Tag Archives: Katolik

Catatan Foto Paskah di Surabaya


Hari sabtu 30 maret 2013 seluruh umat katolik di seluruh dunia merayakan Paskah. Begitu pula disemua gereja katolik di wialayah Indonesia. Ribuan umat mengikuti perayaan paskah dalam beragam situasi. Umat diperkotaan merayakan natal tentu dalam suasana perkotaan, sama halnya umat katolik dipedalaman dalam suasana yang khas pula. Mereka merayakan paskah yang sama, dengan lagu dan doa yang sama.

Begitu pula di Surabaya, umat paroki Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya merayakan Paskah. Walaupun harus berdesakan dan tidak mendapat tempat duduk mereka bersukacita dalam doanya.  Misa di Ketedral Keuskupan Surabaya dipimpin langsung oleh Uskup Surabaya Mgrs. Vincentius  Sutikno Wisaksono. Sebagai Kepal

a gereja lokal yang membawahi 33 paroki yang tersebar di wilayah Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, Uskup Surabaya memberikan berkatnya bagai semua umat dan masyarakat.

Dalam homilinya uskup menyatakan paskah sebagai tanda bagi manusia untuk berubah. Kematian dan Kebagkitan Yesus menjadi tanda bagi umat kristiani untuk beranjak dari habitus lama menuju habitus baru. Bila pada habitus lama banyak diwarnai oleh prilaku dan pikiran yang tidak sehat maka melalui paskah seharusnya semua digantikan dengan habitus terang yaitu habitus baru yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Itulah makanya paskh disimbolkan oleh lilin yang membawa terang agar terang, kebaikan dan kehangatan tidak hanya untuk diri sendiri tetapi dibagikan kepada orang lain.

TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN


Kekerasan yg tiap hari kita saksikan dilayar TV media lainya adalah percikan tanda-tanda jaman yang mengisyaratkan bahwa masyarakat kita sebenarnya sedang sakit. Prilaku tidak beradab yang masif dan marak adalah tanda ketiadaan panutan publik. Tidak adanya panutan moral yang seharusnya lahir dari para pemimpin bangsa. Drama kekerasan simbolik dan realistik yang mereka pamerkan dimedia masa (khususnya televisi) menjadi picu kekersan fisik yang terjadi digrassroot. Kalau pemimpinnya hanya bilang prihatin, maka anak buahnya pasti kami juga prihatin, kalau pemuka-nya mengajarkan “kelompok tetertu adalah musuh dan sesat” maka tidak heran pengikutnya memburu dan membunuh” kelompok lainnya. Solusinya hanya senderhana ” bertindaklah sebaliknya”, maka semuanya pasti tidak terjadi.

Bila berkaca pada masa lalu, ada fase kekerasan yang dilalui bangsa indonesia. Sejak jaman kerajaan nusantara, penjajahan, prakemerdekaan hingga paska reformasi ada fenomena kekerasan. Yang membedakannya adalah alasan yang dilekatkan atas tindakan kekerasan tertentu. Alasan mempertahankan diri, kemerdekaan bahkan alat pelanggengan kekuasaan politik dan ekonomi seperti yang terjadi dari masa orde lama hingga orde baru. Pada masa sekarang khususnya pada pemerintahan SBY, modus tidakkan kekerasan baik yang dilakukan masyarakat maupun aparat menjadi sangat tidak terdefinisikan. Tidak terdefinisikan lataran lahir dari hal yang paling serius hingga paling sepele, yang ironisnya penyelesainya pun tidak jelas. Pada titik penyelesaian konflik akhir-akhir ini menjadi tidak jelas karena bias pemberitaan media dan proses hukum yang tidak jelas. Bila trend kekerasan terus berlangsung ini adalah dampak dari ketidakjeasan tersebut, lucunya dalam situasi ini pemerintah absen dari tugasnya jadi pendamai. Continue reading TREND KEKERASAN : PEMERINTAH SBY ABSEN