PMKRI dicatut Anti PKI

Screenshot_2016-06-02-14-29-57
Belakangan gelagat kekhawatiran beberapa kelompok tentang comeback-nya PKI ramai diberitakan. Paling banyak menyita perhatian adalah pernyataan beberapa pensiunan TNI yang begitu yakin bahwa PKI bahkan sudah membentuk struktur organisasi di kota besar Indonesia. Walaupun kedengarannya serius, ada pula yang menyatakan kalau si purnawirawan tidak usah ditanggapi. “Biasa itu postpower sindrom” kata netcitizen  lainnya.

Gagal menjadi perhatian, para purnawirawan yang menyatakan diri sebagai penentang simposium 65 yang di gagas pemerintah melalui Menteri Koordinator Hukum dan HAM mengadakan simposium tandingan di Balai Kartini Jakarta.Tampaknya akan ada lomba simposium, begitu guyonan yang berkembang. Para penentang ini, mengklaim dukungan dari berbagai organisasi yang  sebagian besar Ormas keagamaan (seperti tampak di gambar spanduk acara).

Belakangan diberitakan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) menyatakan keberatan logonya dipasang di acara ini. Dikutip BBC Indonesia, Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PP PMKRI, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan Simposium Nasional ‘Mengamankan Pancasila Dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain’ menggunakan logo PMKRI pada spanduk tanpa ijin.

Panitia  mengklaim telah mengonfirmasi pemakaian. “Tapi belum ada konfiminta klarifikasi dan kami meminta pencopotan logo kami yang dicatut. Tapi, saat kami meminta hal itu, kami malah dibilang komunis oleh beberapa orang di acara tersebut. Kami jadi mempertanyakan, arah simposium ini,” ujar Juventus kepada BBC Indonesia.

Walaupun keberatan PP PMKRI terlihat meyakinkan, tentu diperlukan klarifikasi lanjutan. Perlu dijelaskan, bagaimana logo itu semerta-merta terpasang sangat meyakinkan pada barisan atas. Dalam logika iklan, logo baris pertama dan kedua menunjukan besaran kontribusi dan dukungan.

Tentu membutuhkan kesepakatan atau pembicaraan khusus sebelum placement logo. Bukan bermaksud mempersoalkan dukungan atau tidak, karena itu kebijakan organisasi. Atau ini jadi langkah nyata apa yang disebut oleh Ketua PP PMKRI “ Kami diundang beberapa elemen untuk mendiskusikan gerakan Jalan Lurus “ saat pelantikan DPC PMKRI Surabaya (14 Mei 2016)

Sekali lagi  soal ini membutuhkan penjelasan tambahan. Walaupun ada yang membacanya sebagai trend gerakan reaksioner sesaat. Ini diperkuat dengan hiruk pikuk di media  sosial dimana beberapa Organisasi Mahasiswa secara terang-terangan masuk poros kekhawatiran terhadap PKI gaya baru, begitu mereka menyebutnya. Penilaiannya cukup beragam, ada yang mencela dan ada pula yang mendukung. Sah saja, toh itulah demokrasi.

Netcitizen menanggapi satu diantara dinamikanya. Dimana ada dukungan agar organisasi mahasiswa sebaiknya memberikan nuansa intelektual dan akademis dalam menyikapi isu ini. Bukan hanya ikut arus. Bila perlu menjadi pendukung dan menggagas dialog sejarah yang intelektual di kampus-kampus. Biar tidak hanya terlibat dalam hujat menghujat, bubar membubarkan atau lebih parah lagi dukungan membabi-buta tanpa daya nalar khas mahasiswa.

*Andre Yuris-Nera Academia Surabaya.

** Ditulis  sambil menunggu penjual es-krim keliling lewat, nadanya putus asa karena kehausan di Mojorejo Blitar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s