Tag Archives: COMMUNICATION SCIENCE

JUMAT KERAMAT BUAT BAMBANG WIDJOJANTO*


Istilah “Jumat Keramat” selama ini lekat dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Para tersangka yang diperiksa di KPK selalu was-was apabila diperiksa pada hari Jumat. Para tersangka highprofile seperti pejabat negara dan politisi kerap ditahan dan langsung dijebloskan ke tahanan setelah sholat jumat. Para wartawan kemudian menyebut “Jumat Keramat” karena kebiasaan KPK ini.

Namun ada yang berbeda pada Jumat 23/01/2015, POLRI melalui Badan Reserse Kriminal (BARESKRIM) membuat kehebohan dengan menangkap dan memeriksa Bambang Widjojanto salah satu Komisioner KPK. Apakah BW akan ditahan pada Jumat Keramat?. Belum pasti karena masih berproses. Namun kehebohan ini justru bukan pada kasus yang menimpa BW, namun pada perang simbol dan tanda.

Perang simbol dan tanda yang terjadi antara KPK dan POLRI memang bukan hal baru. Dulu ada kasus Cicak Vs Buaya. Yang paling mengemuka akhir ini adalah ketika KPK menetapkan calon Kapolri Jendral Budi Gunawan. Penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK dianggap merendahkan lembaga negara. Walaupun ada yang membacanya sebagai murni penegakan hukum dan political game.

Penangkapan BW dibaca sebagai respon POLRI terhadap KPK. Walaupun ini memicu perdebatan, karena POLRI memiliki alasan hukum ketika menangkap BW. BW disangkakan secara tidak langsung memberikan keterangan palsu pada sidang Pilkada Kota Waringin di Mahkama Konstitusi tahun 2010. Dari sisi kewenangan hukum tentu Polisi berhak menangkap BW bila terbukti, sama halnya dengan KPK yang berwenang menetapkan BG sebagai tersangka walau belum ditahan.

Kedua kasus ini pun memunculkan kehebohan politik dan hukum. Kehebohan politik karena akan banyak pihak yang akan bermain dan mengambil alih panggung wacana politik. Kehebohan hukum karena seakan kedua lembaga ini saling berlomba dalam proses hukum, yang celakanya melibatkan tokoh penting didua lembaga ini. Jadilah seperti perang supermasi ego(sentris) di POLRI dan KPK.

Dalam kasus penangkapan BW, hal lain yang menarik adalah hari penagkapannya. Penangkapan BW di hari jumat, mau menunjukan bahwa JUMAT KERAMAT-nya KPK diambil alih oleh POLRI. POLRI mengirim pesan bahwa “JUMAT KERAMAT’ itu sebagai senjata makan tuan. Bila BW jadi di tahan pada hari ini maka, POLRI berhasil menggunkannya sebagai langkah balik untuk KPK.

*Andre Yuris/ Nera Academia Surabaya

TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN


Kekerasan yg tiap hari kita saksikan dilayar TV media lainya adalah percikan tanda-tanda jaman yang mengisyaratkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sedang sakit. Prilaku tidak beradab yang masif dan marak adalah tanda ketiadaan panutan publik. Tidak adanya panutan moral yang seharusnya lahir dari para pemimpin bangsa. Drama kekerasan simbolik dan realistik yang mereka pamerkan dimedia masa (khususnya televisi) menjadi picu kekersan fisik yang terjadi digrassroot. Kalau pemimpinnya hanya bilang prihatin, maka anak buahnya pasti kami juga prihatin, kalau pemuka-nya mengajarkan “kelompok tetertu adalah musuh dan sesat” maka tidak heran pengikutnya memburu dan membunuh” kelompok lainnya. Solusinya hanya senderhana ” bertindaklah sebaliknya”, maka semuanya pasti tidak terjadi.

Bila berkaca pada masa lalu, ada fase kekerasan yang dilalui bangsa indonesia. Sejak jaman kerajaan nusantara, penjajahan, prakemerdekaan hingga paska reformasi ada fenomena kekerasan. Yang membedakannya adalah alasan yang dilekatkan atas tindakan kekerasan tertentu. Alasan mempertahankan diri, kemerdekaan bahkan alat pelanggengan kekuasaan politik dan ekonomi seperti yang terjadi dari masa orde lama hingga orde baru. Pada masa sekarang khususnya pada pemerintahan SBY, modus tidakkan kekerasan baik yang dilakukan masyarakat maupun aparat menjadi sangat tidak terdefinisikan. Tidak terdefinisikan lataran lahir dari hal yang paling serius hingga paling sepele, yang ironisnya penyelesainya pun tidak jelas. Pada titik penyelesaian konflik akhir-akhir ini menjadi tidak jelas karena bias pemberitaan media dan proses hukum yang tidak jelas. Bila trend kekerasan terus berlangsung ini adalah dampak dari ketidakjeasan tersebut, lucunya dalam situasi ini pemerintah absen dari tugasnya jadi pendamai. Continue reading TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN