MENCARI SOSOK TIONGHOA INDONESIA

Ditulis oleh Stevanus Subagijo  dan dimuat di SUARA PEMBAHARUAN 2006.

TAHUN Baru Imlek 2557 berdasarkan kalender jatuh pada 29 Januari 2006 (Tahun Anjing Api). Sambutan luar biasa perayaan Tahun Baru Cina, Imlek atau Sin Cia – dengan salam Gong Xi Fat Cai marak di berbagai media dan mal. Berbagai asesoris seperti pakaian, kartu ucapan, amplop ang pao, lampion, kue keranjang, musik mandarin, sarana upacara ritual menjadi simbol eksistensi kalangan Tionghoa yang 30 tahun lebih mengalami represi budaya. Imlek menjadi puncak legitimasi dari pernik budaya seperti liong-barongsai, wayang potehi, media berbahasa mandarin, parpol Tionghoa sampai soal feng shui.

Apalagi Imlek oleh pemerintah sudah ditetapkan menjadi hari libur nasional. Namun ditengah kemeriahan Imlek, bagaimana dengan sosok Tionghoa Indonesia sendiri. Apakah sosok Tionghoa Indonesia juga mengalami kebaruan demi kebaruan dari waktu ke waktu ? Berikut kita coba cermati sosok Tionghoa yang berbeda dari analisa akademis.

Periode Mei Lan-Ahong

Sosok Tionghoa Indonesia pertama sangat kuat dicitrakan dengan tokoh Mei Lan dalam film boneka si Unyil, Ahong dalam sinetron Si Doel Anak Betawi atau dalam aktor lawak yang memerankan seorang Tionghoa. Tionghoa dalam periode ini tetap menjadi seorang yang asing dalam budaya lokal yang melingkupi. Sesuatu yang asing dengan demikian mempunyai banyak perbedaan bahkan pertentangan. Tak heran selalu ada saja yang ditertawakan seperti logat bicara, kesulitan mengucapkan huruf r (cedal/celat). Tentu saja stereotip tentangnya juga ditonjolkan seperti kaya tapi kikir dan berorientasi pada keuntungan atau uang. Tionghoa seperti seorang perantau yang mampir dalam komu- nitas budaya lokal yang berbeda.

Dalam periode Mei Lan-Ahong ini tidak ada pilihan lain bagi Tionghoa kecuali berbaur dengan masyarakat yang melingkupinya. Tionghoa yang eksklusif akan dicitrakan buruk (biasanya digambarkan dengan tidak mau ikut ronda atau siskamling), sedangkan mereka yang inklusif dan mau berbaur dihargai. Tak heran pada periode ini dikalangan Tionghoa dikenal pameo, dudu cino nek durung njawani (belum menjadi China kalau belum bisa bersikap seperti orang Jawa).

Di Bandung pernah muncul istilah cina tapi nyunda (China tapi seperti orang Sunda). Upaya untuk membaur terutama juga disokong oleh kebijakan rezim Orba. Tak heran banyak Tionghoa dituntut juga mengganti nama tiga suku katanya dengan nama Indonesia. Namun identitas ketionghoaannya masih dipertahankan minimal bisa ditandai. Tionghoa marga Oey misalnya yang dilafalkan uwi/wi memakai nama Indonesia Wijaya, Wiyono. Lim menjadi Salim, Halim. The menjadi Tejo atau Teguh. Bahkan marga yang jarang didengar, seperti Ang menjadi Anggono.

Uniknya Mei Lan dan Ahong belum juga ganti nama pahadal rezim Orba mengharuskan itu. Mungkin karena mengurusnya sulit, lama dan ekonomi biaya tinggi. Upaya untuk mempertahankan ketionghoaan secara minim tetap tergerus oleh wacana pembauran yang sangat kuat dan menjadi satu-satunya model asimilasi Tionghoa yang dianggap ideal, dengan motif utama kekuatiran menjadi isu SARA. Namun justru dengan pola Mei Lan-Ahong ini, hubungan dengan masyarakat luas bak keramik China yang gampang retak dan pecah. Karena interaksi sosial tidak asli, direkayasa dengan topeng dan kebijakan rasial.

Periode Acong

Perkembangan sosok Tionghoa berikutnya diwarnai dengan hadirnya sosok Acong dalam ”blantika” ketionghoaan nasional. Acong yang berteman sejak kecil dengan Joko (Jawa) dan Sitorus (Batak) mencuat dalam ikan layanan masyarakat pasca kerusuhan Mei 1998. Joko kalau tak salah menjadi dokter, Sitorus menjadi pengacara dan Acong menjadi pengusaha dan terus berteman hingga dewasa. Periode tiga sahabat karib berbeda etnis ini menjadi tonggak baru dalam memandang sosok Tionghoa.

