BEBASKAN WILFRIDA SOIK

Image

Kepada, DR. H. SUSILO BAMBANG. YUDHOYONO, Presiden Republik Indonesia
DR. R.M. Marty M. Natalegawa, Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia

Dalam pembukaan UUD 1945 tujuan NKRI adalah “MELINDUNGI SEGENAP BANGSA INDONESIA DAN SELURUH TUMPAH DARAH INDONESIA DAN MEMAJUKAN KESEJAHTERAHAAN UMUM”. WILFRIDA SOIK, satu dari banyak orang Indonesia yang belum tersentuh kesejahteraan dan bahkan perlindungan di negara tempat dia dilahirkan. Mereka dengan terpaksa, merantau ke Malaysia dengan harapan mencapai kesejahteraan selepas merantau. Apa daya, bukan kesejahteraan yang didapat malah penyiksaan yang berujung hukuman gantung. Kejadian seperti ini terus berlangsung dan seakan tak berpangkal. Ini lantaran inti masalah yaitu pemerataan kemakmuran dan kesejahteraan belum terjawab.

Wilfrida tidak sendiri, menurut data Kementerian Luar Negeri per- tanggal, 29 Agustus 2013, disebutkan bahwa ada 185 WNI yang terancam hukuman mati di Malaysia. Kemudian di Arab Saudi ada 36 orang. Mayoritas dari kesemuanya adalah tenaga kerja wanita. Lantas apakah kita masih bisa lantang menyebutkan Indonesia bila banyak anak bangsa dicambuk, dirajam bahkan digantung oleh negara lain. Wilfrida diganjar hukum gantung setelah membunuh majikannya. Latarbelakang pembunuhan ini nyaris sama dengan kasus–kasus sebelumnya yaitu karena sering diperlakuan kasar oleh majikan. Pembunuhan tentu tidak dibenarkan, namun motif terjadinya harus dicermati. Lagipula pemberlakuan hukuman mati atau gantung sungguh tidak mencerminkan peradaban manusia masa kini.

Yang perlu disadari bersama adalah mereka yang dicambuk, dirajam, dipenjara dan digantung di Malaysia dan Arab Saudi merupakan cerminan wajah negara dan bangsa Indonesia. Mereka tidak sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya karena mulut mereka dipukuli dan disumpal majikannya. Masihkah kita berani menyanyikan Indonesia Raya dengan megah di Istana Negara, disaat saudara kita menjerit kesakitan saja tak sempat. Saya tidak melihat perbuatan mereka semata, ilegal atau legalnya mereka, tapi mengajak kita untuk merasakan sebagai sesama anak bangsa. Anak bangsa Indonesia yang berhak hidup sejahtera bukan mati tanpa perlawanan di tiang gantung di negara orang. Mereka, Wilfrida dan kawan-kawannya berhak hidup. Sekali lagi, hidup dan kembali ke Indonesia dan diperlakukan adil oleh pemerintah.

Oleh sebab itu sudah sepantasnya kita meminta dengan tegas kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Menakertrans. Muhaimin Iskandar, Menteri Luar Negeri. Marty M. Natalegawa, Duta Besar NKRI Malaysia dan Arab Saudi untuk menggunakan berbagai cara dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada untuk membawa mereka kembali dalam keadaan hidup ke Indonesia. Kepada Pemerintah Malaysia dan Arab Saudi, ada pesan khusus bahwa tindakan rakyatnya yang acap sewenang-wenang kepada pekerja Indonesia sungguh tidak dapat ditoleransi dan menyakiti perasaan. Pemerintah harus berhenti berkata ‘prihatin”, pemerintah harus bertindak. Karena “ prihatin”, itu sama halnya dengan “malas” bertindak.

( Oleh :Andre Yuris)

BEBASKAN WILFRIDA SOIK DAN TKI INDONESIA DI MALAYSIA DAN ARAB SAUDI DARI HUKUM GANTUNG, KEMBALIKAN MEREKA KE INDONESIA DENGAN SELAMAT.

Tanda tangan pentisi ini di : https://www.change.org/id/petisi/bebaskan-wilfrida-soik-tki-yang-terancam-hukum-gantung-di-malaysia#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s