. Tahun Baru China menjadi bagian penting dari proses globalisasi yang saat ini menjadi perdebatan, pembicaraan, serta memengaruhi kehidupan berbisnis dan bernegara. Kemajuan RRC yang sangat pesat telah mengubah semua aktivitas kita yang tidak lagi bisa menghindar dari pertumbuhan China yang sangat pesat.

Boleh dibilang, tak ada produk atau barang yang kita gunakan di sekeliling kita yang bukan buatan China, mulai dari odol, sabun mandi, sampai perangkat stereo. Dan pada saat perayaan Imlek (yang juga dirayakan di seluruh bagian dunia), seminggu sebelum dan sesudahnya seluruh aktivitas bisnis dan perdagangan yang berkaitan dengan China terhenti.

Emily dan Alfredo Hui dari PT Astrindo Senayasa dalam percakapan dengan Kompas beberapa waktu lalu mengatakan, tidak bisa dihindari bahwa kehidupan sehari-hari di bawah bayang-bayang globalisasi tidak akan terlepas kaitannya dengan China.

Bagi Emily dan Alfredo yang bergelut pada distribusi teknologi informasi dengan pabrik manufaktur di daratan China, selama 7-10 hari (dalam rangka Imlek) praktis tidak ada kegiatan bisnis yang bisa dilakukan. ¡¨China dan globalisasi menjadi sangat dahsyat dan bisa dibayangkan berapa miliar dollar AS bisnis yang terhenti selama perayaan Imlek ini,¡¨ kata Alfredo.

 

Kesempatan dan bahaya

 

Begitu besarnya pengaruh China di era globalisasi sekarang ini, kita pun berpikir ulang apakah diskriminasi masih relevan hanya atas nama persaingan ekonomi dan bisnis maupun kecemburuan sosial? Globalisasi adalah masalah risiko dan peluang. Mereka yang berani mengambil risiko dan peluang yang akan menikmatinya, sesuai dengan ungkapan kata risiko (fengxian) dalam aksara China memiliki karakter yang artinya kesempatan dan juga karakter yang artinya bahaya.

Menurut Franciscus Welirang (54), Direktur PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills, di era globalisasi sekarang ini asal-usul seseorang menjadi tidak penting sejauh ada nilai-nilai kerja yang disepakati dalam kelompok-kelompok yang saling berhubungan.

Pemikiran ini tercermin pada generasi pertama usahawan keturunan Tionghoa di Indonesia yang berkomunikasi dengan publik maupun keluarganya melalui bahasa kerja. Generasi ini menekankan kualitas kerja. Mereka tidak suka panggung dan lebih memilih bermain di belakang layar.

Eka Tjipta Widjaja (85) dalam beberapa kesempatan kepada Kompas, misalnya, menyatakan, usahawan berkomunikasi dengan publik melalui hasil kerja nyata. Misalnya, menghasilkan produk unggulan yang mengharumkan nama bangsa dan membuka lapangan kerja.

Usahawan lain yang menunjukkan spirit hebat adalah Sudono Salim. Pria santun yang tahun ini memasuki usia 91 tahun itu mempunyai elan yang sukar diukur dalamnya. Kendati kondisi kesehatannya kini jauh dari prima, Oom Liem, begitu ia sering disapa, masih suka melakukan aktivitas layaknya orang sehat.

Pada banyak kesempatan Sudono Salim suka menitip pesan, jangan mencari musuh dan carilah kawan sebanyak mungkin. ¡¨Ada yang disebut barang bekas, tetapi tidak ada bekas teman,¡¨ katanya. Jadi, sambungnya, berkawanlah. Jangan konflik. Kalau Anda sabar dan tabah, kelak Anda akan tahu manfaatnya.

Dalam merayakan Imlek yang jatuh pada Tahun Anjing sekarang ini menjadi tidak penting lagi apakah kita seorang Tionghoa atau bukan. Thamura, pembuat barongsai dari Persaudaraan Gie Say di Vihara Widhi Sakti Sukabumi, mengatakan, sekarang ini kebanyakan pribumi yang memainkan barongsai, yang rata-rata beratnya 4-6 kg. ¡¨Orang Tionghoa-nya sudah jarang yang mau memainkan barongsai karena memang latihannya berat,¡¨ ucap Ketua Gie Say Wan Gust Halim.

Trihatma Kusuma Haliman, Chief Executive Officer Grup Agung Podomoro, pun memiliki pandangan serupa dan mengatakan bahwa di era sekarang ini tidak lagi penting persoalan etnik ini. ¡¨Kita perlu melakukan blending,¡¨ kata Trihatma Kusuma Haliman, yang dengan bangga menceritakan bagaimana kepala finansialnya yang pribumi selalu ngotot membela dia.

 

Semangat dan etika

Globalisasi dan kemajuan RRC memberikan kita petunjuk perlunya kerja sama antaretnis secara lebih luas dan mendalam untuk bisa bersaing di panggung internasional yang semakin transparan. Orang-orang Tionghoa bukan lagi sapi perahan akibat sebuah sistem yang tercipta karena Perang Dingin dan persaingan ideologi.

Sekarang sistem itu tidak ada. Imlek dirayakan oleh orang- orang Tionghoa dan pribumi. Seperti dijelaskan Oom Liem mengenai peran dia setelah tidak lagi aktif berbisnis, tetapi memberikan semangat, mengajarkan filosofi usaha, serta etika. Dan kita perlu itu semua.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s