Yakni sejak kecil Tionghoa sudah dan tetap diakui sebagai Tionghoa. Tanpa harus risih atau ewuh pakewuh dengan ketionghoaannya yang sudah takdir. Demikian juga dengan Joko dan Sitorus, melihat ketionghoaan Acong sebagai bawaan dari sananya dan kultur Joko dan Sitorus yang merupakan kultur dominan melingkupi kehidupan Acong juga tidak mempersoalkan perbedaan itu, tetapi menjadikannya sebagai elemen kultural baru yang memperkaya.

Pastilah dalam pergaulan ketiganya gesekan kultural bisa terjadi, karena memang masing-masing berangkat dari kultur yang berbeda. Namun justru dengan persentuhan dan interaksi yang apa adanya, mereka bisa saling mengerti keberadaannya masing-masing dan tetap membuka upaya untuk menjalin hal-hal yang sama dan bukan sebaliknya mempertentangkan hal-hal yang berbeda.

Periode Gie

Periode sosok Tionghoa berikutnya ialah periode Gie (Soe Hok Gie) yang berkarakter kuat apalagi setelah muncul film tentangnya yakni Gie. Soe Hok Gie sendiri sebetulnya hadir sebagai Tionghoa yang nyata. Ini berbeda dengan Mei Lan, Ahong atau Acong yang merupakan tokoh fiktif dan hanya ada di film, sinetron dan iklan. Gie sungguh-sungguh ada dan itupun terjadi beberapa puluh tahun lalu ketika ketionghoaan sebetulnya masih menjadi problem kesatuan bangsa. Namun Gie menampilkan sosok Tionghoa yang justru sangat ideal, terlebih kini.

Buat Gie, ketionghoaan tampaknya sudah selesai, dan yang diperlukan ialah apa yang akan dilakukan oleh seorang Gie bagi bangsanya. Interaksi sosialnya tidak harus distigmakan oleh kecinaannya tapi oleh prinsip-prinsip kebenaran yang diyakini Gie. Herannya saat itu sosok Gie mungkin masih dipandang hanya sebagai seorang aktivis mahasiswa keturunan dan bukan sebagai sosok Tionghoa masa depan. Kini Gie menjadi kiblat banyak Tionghoa terdidik, mereka mbuh ora weruh dengan ketionghoaannya, yang lebih dipedulikan ialah berprestasi bagi bangsanya. Dari menjadi juara bulu tangkis sampai menjadi juara olimpiade fisika, yang tak peduli apakah punya Surat Bukti Kewarganega- raan Republik Indonesia (SBKRI) atau tidak. Prestasi apa saja sebagai karya yang bisa diterima dan bermanfaat bagi banyak orang menjadi tujuan sosok Tionghoa baru. Orang tidak akan melihat ketionghoaannya, tetapi pada manfaat apa yang bisa ia berikan.

Seloroh Babah

Dari itu semua, tidak ada sosok Tionghoa yang paling ideal. Tidak juga bisa dikatakan bahwa Tionghoa kini sudah mencapai periode Gie, karena Tionghoa di daerah tertentu dengan Tionghoa dari daerah lain, mempunyai perkembangan yang berbeda-beda. Ini tergantung dari interaksi dengan budaya lokalnya entah itu Jawa, Sunda, Batak dst. Namun melihat perkembangan sosok Tionghoa yang makin beragam muncul optimisme melihat masalah ketionghoaan akan berakhir dengan banyaknya pilihan menjadi Tionghoa.

Guyon Babah (Tionghoa peranakan ) di Jawa mengatakan lung guan swe, tan po guan yang dalam pengucapan lisannya beraksen Tionghoa tetapi sebenarnya penuh muatan bahasa Jawa. Kalimat itu mempunyai kepanjangan lungguhan wis suwe ora nompo (tanpo) suguhan, yang artinya “duduk-duduk sudah lama, tapi tidak menerima hidangan”. Hubungan Tionghoa dengan masyarakat budaya lokal yang melingkupi seperti guyon diatas adalah “duduk-duduk” bersama yang sudah sangat lama. Namun masih belum ada hidangan yang keluar.

Hidangan disini mempunyai makna prestasi atau kebaikan apa saja yang bisa diberikan oleh Tionghoa, juga anak-anak bangsa lainnya Joko, Sitorus, Asep yang bisa dinikmati bersama-sama. Sekarang saatnya “hidangan yang enak-enak” itu dikeluarkan, ditengah makanan basi seperti korupsi, pornografi, formalin, harga naik atau bencana alam. Angpao sosial Imlek ialah mengambil langkah pertama untuk memperbaiki apa saja yang bisa diperbaiki di bangsa ini, tak peduli dia itu masih Mei Lan, Ahong, Acong atau sudah Hok Gie. Selamat Imlek. *

Penulis adalah peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s