Komunisme

communism

“KOMUNISME akan bertumbuh jika ketidakadilan dan jurang antara yang kaya dan miskin melebar”. Betapa sulit menemukan pernyataan yang sebodoh dan sekaligus sepopuler ucapan itu. Belakangan ucapan sejenis itu merebak kembali.

Oleh :  Ariel Heryanto*

Ini gara-gara keputusan Mahkamah Konstitusi mencabut larangan bagi mereka yang pernah diharamkan Orde Baru untuk menjadi calon legislatif. Sebagian orang mendukung keputusan Mahkamah dengan alasan komunis sudah bukan lagi ancaman bagi Indonesia, lalu meluncur ucapan konyol yang dikutip di atas.

Ketidakadilan sudah dan sedang bertumbuh di mana-mana dan di sepanjang sejarah umat manusia, tetapi komunisme tidak bertumbuh di segala abad. Komunisme merupakan gejala sejarah modern sekitar seratus tahun terakhir. Jurang kaya-miskin hadir di sepanjang sejarah umat manusia.

Kesenjangan ekonomi semakin menjadi-jadi belakangan ini di tingkat dunia maupun bagianbagian kecilnya. Tetapi, yang kini merebak hebat bukan komunisme, malah kekuatan sosial yang pernah menjadi musuh komunisme, yakni fanatisme agama, liberalisme, dan kapitalisme/imperialisme.

ORDE Baru sudah bangkrut. Tetapi, dosa pembodohan massal yang pernah dilancarkan olehnya masih terasa dampaknya di mana-mana. Logika itu berbunyi: “Komunisme akan bertumbuh jika ketidakadilan dan jurang antara yang kaya dan miskin melebar”.

Di satu pihak dan selintas lalu ucapan itu seperti datang dari pengagum komunisme yang sedang berharap akan datangnya dewa penyelamat atau pejuang keadilan. Kalau saja ucapan itu ada benarnya, komunisme mungkin telah merajalela secara global. Kalau logika itu ada benarnya, seharusnya komunisme sudah lebih marak di Amerika Serikat ketimbang di Tiongkok atau Vietnam di mana pemerataan lebih bagus.

Di pihak lain, ucapan yang sama mengandung makna sebaliknya. Seakan-akan ucapan itu propaganda kapitalisme. Karena komunisme terbukti tidak bertumbuh di Amerika Serikat dan negeri-negeri sekutunya seperti Indonesia, seakan-akan sudah “terbukti” di negeri-negeri ini ada keadilan dan pemerataan kemakmuran. Bah!

Mungkin saja yang terjadi bukan keduanya. Bukan propaganda komunisme atau liberalisme kapitalis. Jangan-jangan ini hanya sekadar dampak sampingan dari pembodohan massal selama 30 tahun lebih oleh lembaga negara Orde Baru semacam Departemen Pendidikan & Kebudayaan atau Departemen Penerangan.

Bukan hanya skala korupsi besar-besaran yang menjadikan Indonesia salah satu keajaiban dunia. Kita ditertawakan keras-keras oleh bangsa asing yang terpana menyaksikan logika dalam komunikasi publik. Selain soal bom teroris, kacaunya persiapan pemilihan umum, atau demam berdarah, parahnya kondisi pendidikan di Indonesia juga menjadi keprihatinan internasional.

Kebetulan belakangan ini para orangtua di Indonesia pusing memikirkan sekolah untuk anak-anak mereka. Pusat perhatian mereka bukan pada pemilihan umum dan daftar calon anggota legislatif, tetapi pemilihan sekolah dan daftar biaya yang harus dibayar.

Bukan biaya pendidikan yang paling merisaukan. Malapetaka lebih besar bagi Indonesia terletak pada isi dan kualitas pendidikan, khususnya di bidang kemasyarakatan dan budaya. Apa yang didapatkan anak didik selama belajar? Apa yang telah disiapkan oleh sistem pendidikan nasional bagi generasi muda Indonesia untuk menghadapi persaingan yang semakin tajam dan semakin mengglobal dengan rekan-rekan segenerasi dari India, Tiongkok, Filipina, Singapura, atau Malaysia?

Salah satu petunjuk kecil tentang rawannya kualitas pendidikan di Tanah Air berwujud takhayul yang menghambat pengajaran tentang Marxisme di universitas. Dari sedikit yang ada, biasanya ditampilkan propaganda anti-Marxisme sesuai ideologi Orde Baru. Kalau pendidikan nasional mewajibkan pengajaran agama diajarkan oleh penganut agama yang sama, marxisme hampir selalu diajarkan dengan prosedur dan “hukum” yang sebaliknya. Tampaknya tidak ada yang merasa risi karena kontradiksi ini.

Bagi yang belum paham, ada baiknya diingatkan bahwa kajian tentang Marxisme atau Komunisme secara ilmiah di universitas tidak melanggar hukum, bahkan pada zaman Orde Baru. Larangan Orde Baru-yang diteruskan mereka yang masih keblinger ideologi Orde Baru-terhadap penyebaran ajaran Marxisme hanya berlaku di luar pendidikan di universitas.

DALAM abad ke-20, lebih dari separuh umat manusia hidup di bawah rezim yang membajak Marxisme sebagai dasar ideologi negara. Mempelajari masyarakat abad ke-20 tanpa mempelajari Marxisme ibarat belajar ilmu komputer tanpa belajar bahasa Inggris atau elektronika. Indonesia pernah menjadi Tanah Air partai komunis terbesar di dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Mempelajari seluk-beluk Indonesia tanpa memahami ideologi partai besar ini ibarat membicarakan Orde Baru tanpa membahas militerisme atau korupsi.

Marxisme sendiri telah mengalami krisis serius dan dikritik banyak pihak, termasuk para bekas tokohnya. Tetapi, dari krisis dan kritik ini telah bertumbuh aneka pergulatan intelektual cerdas dan trendy. Ironisnya, pergulatan ini terjadi bukan di negara-negara komunis yang represif, tetapi di negeri liberal kapitalistik, seperti Amerika Utara, Eropa Barat, Australia, Jepang, dan India.

Generasi muda Indonesia berhak mendapat kesempatan mempelajari dinamika intelektual itu. Apalagi setelah mereka dibebani biaya pendidikan maha-berat. Tetapi, hak dan kesempatan belajar itu telah dihambat, bukan oleh orang-orang jahat yang anti-Marxisme. Larangan itu sering kali datang dari mereka yang tidak paham apa itu Marxisme karena tidak pernah dididik tentangnya ketika bersekolah. Berbeda dari para pendiri bangsa ini yang bersekolah pada zaman kolonial Belanda. Maka, jangan heran sejarah nasional juga sering bengkok atau gelap pada bagian kisah tentang para tokoh gerakan nasionalis ini. (*)

*Professor di The Australian National University dan Visiting Scholar di The Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).  

** Diunduh dari : https://arielheryanto.files.wordpress.com/2016/02/2004_03_07_k-au-komunisme-c1.pdf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s