Kawah Ijen, Keindahan dibalik Bahaya


Tanggal 3 -5 januari 2013 saya mengunjungi kawah Ijen yang letaknya diperbatasan Banyuwangi -Bondowoso. Ini kali kedua saya tempat ini, namun tetap saja buat saya penasaran. Kali ini saya memilih rute perjalanan dari Banyuwangi. Ada dua rute ke Kawah Ijen yakni rute Bondowoso dan Banyuwangi. Kedua-duanya bisa dilewati kendaraan umum dari arah Probolinggo atau Surabaya.

Rute Banyuwangi  bisa dimuali di terminal Karangentek  dengan menggunakan kendaraan carter ke kecamatan Licin. Dari Pasar Licin, perjalanan dilanjutkan dengan mengunakan ojek sejauh 12 km menuju Pos Paltuding tepat dikaki Gunung Ijen. Pos Paltuding merupakan pos Dep. Kehutanan yang dilengkapi fasilitas Resort dan Campng Ground. Pos ini merupakan shelter utama sebelum mendaki ke kawah Ijen dan tempat penumpukan belerang.

Walaupun berstatus Siaga, saat itu pendakian dan penambangan belerang di Kawah ijen  masih diijinkan. ” Resiko ditanggung sendiri ” begitu kata petugas penjaganya. Walaupun beresiko, pengunjung kawah ijen tetap berjubel. Pengunjung mancanegara banyaknya tidak kalah dari pengunjung domestik. Ketika disana, kurang lebih ada 500 orang yang mendaftar masuk. Namun tidak semua mereka turun kedasar kawah karena takut akan resiko terpapar belerang dan runtuhan batu.

Kawah Ijen sudah terohor seantero jagad, terakhir sebuah film dokumeter berjudul SAMSARA memasukan Kawah ijen sebagai satu tempat dibumi yang luarbisa berpengaruh pada kehidupan. Tempat ini bukan saja tempat wisata tapi tempat masyarakat sekitar menggantungkan hidup sebagai penambang belerang.  Para penambang  disini sudah lintas generasi menggantungkan hidupnya dari belerang. Continue reading Kawah Ijen, Keindahan dibalik Bahaya

PETISI UNTUK M.NUH-MENDIKNAS RI


thSetelah RSBI tidak diakui lagi, DEPDIKNAS seharusnya melakukan evaluasi terhadap kehadiran Lembaga Bimbingan Belajar-BIMBEL. Karena mayoritas anak sekolah sekarang, setelah pulang sekolah mengikuti bimbel di lembaga-lembaga tersebut. Kecurigaan terbesar adalah sekolah formal tidak sesuai lagi dengan ekspektasi anak dan ortu sehingga belajar tambahan. Artinya sekolah gagal meningkatkan mutu pandidikan dan pendidik. Bila sekolah klaim keberhasilan UNAS, seharusnya mereka malu karena sesungguhnya itu keberhasilan lembaga BIMBEL.

Jadi Pak M.Nuh, jalan keluarnya bukanlah perubahan kurikulum. Tapi penataan sistem dan sub sistem pendidikan seperti pendidikan keguruan, rekrutmen guru dan pelatihan/upgrading  guru (minimal 100 jam/tahun). Bila gurunya sudah baik, maka anak didik pasti mendapatkan yang terbaik. Coba lihat saja, proses rekrutmen guru didaerah-daerah yang sama sekali tidak menempatkan kompetensi dan kualifikasi pada prioritas utama. Yang diutamakan adalah terpenuhinya kuota pegawai daerah. Ini sangat naif karena  guru itu bukan pekerjaan administrtif yang bisa dijalankan siapa saja, tetapi membutuhkan kemampuan tertentu.

Keberadaan FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) sepantasnya diperhatikan. Mengingat merekalah tulangpunggu pencetak guru profesional. Bila faktor hulu tidak diperhatikan maka output pendidikpun mustahil jadi baik. Poinnya adalah kurikulumnya mau berubah seperti apapun pasti jalan, bila guru siap sepenuhnya. Bila Guru dari rekrutmen hingga pensiun tidak dipersiapkan maka perubahan kurikulum itu tidak bermakna apa-apa. Continue reading PETISI UNTUK M.NUH-MENDIKNAS RI