Memoar Benedict Anderson


undangan-1

Poster Acara . Design : Nera Etnica , Gambar Ilustrasi R. Rajesh

Memoar Benedict Anderson adalah acara yang diselengarakan dalam rangka peringatan 1 tahun meninggalnya Ben Anderson. Ben meninggal pada 13 Desember 2015 dan dikebumikan Kota Batu, Kab Malang. Profesor dari Universitas Cornell, Amerika Serikat dikenal sebagai seorang Indonesianis yang selama hidupnya banyak menulis tentang sejarah, kebudayaan dan dinamika sosial politik Indonesia.
Ben Anderson telah menulis lebih dari 400 publikasi dan telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Bukunya juga banyak membahas mengenai perkembangan politik di Indonesia. Sebut saja Some Aspects of Indonesian Politics under the Japanese Occupation: 1944-1945; Mythology and the Tolerance of the Javanese; dan Violence and the State in Suharto’s Indonesia.

Pemikiran Ben Anderson jadi rujukan dalam karya-karya tentang kebangkitan nasionalisme di negara-negara berkembang. Dalam buku Imagined Communities, Anderson mengatakan bahwa bangsa adalah suatu komunitas yang terbayangkan. Teori ini kerap dipakai para pemikir dan pengamat dan akademisi saat ini.

Ikuti obrolan tentang pemikiran Ben dalam acara Memoar Benedict Anderson- Ben Indonesia, Ben Wayangan, Ben Gugat. Bersama pemantik diskusi : Dede Oetomo, Ph.D. Anas Hidayat, ST. MT. Khanis Suvianita, Ph. D.  Acara diselenggrakan : KAMPUS UNIVERSITAS KATOLIK DARMA CENDIKA (UKDC) SURABAYA ; Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.201 Klampis Ngasem, Surabaya. Tanggal : 15 Desember 2016. Pukul : 18.00-22.00 wib.

Informasi dan konfirmasi kehadiran : Pak Widri :0882-1762-4541,
Nera Academia (wa) : 0857 8524 3003, Facebook page : Nera Academia, email : yawidri@gmail.com

Acara ini diselenggrakan atas kerjasama : PK2P( Pusat Kajian Konstitusi dan Pancasila) Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Nera Academia, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, STKW Surabaya.

Tersedia : Kopi Manggarai*, Jajanan Pasar selama acara berlangsung.

Preman Bela Negara*


FB_IMG_1466146459894
Peserta Bela Negara. Foto: Istimewa
Oleh Made Supriatma

Kali ini saya balik ke tempat saya dilahirkan, Bali. Saya mencoba untuk melihat politik nasional bela negara dalam konteks lokal dan demikian pula sebaliknya.

Untuk saya, pemberian pelatihan bela negara kepada para preman adalah imajinasi paling buruk yang bisa saya bayangkan. Bayangkan. Kelompok-kelompok preman (yang diberi nama halus: ormas) ini kelahi terus. Setiap berantem ada saja yang luka atau mati; kerusakan disana-sini, dan masyarakat yang terteror. Polisi, militer, politisi, tidak bikin apa-apa. Karena apa? Karena kelompok-kelompok preman ini sekutu mereka. Bahkan mereka yang bikin dan bahkan mereka yang dipakai mendudukkan mereka ke kekuasaan.

Memberikan mereka ketrampilan militer justru akan menambah runyam masalah. Mereka semakin jago berantem bukan? Bagaimana kalau mereka menguasai teknik pengintaian ala militer, bikin struktur komando ala militer, dll. Saya tidak tahu apakah militer Indonesia pernah belajar dari drug cartels (kartel-kartel obat bius) di Latin Amerika yang sangat sulit diperangi oleh militer di negaranya masing-masing. Apakah mereka sadar konsekuensinya?

Selain itu, ide bela negara ini sungguh kacau. Dikatakan. orang dilatih bela negara supaya cinta tanah air. Yang bener? Apakah latihan baris-berbaris, dengerin ceramah sejarah perjuangan (militer) yang diulang-ulang macam iPod rusak, latihan menembak dua jam … akan membikin Sodara cinta tanah air?

“Nasionalisme adalah soal bagaimana merasa sebagai saudara dalam satu bangsa. Uniknya, dalam banyak hal, perasaan sebagai satu bangsa itu selalu ditunjukkan dengan solidaritas kepada yang paling lemah dan yang minoritas.”
Tidakkah Sodara sadar bahwa rasa persaudaraan Sodara bangkit ketika melihat anak-anak miskin ke sekolah terpaksa harus menyeberang sungai yang dalam? Tidakkah Sodara merasa tergerak ketika melihat sesama warga negara yang hidup teramat miskin? Sodara tentu ingin agar mereka yang miskin ini bisa seperti Sodara, makan tiga kali sehari, punya pakaian yang layak, punya tempat berteduh.

Bukankah Sodara ikut bangga ketika pemain bulutangkis kita juara dalam satu turnamen? Pikiran Sodara tidak pada $75 ribu hadiah yang dia terima (jumlah yang fantastis bukan?). Namun, Sodara langsung bergembira karena yang juara adalah ‘sodara’ sebangsa saya?

Mengapa militer tidak pernah berpikir meluas seperti itu? Saya kira karena mereka merasa bahwa merekalah bangsa Indonesia ini. Mereka mau menjadi tolok ukur bagaimana mencintai bangsa yang baik dan benar. Di luar itu … tidak ada yang cinta Indonesia. Pikiran yang sangat sektarian seperti itu persis menghidupi masyarakat kita. Seperti misalnya, hanya Islam versi saya (bisa diganti dengan agama lain) yang paling baik dan benar. Diluar itu salah semua …
Untuk kasus di Bali, saya mencoba melihat betapa berbahayanya memberikan pelatihan bela negara kepada para preman. Dia akan merusak tenunan sosial dalam masyarakat yang sudah sangat rentan terhadap konflik ini.

Preman Bela Negara

%d bloggers like this: