Preman Bela Negara*


FB_IMG_1466146459894
Peserta Bela Negara. Foto: Istimewa
Oleh Made Supriatma

Kali ini saya balik ke tempat saya dilahirkan, Bali. Saya mencoba untuk melihat politik nasional bela negara dalam konteks lokal dan demikian pula sebaliknya.

Untuk saya, pemberian pelatihan bela negara kepada para preman adalah imajinasi paling buruk yang bisa saya bayangkan. Bayangkan. Kelompok-kelompok preman (yang diberi nama halus: ormas) ini kelahi terus. Setiap berantem ada saja yang luka atau mati; kerusakan disana-sini, dan masyarakat yang terteror. Polisi, militer, politisi, tidak bikin apa-apa. Karena apa? Karena kelompok-kelompok preman ini sekutu mereka. Bahkan mereka yang bikin dan bahkan mereka yang dipakai mendudukkan mereka ke kekuasaan.

Memberikan mereka ketrampilan militer justru akan menambah runyam masalah. Mereka semakin jago berantem bukan? Bagaimana kalau mereka menguasai teknik pengintaian ala militer, bikin struktur komando ala militer, dll. Saya tidak tahu apakah militer Indonesia pernah belajar dari drug cartels (kartel-kartel obat bius) di Latin Amerika yang sangat sulit diperangi oleh militer di negaranya masing-masing. Apakah mereka sadar konsekuensinya?

Selain itu, ide bela negara ini sungguh kacau. Dikatakan. orang dilatih bela negara supaya cinta tanah air. Yang bener? Apakah latihan baris-berbaris, dengerin ceramah sejarah perjuangan (militer) yang diulang-ulang macam iPod rusak, latihan menembak dua jam … akan membikin Sodara cinta tanah air?

“Nasionalisme adalah soal bagaimana merasa sebagai saudara dalam satu bangsa. Uniknya, dalam banyak hal, perasaan sebagai satu bangsa itu selalu ditunjukkan dengan solidaritas kepada yang paling lemah dan yang minoritas.”
Tidakkah Sodara sadar bahwa rasa persaudaraan Sodara bangkit ketika melihat anak-anak miskin ke sekolah terpaksa harus menyeberang sungai yang dalam? Tidakkah Sodara merasa tergerak ketika melihat sesama warga negara yang hidup teramat miskin? Sodara tentu ingin agar mereka yang miskin ini bisa seperti Sodara, makan tiga kali sehari, punya pakaian yang layak, punya tempat berteduh.

Bukankah Sodara ikut bangga ketika pemain bulutangkis kita juara dalam satu turnamen? Pikiran Sodara tidak pada $75 ribu hadiah yang dia terima (jumlah yang fantastis bukan?). Namun, Sodara langsung bergembira karena yang juara adalah ‘sodara’ sebangsa saya?

Mengapa militer tidak pernah berpikir meluas seperti itu? Saya kira karena mereka merasa bahwa merekalah bangsa Indonesia ini. Mereka mau menjadi tolok ukur bagaimana mencintai bangsa yang baik dan benar. Di luar itu … tidak ada yang cinta Indonesia. Pikiran yang sangat sektarian seperti itu persis menghidupi masyarakat kita. Seperti misalnya, hanya Islam versi saya (bisa diganti dengan agama lain) yang paling baik dan benar. Diluar itu salah semua …
Untuk kasus di Bali, saya mencoba melihat betapa berbahayanya memberikan pelatihan bela negara kepada para preman. Dia akan merusak tenunan sosial dalam masyarakat yang sudah sangat rentan terhadap konflik ini.

Preman Bela Negara

Kuasa Puasa*


Screenshot_2016-06-11-00-56-55_1465581487550
Screenshoot : Video razia warung, Sumber Kompas TV.

 

Entah apa yg ada di otak PolPP dan Bupatinya saat menindak si Emak. Dari video terlihat ekspresi, tertekan, panik dan takut. Bukan saja takut dan panik karena diserbu gerombolan “penegak perda”, dia was-was karena jualannya disita. Entah nanti dia buka puasa pake apa, yang jelas Emak tekor hari ini.
Si Emak sudah jelas rugi dalam hitungan bisnis. Sebagai pedagang kecil, tentu dia akan memutar otak dan tenaga lebih untuk menutupi kerugian hari ini. Dan mungkin akan mengurangi tabungan, itu kalau dia punya. Kalaupun tidak, jatah hari rayanya berkurang.
Dua hal yang pasti, kerugian si Emak di satu sisi dan kesenangan aparat yang merasa melayani orang yg sedang berpuasa disisi lain. Si Bupati akan memuji, Satpol PP sudah menegakan Perda dengan merampas dagangan si Emak. Dan Si Emak akan bersungut-sungut dan mungkin juga menangis seharian.
Saya tidak bisa menerka pikiran teman-teman yang lagi ibadah puasa melihat video ini. Juga tidak membayangkan reaksinya. Entah iba dengan si Emak atau menyanjung PolPP yang telah menyingkirkan godaan. Tentu sebagai manusia pasti memiliki timbangan masing-masing.
Yang pasti ini realitas yang melibatkan pemeluk agama. Dan tentu banyak kejadian lain yang mirip, juga melibatkan penganut agama lainnya di Indonesia. Dimana atas nama agama, pemerintah menyingkirkan dan merampas dari yang lain. Seolah, agama merestui penyingkiran dan penindasan atas manusia lain yang lemah dan tak sanggup melawan.
Apakah pemerintah bersalah? Bisa jadi pemerintah hanya mau melayani agama-agama. Dan Apakah penyingkiran dan penindasan di “ia”kan oleh agama? Tentu akan banyak argumen penyangkalan.
Walaupun dalam ajaran agama yang pernah saya baca, tentu tindakan seperti diatas sangat tidak “agamawi” (tentu saya tidak memilik otoritas membenarkan / menyalahkan). Saya lebih cendrung mengatakan tindakan diatas tidak manusiawi. Walaupun toh, bisa saja saling dikaitkan antara yang agamawi dan manusiawi.
Perilaku tidak manusiawi ditambah tidak agamawi tentu menyangkal keadilan dan keadaban yg diperjuangkan agama-agama ( kalau tidak salah). “Dosa”, begitu kata agama bila penganutnya tidak adil dan beradab. Video diatas, sekilas memperlihatkan perilaku tidak adil dan melukai peradaban. paling tidak itu tanggapan pribadi saya. Perampasan disertai represi adalah tindakan dosa, paling tidak itu tanggapan pribadi saya.
Bila dosa itu disahkan, hanya agar kita terhindar dari dosa lain; kayaknya ada yang salah dengan pengamalan sila Pertama Pancasila “Ke Tuhanan yang maha esa. Karena pencapaian dan pengakuan terhadap Ketuhanan yang esa hanya mungkin bila ada manusia diperlakukan secara adil dan beradab.
Baik bila tindakan dan pikiran umat beragama mendorong terciptanya kemanusiaan yang adil dan beradab, sehingga klaim kita terhadap Ke- Tuhanan jadi lebih sahih.

Link videonya: https://m.facebook.com/story.php story_fbid=1174842112568019&id=177732508945656

* Andre Yuris/ Nera Academia Surabaya Tulisan menanti sahur, karena ikutan puasa.